Tautan-tautan Akses

Narator Sebut Kecerdasan Buatan Perlahan Ambil Alih Bisnis Buku Audio


Podcast audio sedang diputar di sebuah ponsel pintar di Paris, Prancis, 8 Februari 2019. (Foto: AFP)
Podcast audio sedang diputar di sebuah ponsel pintar di Paris, Prancis, 8 Februari 2019. (Foto: AFP)

Ketika orang bersiap menghadapi dampak kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, profesional yang berkecimpung di dunia buku audio bahkan sudah merasakannya. Bisnis buku audio saat ini perlahan telah melakukan transformasi ke arah AI.

AI memiliki kemampuan untuk membuat rekaman yang terdengar seperti suara manusia secara natural, melibas sebagian pekerjaan para profesional yang selama bertahun-tahun mencari nafkah lewat suara.

Para narator mulai mengalami penurunan tajam permintaan jasa yang mereka geluti itu.

Tanya Eby menjadi pengisi suara penuh waktu dan narator profesional selama 20 tahun. Untuk menunjang jasa tersebut, ia bahkan memiliki studio rekaman di rumahnya.

Namun, dalam enam bulan terakhir Eby melihat beban kerjanya turun setengahnya. Dia hanya mendapat pesanan hingga Juni. Padahal, biasanya, para pelanggannya akan memperpanjang kontrak hingga Agustus.

Kata AI Artificial Intelligence terlihat dalam sebuah ilustrasi, 4 Mei 2023. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)
Kata AI Artificial Intelligence terlihat dalam sebuah ilustrasi, 4 Mei 2023. (Foto: REUTERS/Dado Ruvic)

Banyak rekan seprofesinya melaporkan penurunan serupa.

Dia mengatakan sejumlah faktor mungkin turut berperan dalam penurunan tersebut, meski, "Tampaknya masuk akal jika AI memengaruhi kita semua."

Tidak ada label atau pemberitahuan yang mengidentifikasi rekaman yang dibantu AI. Namun, para profesional mengatakan ribuan buku audio yang beredar saat ini menggunakan "suara" yang dihasilkan dari bank data.

Di antara yang paling mutakhir, DeepZen menawarkan tarif yang dapat memangkas biaya pembuatan buku audio menjadi seperempat, atau kurang dari proyek normal.

Perusahaan kecil yang berbasis di London tersebut mengambil dari database yang dibuatnya dengan merekam suara beberapa aktor yang diminta untuk berbicara dalam berbagai intonasi emosional yang terdaftar.

"Setiap suara yang kami gunakan, kami menandatangani perjanjian lisensi, dan kami membayar rekamannya," kata CEO DeepZen, Kamis Taylan.

Untuk setiap proyek, tambahnya, "kami membayar royalti berdasarkan pekerjaan yang kami lakukan."

Namun, tidak semua orang menghormati standar itu, kata Eby.

"Semua perusahaan baru ini bermunculan dengan tidak etis," katanya, dan beberapa menggunakan suara yang ditemukan di database tanpa membayarnya.

"Ada area abu-abu" yang dieksploitasi oleh beberapa platform,” aku Taylan.

"Mereka mengambil suara Anda, suara saya, gabungan lima suara orang lain yang dapat menciptakan suara lain. Mereka bilang itu bukan milik siapa pun."

Bisnis buku audio saat ini perlahan telah melakukan transformasi ke arah AI. (Foto: VOA)
Bisnis buku audio saat ini perlahan telah melakukan transformasi ke arah AI. (Foto: VOA)

Semua perusahaan buku audio yang dihubungi AFP membantah menerapkan praktik tersebut.

Speechki, perusahaan rintisan yang berbasis di Texas, menggunakan rekaman dan suaranya sendiri dari bank data yang ada, kata CEO Dima Abramov.

Namun, hal itu dilakukan hanya setelah kontrak yang mencakup hak pakai telah ditandatangani, katanya.

Masa Depan Koeksistensi?

Lima penerbit terbesar AS tidak menanggapi permintaan komentar AFP.

Namun, para profesional yang dihubungi AFP mengatakan beberapa penerbit tradisional telah menggunakan apa yang disebut AI generatif, yang dapat membuat teks, gambar, video, dan suara dari konten yang ada, tanpa campur tangan manusia.

"Narasi profesional selalu, dan akan tetap menjadi, inti dari pengalaman mendengarkan buku," kata juru bicara anak perusahaan Amazon itu, raksasa di sektor buku audio Amerika Serikat (AS).

"Namun, seiring dengan peningkatan teknologi teks-menjadi-suara (text-to-speech), kami melihat masa depan di mana kinerja manusia dan konten yang dihasilkan text-to-speech dapat hidup berdampingan."

Raksasa teknologi AS, yang terlibat dalam bidang AI yang berkembang pesat, semuanya mengejar bisnis yang menjanjikan dari buku audio yang dinarasikan secara digital.

Dapat Diakses oleh Semua Orang

Pada awal tahun ini, Apple mengumumkan akan beralih ke buku audio yang dinarasikan AI, sebuah langkah yang katanya akan membuat "pembuatan buku audio lebih mudah diakses oleh semua orang", terutama penulis independen dan penerbit kecil.

Google menawarkan layanan serupa, yang digambarkannya sebagai "narasi otomatis.”

"Kita harus mendemokratisasi industri penerbitan, karena hanya nama-nama besar dan terkenal yang diubah menjadi audio," kata Taylan.

"Narasi sintetik baru saja membuka pintu bagi buku-buku lama yang belum pernah direkam, dan semua buku dari masa depan yang tidak akan pernah direkam karena (alasan) ekonomi," tambah Abramov dari Speechki. [ah/ft]

Forum

XS
SM
MD
LG