Tautan-tautan Akses

Pemerintah Terima 17 Ribu Laporan Anak Yatim Korban COVID-19


Seorang perempuan dan anak-anaknya saat pemakaman suaminya yang meninggal akibat COVID-19 di Bekasi, 27 Juli 2021. (Foto: Willy Kurniawan/Reuters)

Pemerintah telah menerima 17.368 laporan terkait anak usia 0-17 tahun yang kehilangan orang tua akibat COVID-19 yang tersebar di 25 provinsi.

Deputi Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nahar, mengatakan anak-anak korban COVID-19 didominasi oleh anak yang kehilangan ayah atau yatim yang mencapai 56,2 persen. Sedangkan anak yang kehilangan ibunya (piatu) mencapai 36,7 persen, lima persen kehilangan kedua orang tua dan 2,1 persen tidak teridentifikasi.

Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, Kemen PPPA, Nahar, dalam tangkapan layar.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak, Kemen PPPA, Nahar, dalam tangkapan layar.

“Laporan terbanyak dari Jawa Timur,” kata Nahar dalam webinar yang diselenggarakan oleh Yayasan Plan Internasional Indonesia bertema Perlindungan dan Pengasuhan Anak Yatim Piatu Korban COVID-19, Rabu (8/9).

Laporan itu, kata Nahar, dihimpun melalui aplikasi pelaporan Rapidpro PPA yang dibuat berbasis Whatsapps sehingga mudah digunakan oleh masyarakat.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat, mengatakan Kementerian Sosial memberikan penanganan bagi anak-anak tersebut melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI).

Putra Mardiansyah, 26, saat pemakaman ayahnya, Mustagor 59 tahun yang meninggal karena COVID-19, di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk para korban pandemi COVID-19 saat kasus melonjak, di Jakarta, 12 Juli 2021. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfi
Putra Mardiansyah, 26, saat pemakaman ayahnya, Mustagor 59 tahun yang meninggal karena COVID-19, di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk para korban pandemi COVID-19 saat kasus melonjak, di Jakarta, 12 Juli 2021. (Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfi

Program itu memiliki tujuh kegiatan, meliputi dukungan pemenuhan hidup layak; perawatan sosial dan atau pengasuhan anak termasuk pengasuhan alternatif; dukungan keluarga; terapi; pelatihan vokasional dan pembinaan kewirausahaan; serta bantuan dan asistensi sosial.

“Tidak berarti anak-anak yang yatim piatu solusinya harus ada di panti, tidak demikian. Kalau masih dimungkinkan di keluarga kita optimalkan di keluarga. Kalau dapat dukungan dari komunitas,” jelas Harry Hikmat.

Dia menekankan agar orang tua asuh pengganti, baik di keluarga sendiri maupun pengasuhan alternatif di luar keluarga, dapat memenuhi kebutuhan anak akan kasih sayang, kelekatan, keselamatan dan kesejahteraan yang menetap dan berkelanjutan.

Data Kementerian Sosial per tanggal 7 September 2021 mengungkap jumlah anak yatim, piatu dan yatim piatu korban pandemi COVID-19 berjumlah 25.202 anak. Data itu berasal dari pemerintah kabupaten kota di 34 provinsi di Indonesia.

“Ini data masih terus bergerak, hari ini saya menerima tiga amplop data dari kabupaten kota yang menyampaikan kondisi anak-anak yatim, piatu maupun yatim piatu” jelas Harry Hikmat.

Data yang dikirimkan oleh pemerintah kabupaten kota itu akan menjadi basis data untuk memastikan dukungan dalam kerangka perlindungan kepada anak-anak yang menjadi korban COVID-19.

Seorang gadis berduka usai pemakaman ayahnya yang berusia 56 tahun yang meninggal karena COVID-19, di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk korban COVID-19, di Jakarta, 28 Juni 2021.(Foto: REUTERS/ Willy Kurniawan)
Seorang gadis berduka usai pemakaman ayahnya yang berusia 56 tahun yang meninggal karena COVID-19, di area pemakaman yang disediakan pemerintah untuk korban COVID-19, di Jakarta, 28 Juni 2021.(Foto: REUTERS/ Willy Kurniawan)

Perlu Keterlibatan Komunitas

Inisiator LaporCOVID-19, Ahmad Arif, mengatakan pendataan terhadap anak-anak yang kehilangan orang tua akibat COVID-19 menjadi kunci bagi penanganan yang cepat dan tepat. Pendataan itu harus dapat mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan segera bagi anak-anak. LaporCOVID-19 menemukan situasi anak-anak yang di antaranya menanggung beban mental ganda karena ditinggal kedua orang tua maupun mengalami stigma karena dianggap sebagai pembawa virus ke keluarganya.

“Saya kemarin misalnya mendapatkan laporan ada anak yang ditinggalkan sama ibunya dan meninggalkan utang yang cukup besar, termasuk dalam proses perawatan ayahnya. Nah ini kan detil informasi seperti ini yang menurut saya juga dibutuhkan,” ujar Ahmad Arif. [yl/ah]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG