Tautan-tautan Akses

Perjanjian PBB untuk Penghentian Penggunaan Air Raksa Mulai Berlaku


Seorang ibu memeluk korban "Penyakit Minamata" atau keracunan air raksa di Minamata, Jepang dalam arsip foto tahun 1973. Konvensi MInamata, perjanjian global untuk membatasi penambangan dan penggunaan merkuri mulai berlaku Rabu (16/8).
Seorang ibu memeluk korban "Penyakit Minamata" atau keracunan air raksa di Minamata, Jepang dalam arsip foto tahun 1973. Konvensi MInamata, perjanjian global untuk membatasi penambangan dan penggunaan merkuri mulai berlaku Rabu (16/8).

Perjanjian global untuk menyelamatkan jutaan orang dari bahaya keracunan air raksa mulai berlaku hari Rabu (16/8).

Konvensi Minamata tahun 2013 yang mengambil nama dari sebuah teluk di Jepang yang ikan-ikannya terkontaminasi merkuri dan menyebabkan ribuan orang menderita kerusakan otak berat tahun 1956. Limbah industri telah dibuang ke teluk itu selama lebih dari 20 tahun sebelumnya.

Sebanyak 128 negara telah menandatangani perjanjian itu dan 74 telah meratifikasinya.

Kepala Lingkungan Hidup PBB Erik Solheim mengatakan Rabu, “Konvensi Minamata menunjukkan tugas global kita untuk melindungi planet dan penduduknya telah membuat negara-negara bekerja sama.” Dikatakannya, “Kita telah melakukannya untuk mengatasi masalah rusaknya lapisan ozone dan sekarang kita melakukannya untuk mengatasi masalah merkuri atau air raksa, sama seperti kita melakukannya untuk mengurangi dampak perubahan iklim.”

Air raksa umumnya digunakan dalam baterai, lampu neon, pembuatan kain beludru, termometer dan barometer. Penggunaan bahan itu telah berangsur-angsur dikurangi.

Perjanjian tersebut mengharuskan negara-negara menghentikan penambangan merkuri, terus mengurangi penggunaan air raksa dalam industri dan mengurangi emisi.

Air raksa adalah logam sangat beracun yang tidak pernah terurai. Apabila masuk ke tubuh, merkuri menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan kerusakan otak, masalah-masalah emosional serius, koma dan kematian. Anak-anak khususnya sangat rentan terkena dampak air raksa.

Air raksa terbentuk secara alami di alam, tetapi juga dibuat oleh manusia untuk keperluan industri.

PBB mengatakan, “Air raksa tidak memiliki ambang batas aman dan dan tidak ada obat untuk mengobati keracunan air raksa.”

Banyak negara-negara yang menandatangani perjanjian itu harus memenuhi persyaratan keras untuk menyimpan dan membuang limbahnya dengan aman. [sp/ii]

XS
SM
MD
LG