Tautan-tautan Akses

Misi Baru Eropa di Libya Timbulkan Kecaman


Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam konferensi pers di Tunis, Tunisia, 28 Oktober 2019. (Foto: dok)

Menteri-menteri luar negeri Uni Eropa, Senin (17/2) setuju untuk meluncurkan lagi misi yang diperbarui dalam upaya memantau dan menegakkan embargo senjata internasional terhadap Libya yang dicabik-cabik perang. Setelah bertemu dengan mitra-mitra Eropanya, Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengumumkan aset angkatan laut yang akan dikerahkan ke Laut Tengah untuk membantu menegakkan embargo senjata itu.

Menteri Luar Negeri Jerman itu mengatakan kepada wartawan, rencana misi Uni Eropa tersebut merupakan langkah penting untuk memenuhi komitmen Uni Eropa yang dikemukakan di Berlin bulan lalu, pada sebuah konferensi internasional untuk menegakkan embargo senjata guna menstabilkan negaa di Afrika Utara itu.

Menlu Italia, Luigi Di Maio. (Foto: dok).
Menlu Italia, Luigi Di Maio. (Foto: dok).

“Kami semua sepakat untuk membentuk misi guna menghalangi masuknya senjata ke Libya,” kata Menteri Luar Negeri Italia, Luigi di Maio, setelah pertemuan di Brussels. Misi baru itu menghidupkan kembali Operasi Sophia, yang diluncurkan pada tahun 2015 dengan misi ganda, membendung penyelundupan manusia dari Afrika Utara ke Eropa, sambil berupaya menegakkan embargo senjata di Libya.

Tetapi sedikit saja pengamat yang meyakini misi baru itu akan berdampak besar karena aset angkatan laut Uni Eropa akan dikerahkan sedikitnya 100 kilometer dari pesisir Libya.

Keputusan untuk membatasi misi ke zona geografis terbatas, yang dengan mudah dapat dihindari oleh para penyelundup senjata, adalah satu-satunya cara untuk mengatasi tentangan terhadap pengerahan kapal perang oleh beberapa pemimpin Eropa yang dipimpin Kanselir Austria Sebastian Kurz. Pemimpin Austria itu selama berpekan-pekan telah menyatakan bahwa mengerahkan kapal ke Laut Tengah akan menjadi “faktor penarik” bagi migran yang berupaya mencapai Eropa dari Libya.

Dengan kekhawatiran yang meningkat bahwa Eropa akan menghadapi arus besar-besaran pencari suaka dari Timur Tengah dan Afrika, karena gejolak politik di Lebanon dan ofensif dukungan Rusia pasukan Presiden Suriah di bagian utara negaranya - para pengecam di Uni Eropa mengenai pengerahan di lepas pantai Libya itu mengatakan bahwa misi tersebut akan segera berubah dari penegakan embargo menjadi penyelamatan migran. [uh/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG