Tautan-tautan Akses

Pembicaraan Militer India, China, untuk Redakan Ketegangan di Perbatasan Gagal


Konvoi tentara India bergerak di jalan raya Srinagar-Ladakh di Gagangeer, timur laut Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Rabu, 9 September 2020. China dan India telah terlibat dalam ketegangan di wilayah gurun Ladakh sejak Mei. (Foto: Associated Press)
Konvoi tentara India bergerak di jalan raya Srinagar-Ladakh di Gagangeer, timur laut Srinagar, Kashmir yang dikuasai India, Rabu, 9 September 2020. China dan India telah terlibat dalam ketegangan di wilayah gurun Ladakh sejak Mei. (Foto: Associated Press)

Pembicaraan antara para komandan militer India dan China untuk menarik pasukan dari daerah-daerah perselisihan utama di sepanjang perbatasan mereka berakhir dengan kebuntuan dan gagal meredakan konfrontasi 17 bulan yang kadang-kadang menyebabkan bentrokan maut, kata kedua pihak pada Senin (11/10).

Karena kebuntuan berlanjut, kedua negara akan tetap mempertahankan pasukan di daerah garis depan Ladakh untuk musim dingin kedua berturut-turut di tengah suhu sangat dingin yang berbahaya.

Kementerian pertahanan India, dalam sebuah pernyataan, mengemukakan, pihaknya memberikan “saran-saran konstruktif” tetapi pihak China “tidak sependapat” dan “tidak dapat memberi proposal mengenai rencana ke depannya.” Sebuah pernyataan dari juru bicara militer China menyatakan “pihak India bersikukuh pada tuntutan yang tidak masuk akal dan tidak realistis, menambah kesulitan dalam perundingan.”

Para komandan dari kedua pihak bertemu untuk melakukan pembicaraan hari Minggu setelah pelanggaran perbatasan selama dua bulan ini di Moldo oleh pihak China di daerah Ladakh.

Sejak Februari, India dan China telah menarik pasukan dari beberapa lokasi konfrontasi di tepian utara dan selatan Pangong Tso, Gogra dan Lembah Galwan, tetapi mereka terus mempertahankan pasukan tambahan sebagai bagian dari pengerahan pasukan yang berlapis-lapis.

Menurut berbagai laporan media India, pasukan tambahan telah dikerahkan di Dataran Demchok dan Depsang.

Pembicaraan pada Minggu (10/10) berlangsung di tengah-tengah perasaan frustrasi yang diungkapkan komandan militer India mengenai apa yang ia sebut pengerahan besar-besaran pasukan dan persenjataan oleh pihak China.

Tentara India, tank mundur dari tepi wilayah danau Pangong Tso, di Ladakh di sepanjang perbatasan India-China pada Rabu, 10 Februari 2021. (Foto: AP)
Tentara India, tank mundur dari tepi wilayah danau Pangong Tso, di Ladakh di sepanjang perbatasan India-China pada Rabu, 10 Februari 2021. (Foto: AP)

“Ya, ini masalah yang mengkhawatirkan karena pengerahan berskala besar telah terjadi dan berlanjut, dan untuk mempertahankan penambahan pasukan itu, ada pembangunan infrastruktur yang sama besarnya di pihak China,” kata Jenderal MM Naravane, Sabtu (9/10).

“Jadi, ini berarti China berada di sana untuk bertahan. Kami terus mencermati semua perkembangan ini, tetapi jika mereka berada di sini untuk bertahan, kami juga akan berada di sana untuk bertahan,” ujarnya.

Pernyataan China, dari Kolonel Senior Long Shaohua dari Komando Daerah Barat menyebutkan “tekad China untuk menjaga kedaulatannya tidak goyah, dan China berharap India tidak akan keliru menilai situasi.”

Suhu di garis depan di Ladakh turun hingga minus 30 derajat Celsius sekitar bulan Januari. Pasukan dari kedua pihak biasanya mundur ke posisi-posisi biasa mereka pada musim panas, tetapi sejak konfrontasi dimulai pada Mei 2020 mereka terus tetap berada di dekat perbatasan yang disengketakan.

Kedua negara telah menempatkan puluhan ribu tentara yang didukung artileri, tank dan jet-jet tempur di perbatasan de facto yang disebut Garis Kontrol Aktual. Tahun lalu, 20 tentara India tewas dalam bentrokan dengan pasukan China yang melibatkan penggunaan pentungan, batu dan baku pukul di perbatasan sengketa. China menyatakan empat tentaranya tewas ketika itu. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG