Tautan-tautan Akses

Majalah Serbia Cabut Laporan tentang Wawancara dengan Trump


Majalah Serbia “Nedeljnik” soal interview dengan Donald Trump dicabut hanya beberapa jam setelah diterbitkan, Kamis (13/10).
Majalah Serbia “Nedeljnik” soal interview dengan Donald Trump dicabut hanya beberapa jam setelah diterbitkan, Kamis (13/10).

Majalah Serbia “Nedeljnik” mencabut sebuah laporan yang mengatakan calon presiden Partai Republik Donald Trump minta maaf atas peran Amerika dalam pemboman bekas Yugoslavia itu tahun 1999.

Dalam pernyataannya majalah mingguan Serbia “Nedeljnik” mengatakan pihaknya telah “terjebak dalam kampanye pemilu presiden atau bahkan tertipu oleh Vlamir Rajcic”, orang yang menurut majalah mingguan itu merupakan “kontak” mereka untuk mewawancarai Trump.

“Nedeljnik” telah berupaya untuk mewawancarai Donald Trump selama lebih dari satu tahun, sejak pebisnis itu memutuskan bertarung dalam pemilu.

“Tampaknya – sebagaimana yang kerap terjadi dalam politik Amerika – kami tidak berhasil melakukan wawancara itu lewat saluran-saluran resmi, tetapi kami berhasil melakukan lewat kontak pribadi. Vladimir Rajcic – seorang produser dan aktor Serbia yang tinggal di Amerika – telah berulangkali membuktikan kepada kami kedekatannya dengan orang-orang yang dekat dengan Mike Pence, calon wakil presiden Partai Republik, dan menawarkan Nedeljnik untuk mendapatkan wawancara ini”, tulis pernyataan itu.

Majalah itu menerbitkan laporan tersebut hari Kamis (13/10), tetapi mencabutnya dalam waktu beberapa jam kemudian. Laporan itu menyatakan bahwa Trump menjawab lima pertanyaan, dan salah satu diantaranya adalah tentang pandangannya terhadap wilayah Balkan, Serbia dan pemboman NATO. Menjawab pertanyaan itu, Trump disebutkan menjawab bahwa “Serbia adalah orang yang sangat baik, pemboman itu merupakan kesalahan besar dan pemerintahan Bill Clinton menciptakan kekacauan di Balkan”.

Tim kampanye Trump segera memprotes laporan itu dan menyebutnya “tipuan”. Meskipun demikian sejumlah media yang kerap meliput kampanye presiden Amerika terlanjur memberitakan laporan itu.

Bahkan pesaing Clinton – tim kampanye Hillary Clinton – mengecam keras pandangan Trump terhadap pemboman itu.

“Trump tidak pernah diwawancarai oleh majalah mingguan Serbia “Nedeljnik” sebagaimana dilaporkan secara salah oleh majalah Newsweek, dan tidak pernah diwawancarai lewat direktur kampanye di Indiana – Suzanne Ryder Jaworowski”, ujar Jason Miller – penasehat senior bidang komunikasi tim kampanye Trump.

“Terkait laporan tentang wawancara media dengan seorang politisi Serbia dan Donald Trump lewat email saya, ini salah. Saya tidak pernah menjadi penghubung untuk wawancara Trump bagi siapa pun”, ujar Jaworowski.

Milisi etnis Serbia di bekas Yugoslavia yang ketika itu dipimpin Presiden Slobodan Milosevic dituduh melakukan pembantaian besar-besaran terhadap warga Muslim sebagai bagian dari kebijakan pembersihan etnis.

NATO yang dipimpin Amerika membom Yugoslavia yang mengakhiri perang Kosovo. Ketika itu Amerika dipimpin oleh Bill Clinton – suami pesaing Trump dalam pemilu presiden kali ini.

Pemboman NATO itu menewaskan ratusan warga sipil tetapi juga mengakhiri aksi pembersihan etnis yang dilakukan bekas Yugoslavia itu. [em]

XS
SM
MD
LG