Tautan-tautan Akses

Peneliti: Antibodi Vaksin China Kurang Efektif Atasi Varian Delta


Stan yang memajang kandidat vaksin virus corona dari Sinovac Biotech Ltd terlihat di China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2020, menyusul wabah COVID-19, di Beijing, China, 4 September 2020. (Foto: REUTERS/Tingshu Wang )
Stan yang memajang kandidat vaksin virus corona dari Sinovac Biotech Ltd terlihat di China International Fair for Trade in Services (CIFTIS) 2020, menyusul wabah COVID-19, di Beijing, China, 4 September 2020. (Foto: REUTERS/Tingshu Wang )

Seorang peneliti Pusat Pengendalian Penyakit China mengatakan kepada media pemerintah mengatakan antibodi yang dipicu oleh dua vaksin COVID-19 asal China kurang efektif terhadap varian Delta dibandingkan dengan varian lain. Namun, vaksin tersebut masih tetap memberikan perlindungan.

Kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) memperingatkan pekan lalu bahwa varian Delta, yang pertama kali terdeteksi di India, menjadi varian penyakit yang dominan secara global akibat tingkat penularannya.

Mengutip sebuah wawancara yang disiarkan China Central Television pada Kamis (24/6) malam, Reuters melaporkan Feng Zijian, peneliti dan mantan wakil direktur di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, tidak memberikan perincian lebih lanjut.

Tanpa menyebut kedua vaksin itu, Feng mengatakan mereka masuk dalam kategori vaksin tidak aktif, yang mengandung virus corona "yang dimatikan" yang tidak dapat bereplikasi dalam sel manusia.

Lima dari tujuh vaksin yang dikembangkan di dalam negeri dalam skema vaksinasi massal China adalah vaksin yang tidak aktif. Ini termasuk vaksinasi dari Sinovac Biotech dan Sinopharm yang digunakan di negara-negara seperti Brazil, Bahrain dan Chili.

Para pejabat mengatakan varian Delta telah menyebabkan infeksi di tiga kota di Provinsi Guangdong selatan, di mana terdapat total 170 pasien yang dikonfirmasi secara lokal dilaporkan antara 21 Mei dan 21 Juni.

Masih belum jelas berapa banyak dari mereka yang terpapar varian Delta.

Sekitar 85 persen kasus Guangdong dalam wabah terbaru ditemukan di ibu kota provinsi, Guangzhou.

"Dalam wabah Guangdong ... tidak satu pun dari infeksi yang divaksinasi itu menjadi kasus yang parah, dan tidak ada kasus yang parah yang divaksinasi," kata Feng. [ah/ft]

XS
SM
MD
LG