Tautan-tautan Akses

Perusahaan-Perusahaan Teknologi Lancarkan Perang terhadap Nyamuk Pembawa Penyakit


ARSIP – Nyamuk betina Aedes aegypti yang merupakan nyamuk yang membawa virus Zika (James Gathany/ Centers for Disease Control and Prevention via AP, Arsip)
ARSIP – Nyamuk betina Aedes aegypti yang merupakan nyamuk yang membawa virus Zika (James Gathany/ Centers for Disease Control and Prevention via AP, Arsip)

Perusahaan-perusahaan teknologi Amerika memperkenalkan otomatisasi dan robotika kepada tugas pemberantasan nyamuk yang telah berlangsung sepanjang zaman sebagai sebuah tawaran untuk menghentikan penyebaran virus Zika dan penyakit lainnya yang ditularkan nyamuk di seluruh dunia.

Perusahaan-perusahaan termasuk Microsoft dan perusahaan asal California yang berkecimpung dalam kegiatan yang bermanfaat bagi manusia, Verily, membentuk kemitraan dengan berbagai institusi kesehatan publik di beberapa negara bagian di AS untuk menguji beragam perangkat berteknologi tinggi.

Fumigasi di kawasan Chacabuco Park dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran nyamuk Aedes aegypti di Buenos Aires, Argentina.
Fumigasi di kawasan Chacabuco Park dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran nyamuk Aedes aegypti di Buenos Aires, Argentina.

Di Texas, Microsoft menguji perangkap nyamuk cerdas untuk mengisolasi dan menangkap nyamuk Aedes aegypti, yang dikenal sebagai pembawa virus Zika, untuk keperluan studi oleh ahli serangga untuk memberikan mereka lompatan dalam memprediksi wabah.

Verily, salah satu divisi Alphabet yang mempelajari ilmu yang bermanfaat bagi umat manusia yang berpusat di Mountain View, California, berusaha untuk mempercepat proses untuk mengembangbiakkan nyamuk jantan yang mandul untuk kawin dengan nyamuk betina di alam liar, sebagai pembatasan pengembang biakkan spesies tersebut.

Meskipun butuh bertahun-tahun hingga semua kemajuan yang dicapai tersedia secara luas, namun para pakar kesehatan publik mengatakan para pemain baru ini membawa pemikiran segar untuk mengendalikan serangga penular penyakit, yang masih sangat mengandalkan pertahanan tradisional lewat pembasmi larva dan insektisida.

“Menarik sekali saat perusahaan teknologi juga ikut bergabung,” ujar Anandasankar Ray, seorang asisten profesor entomologi di the University of California, Riverside. “Pendekatan mereka pada tantangan biologi adalah untuk merekayasa solusi.”

Perangkat cerdas

Epidemi Zika yang muncul di Brazil tahun 2015 dan menyebabkan ribuan bayi mengalami cacat lahir telah mendorong desakan untuk dilancarkan upaya tersebut.

Meskipun kasus-kasus yang terjadi terbukti telah melambat, nyamuk-nyamuk yang mampu membawa virus – Aedes aegypti dan Aedes albopictus – menyebar luas di benua Amerika, termasuk beberapa kawasan di bagian selatan Amerika Serikat.

Mayoritas dari 5.365 kasus Zika yang dilaporkan di Amerika Serikat sejauh ini berasal dari para pelancong yang tertular virus di tempat lain. Tetap, dua negara bagian – Texas dan Florida – telah mencatat kasus-kasus yang ditularkan oleh nyamuk-nyamuk lokal, membuatnya menjadi lahan ujian untuk teknologi baru.

Di Texas, 10 perangkap nyamuk yang dibuat oleh Microsoft beroperasi di Harris County, termasuk kota Houston.

Kurang lebih seukuran kandang burung berukuran besar, alat-alat ini menggunakan robotika, sensor infra merah, pembelajaran mesin, dan komputasi awan untuk membantu para petugas mengamati seksama potensi adanya vektor penyakit.

Texas mencatat adanya enam kasus penularan virus Zika oleh nyamuk lokal di bulan November dan Desember tahun lalu. Para pakar percaya angka sebenarnya kemungkinan lebih tinggi karena kebanyakan mereka yang terinfeksi tidak menunjukkan adanya gejala.

Wanita hamil berisiko tinggi karena mereka dapat menularkan virusnya ke janin, yang mengakibatkan adanya beragam cacat lahir.

Cacat lahir tersebut bentuknya antara lain adalah microcephaly, sebuah kondisi dimana bayi yang lahir dengan kondisi tersebut akan memiliki ukurang tengkorak dan otak yang lebih kecil dari ukuran normal. World Health Organization menyatakan Zika sebagai kondisi darurat global pada bulan Februari 2016.

Kebanyakan perangkat nyamuk konvensional menangkap semua serangga yang datang – ngengat, lalat, dan varietas nyamuk lain – yang meninggalkan tumpukan spesimen yang harus dipilah-pilah kembali oleh ahli serangga. Mesin buatan Microsoft membedakan serangga dengan mengukur fitur unik dari setiap spesies: bayangan yang dihasilkan dari kepakan sayapnya. Saat sebuah perangkap mendeteksi nyamuk Aedes aegypti di salah satu dari 64 ruangnya, pintu perangkap langsung menutup.

Mesin tersebut “mengambil keputusan apakah untuk menjebak serangga tersebut dalam perangkap atau tidak,” ujar Ethan Jackson, seorang insinyur Microsoft yang mengembangkan alat itu.

Uji di Houston, yang dimulai musim panas yang lalu, menunjukkan perangkap tersebut dapat mendeteksi nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk lain yang dari segi medis penting dengan tingkat akurasi 85 persen, ujar Jackson.

Peneliti, Ethan Jackson, membuat penyetelan purwarupa perangkap nyamuk di laboratorium di Microsoft, dalam foto rilis yang diperoleh Reuters tanggal 30 Juni 2017
Peneliti, Ethan Jackson, membuat penyetelan purwarupa perangkap nyamuk di laboratorium di Microsoft, dalam foto rilis yang diperoleh Reuters tanggal 30 Juni 2017

Mesin terebut juga mencatat bayangan yang dibuat oleh serangga-serangga lainnya selain juga kondisi lingkungan seperti suhu dan kelembaban. Data yang ada dapat digunakan untuk membangun model model untuk memprediksi di mana dan kapan nyamuk aktif.

Mustapha Debboun, direktur divisi pengendalian nyamuk dan serangga vektor di Harris County, mengatakan perangkap tersebut dapat menghemat waktu dan memberi lebih banyak wawasan para peneliti terkait perilaku nyamuk.

“Dari segi ilmu pengetahuan dan riset, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan,” ujar Mustapha.

Perangkap ini masih dalam tahap purwarupa pada saat ini. Namun Ethan Jackson mengatakan Microsoft berharap suat saat akan dapat menjualnya dengan harga beberapa ratus dolar per unitnya, kurang lebih sama dengan harga perangkap konvensional. Tujuannya adalah untuk mendorong adopsi secara luas, khususnya di negara-negara berkembang, untuk mendeteksi potensi epidemi sebelum muncul.

“Apa yang menjadi harapan kami adalah [perangkap] ini akan memungkinkan kita untuk membasmi nyamuk dengan lebih akurat dalam rangka meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujar Jackson.

Memilah-milah nyamuk dengan robot

Sementara itu, perusahaan-perusahaan lainnya, mengembangkan teknologi untuk menekan populasi nyamuk jantan Aedes aegypti dengan membuatnya mandul. Saat serangga jantan mandul kawin dengan serangga betina di alam liar, telur-telurnya tidak akan menetas.

Strategi ini menawarkan alternatif selain pestisida kimiawi.

Namun butuh jutaan nyamuk yang dikembang biakkan di laboratorium untuk dilepaskan ke alam bebas. Nyamun jantan tidak menggigit, sehingga membuatnya lebih mudah untuk dijual di tempat-tempat yang sekarang menjadi lokasi uji coba.

Oxitec, divisi dari Germantown yang berpusat di Inggris, yang merupakan bagian dari Intrexon Corp sedang mengembang biakkah nyamun jantan yang sudah dimodifikasi secara genetik menjadi mandul. Perusahaan tersebut telah menyebar luaskannya di Brazil, dan sedang menunggu persetujuan dari pihak berwenang untuk melakukan uji coba di Florida dan Texas.

MosquitoMate, sebuah perusahaan rintisan yang dibentuk sekelompok peneliti di the University of Kentucky, menggunakan bakteri yang ada di alam yang disebut Wolbachia untuk membuat nyamuk jantan mandul.

Satu dari tantangan terbesar adalah memilah-milah nyamuk berdasarkan jenis kelamin.

Di laboratorium MosquitoMate di Lexington, nyamuk-nyamuk yang belum dewasa dipaksa untuk melewati mekanisme mirip saringan yang memisahkan nyamun jantan yang lebih kecil dari nyamuk betina. Nyamuk-nyamuk ini kemudian dipilah-pilah dengan tangan untuk menyingkirkan nyamuk betina yang lolos dari mekanisme tersebut.

“Pada dasarnya pekerjaan ini dilakukan secara manual,” ujar Stephen Dobson, direktur utama MosquitoMate.

Perkenalkan Verily. Perusahaan ini mengotomatisasi penyaringan nyamuk dengan robot untuk membuatnya lebih cepat dan lebih terjangkau. Para pejabat di perusahaan tersebut menolak untuk diwawancara. Namun di situs webnua, Verily menyatakan perusahaan itu mengkombinasikan sensor, algoritma, dan “rekayasa inovatif” untuk mempercepat prosesnya.

Verily dan MosquitoMate telah bekerja sama untuk menguji teknologi mereka di Fresno, California dimana Aedes aegypti tiba pada tahun 2013.

Para pejabat khawatir warga yang tertular Zika dari tempat lain dapat menyebarkannya di Fresno apabila mereka digigit nyamuk lokal yang kemudian menyebarkan virusnya ke orang lain.

“Ini sangat menjadi keprihatinan kami karena ini adalah serangga penular penyakit yang utama seperti demam berdarah, chikungunya, dan pastinya Zika,” ujar Steve Mulligan, manajer Consolidated Mosquito Abatement District di Fresno County.

Studi, yang masih menunggu persetujuan dari negara bagian dan federal, dijadwalkan suatu hari di musim panas. [ww]

XS
SM
MD
LG