Tautan-tautan Akses

Liberty Society: Bisnis 'Fesyen Beretika' Sambil Perjuangkan Nasib Pengungsi Asing


Tamara membantu proses produksi di lokasi lokakaryanya di House of Freedom Serpong, Banten (foto: VOA).

“Berbisnis sambil memberdayakan kelompok marginal” kurang lebih menggambarkan aktivitas Tamara Wu beberapa tahun terakhir. Tamara membangun usaha di bidang fesyen dengan nama Liberty Society, yang tidak saja memerhatikan dampak lingkungan, tetapi juga memberdayakan para pengungsi asing yang kini terkatung-katung di Indonesia. Seperti apa kisahnya?

“Malah orang bingung, kayak, ‘Wah, Miss Indonesia kok bukan ngebantuan orang Indonesia?’”

Itulah Tamara Dewi Gondo Soerijo alias Tamara Wu, juara ke-empat Miss Indonesia 2019. Selama tujuh tahun terakhir, Tamara giat berkecimpung dalam berbagai kegiatan sosial, dari mendistribusikan sembako kepada korban banjir di Jakarta, hingga memberikan pinjaman lunak kepada perempuan-perempuan di berbagai daerah di Indonesia.

Tamara Wu (foto: dok. pribadi)
Tamara Wu (foto: dok. pribadi)

Belakangan, perempuan berusia berusia 23 tahun itu fokus memimpin perusahaan fesyen yang ia dirikan bersama dua rekannya, Liberty Society. Meski begitu, bisnis tersebut tidak lantas mengalihkan perhatiannya dari kegiatan sosial. Liberty Society justru menjadi platform barunya untuk memperjuangkan dua isu berbeda, yaitu nasib para pengungsi asing di Indonesia dan bisnis fesyen beretika.

Fashion for freedom. Karena kata ‘liberty’ itu sangat kuat, karena – kebanyakan untuk para pengungsi ini – hidup mereka itu seperti luntang lantung. Habis makan, bangun, tidur lagi, nggak ngapa-ngapain, makan, bangun, tidur. Kalau aku tanya ke mereka, mereka bilang kayak gini, “hidup saya itu nggak ada bedanya dari hidup di penjara, tapi penjaranya nggak kelihatan, invisible.””

Berdayakan Pengungsi Perempuan di tengah Hidup yang Penuh Ketidakpastian

Keprihatinan itu muncul setelah ia berkenalan dengan seorang pengungsi perempuan asal Sudan di Refugee Learning Center di Bogor, Jawa Barat, beberapa tahun lalu. Tamara bercerita, pengungsi itu seorang dokter gigi di negara asalnya. Namun, ia kemudian melarikan diri karena terancam dipenjara setelah memutuskan pindah agama. Selama mengungsi di Indonesia, nasibnya justru terlunta-lunta.

“Dulu dia dentist wanita dari Sudan datang ke sini, terus dia nggak punya rights, padahal sangat well-educated. […] Nah, lalu dia bercerita, “Saya tidak bisa menyekolahkan anak saya, Tamara.” Dan sebagai orang tua pun, sepertinya that is so heartbreaking when your life's in a limbo, it’s on hold. Nggak bisa ngapa-ngapain.”

Nasib yang sama dialami pengungsi asing lainnya di Indonesia. Hal itu karena pemerintah belum meratifikasi Konvensi tentang Status Pengungsi tahun 1951 dan Protokol tentang Status Pengungsi tahun 1967 menjadi hukum positif di Indonesia, sehingga pengungsi dan pencari suaka yang transit di Indonesia sebelum disalurkan ke negara ketiga (resettlement) tidak punya hak untuk bekerja maupun hak atas pendidikan. Akibatnya, hidup para pengungsi bergantung pada insentif bulanan PBB dan sumbangan, serta rentan mengalami depresi.

Kondisi itulah yang Tamara coba perbaiki melalui Liberty Society. Ia mengajak para pengungsi perempuan untuk mengikuti lokakarya fesyen di pabrik rumahannya, yang ia namai House of Freedom alias Rumah Kebebasan. Di sana, mereka membantu proses produksi dengan imbalan berupa stipend untuk kebutuhan makan dan transportasi.

Pengungsi perempuan diberdayakan untuk membantu pembuatan produk fesyen Liberty Society (foto: VOA).
Pengungsi perempuan diberdayakan untuk membantu pembuatan produk fesyen Liberty Society (foto: VOA).

Lebih dari itu, ia berharap lokakarya memberi para pengungsi ruang belajar dan berkarya di tengah ketidakpastian. Sejauh ini, ia sudah mendirikan tiga pusat workshop, yaitu di Bogor, Serpong dan Batam, dengan melibatkan setidaknya 20 orang pengungsi perempuan.

“Kita berikan mereka tempat untuk bisa berekspresi dan juga mendapatkan komunitas agar mereka get better. […] Terakhir adalah access to the market. Tentunya mereka memerlukan income untuk mereka daily operate.

Salah satu pesertanya adalah Sarah (24), bukan nama sebenarnya, seorang pengungsi asal Afghanistan dari etnis Hazara yang sudah 1,5 tahun transit di Indonesia. Di negara asalnya, Sarah sudah mengantongi tiga tahun pendidikan tinggi di bidang manajemen dan bekerja di sebuah pabrik kecil, sebelum akhirnya melarikan diri bersama adik laki-lakinya yang berusia 11 tahun dari persekusi terhadap etnisnya.

Sarah, bukan nama sebenarnya, pernah kuliah di bidang Manajemen selama tiga tahun sebelum akhirnya melarikan diri dari Afghanistan, akibat persekusi. (Foto: VOA)
Sarah, bukan nama sebenarnya, pernah kuliah di bidang Manajemen selama tiga tahun sebelum akhirnya melarikan diri dari Afghanistan, akibat persekusi. (Foto: VOA)

“Di Afghanistan terjadi peperangan, jadi kami tidak punya kebebasan. Saat saya tiba di sini, awalnya saya merasakan kebebasan di sini, tapi setelah beberapa waktu, saya tidak bisa bekerja, tidak bisa melanjutkan studi, itu semua sangat mengecewakan saya – hingga saya menemukan Liberty Society,” tutur Sarah.

Sehari-hari, Sarah membantu produksi berbagai produk, dari tas tangan, tas kain, hingga pakaian. Ia dan pengungsi perempuan lain sesama peserta lokakarya mendapat pelatihan dari guru jahit untuk bisa membuat pola, menggunting hingga menjahit semua itu.

Meski sedikit kecewa karena tidak bisa mengamalkan ilmu manajemen yang dipelajarinya saat kuliah dulu, Sarah bersyukur bisa bergabung dengan komunitas tersebut.

“Liberty Society membantu kami, baik secara materi maupun moral, karena membuat kami tetap sibuk, punya kegiatan, karena sebagai pengungsi kami menghadapi banyak kendala, situasi kami pun tidak terlalu baik. Kami tidak bisa menjalin hubungan dengan warga lokal karena kami tidak bisa berbahasa Indonesia. Jadi saat kami datang ke pusat lokakarya, kami melupakan semua kesulitan itu, dan fokus bekerja. (Kegiatan) ini membantu kami memperoleh pendapatan yang membantu hidup dan keluarga kami,” imbuhnya.

Para pengungsi perempuan asal Afghanistan beristirahat di tenda darurat (foto: dok). Ada sekitar 7 ribu pengungsi Afghanistan di Indonesia.
Para pengungsi perempuan asal Afghanistan beristirahat di tenda darurat (foto: dok). Ada sekitar 7 ribu pengungsi Afghanistan di Indonesia.

Setidaknya terdapat sekitar 13.700 pengungsi yang terdaftar Komite HAM PBB (UNHCR) di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 27% merupakan anak-anak, di mana 114 di antaranya datang sendiri atau terpisah dari keluarga. Sarah sendiri adalah satu dari 7.000-an pengungsi asal Afghanistan (57%), negara asal pengungsi dengan jumlah terbanyak, disusul Somalia (10%) dan Myanmar (7%).

Meski belum meratifikasi Konvensi 1951 tentang pengungsi, pemerintah telah menelurkan Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia No. 125 Tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri. Melalui perpres itu, pemerintah mencoba melindungi hak-hak pengungsi dan pencari suaka dengan memberikan kejelasan definisi pengungsi, perhatian khusus bagi kelompok pengungsi yang rentan (sakit, hamil, difabel, anak dan lanjut usia), hingga pembagian tanggung jawab antar lembaga pemerintahan.

Fesyen Beretika

Liberty Society sempat membuka tiga toko fisik di Jakarta. Setelah tutup akibat pandemi, model penjualan yang sebelumnya didominasi pola bisnis ke konsumen, kini mayoritas dilakukan dengan pola bisnis ke bisnis.

“Banyak brand mencari sourcing fashion sustainable fabrics dan yang ethical. Lebih muncul naratif itu dan lebih banyak brand owners yang lebih peka. Dengan itu, makanya kita sekarang lumayan kebanjiran fashion brands yang ingin bekerja sama.”

Liberty Society menjual produk fesyen beretika, yang dibuat oleh para pengungsi asing yang nasibnya terkatung-katung di Indonesia (foto: VOA).
Liberty Society menjual produk fesyen beretika, yang dibuat oleh para pengungsi asing yang nasibnya terkatung-katung di Indonesia (foto: VOA).

Ethical fashion atau fesyen beretika yang dimaksud Tamara adalah produk fesyen yang diproduksi dengan memerhatikan kesejahteraan dan keselamatan pekerja serta pelestarian lingkungan. Hal itu berangkat dari keprihatinannya terkait industri fesyen yang dipercaya merupakan industri penyumbang polusi terbesar kedua di dunia setelah migas. Pasalnya, menurut data Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), industri pakaian setiap tahunnya menghabiskan sembilan puluh tiga miliar meter kubik air, setara dengan pemenuhan kebutuhan air bersih bagi lima juta orang, serta membuang sekitar lima ratus juta ton mikrofiber – setara dengan tiga juta barel minyak – ke laut setiap tahun.

Di samping itu, Tamara juga mengambil contoh kasus kebakaran pabrik garmen di Karachi, Pakistan pada tahun 2012 yang menewaskan 298 buruh akibat bangunan pabrik yang tidak memenuhi standar keamanan dan keselamatan.

Every hint of our t-shirt that you are wearing you don’t know where it comes from, and maybe itu datang dari workers yang rightsnya kurang dibayar atau kurang memadai lokasinya dan mereka, they are working in a dangerous place.

Liberty Society: Bisnis Fesyen Beretika yang Perjuangkan Nasib Pengungsi Asing
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:34 0:00


Dari laporan tahunan perusahaan tahun 2020, Liberty Society menganggarkan 50% pendapatan perusahaan untuk menggaji para pembuat pakaian, sementara 20% keuntungan diinvestasikan kembali untuk kebutuhan operasional dan lokakarya. Selain upah yang memadai serta tempat kerja yang aman, merk fesyen itu juga menawarkan bahan baku ramah lingkungan, seperti tensel, polyester daur ulang, hingga katun alami.

Akan tetapi, Tamara mengakui tantangan besar yang dihadapi bisnisnya dalam memasarkan produk fesyen beretika di tanah air.

“Kebanyakan kan yang beli baju Rp50 ribu itu nggak tahu datangnya dari mana kan, malah kalau harganya Rp100 ribu, “loh ini nggak make sense, ngapain beli yang seratus ribu?” Sebetulnya, yang fair itu yang kisaran harga segitu. […] Di sini sebetulnya aku sedih, karena malah kebanyakan kita punya klien tuh orang-orang luar negeri yang appreciate the story and appreciate our business model. Kalau orang indonesia sepertinya masih dipandang sebelah mata, dan mereka lebih prefer alternatif yang lebih murah, yang nggak tau datangnya dari mana.”

Tamara berharap semakin banyak orang yang mau membelanjakan uang mereka pada produk-produk fesyen beretika, seperti halnya ia berharap pelaku usaha lain dapat mengadopsi model bisnisnya, terutama di daerah-daerah yang menjadi tempat transit para pengungsi asing. [rd/rw/em]

Lihat komentar (2)

Recommended

XS
SM
MD
LG