Tautan-tautan Akses

AS

Kongres AS akan Batasi Kekuasaan Presiden AS untuk Lancarkan Serangan Nuklir


ARSIP - Orang-orang menonton siaran berita di TV yang memperlihatkan tweet dari Presiden AS, Donald Trump, yang sesumbar ia memiliki kenop nuklir yang lebih besar. Seoul, Korea Selatan, Rabu, 3 Januari 2018 (foto: AP Photo/Ahn Young-joon)

Anggota Kongres Amerika akan mengadakan wawancara pers hari Selasa untuk membahas pembatasan kekuasaan presiden dalam melancarkan serangan nuklir.

Senator Partai Demokrat Edward Markey dan anggota DPR Ted Lieu akan mengusahakan supaya "Presiden Trump atau presiden Amerika lainnya” tidak akan bisa meluncurkan serangan nuklir yang pertama kearah lawan tanpa adanya pernyataan perang yang dikeluarkan oleh Kongres.

Pernyataan yang dikeluarkan kedua anggota Kongres itu mengutip insiden tahun 2018 dimana Presiden Trump menantang pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un tentang siapa yang punya “kenop nuklir” yang lebih besar.

Ketika Kim mengirim pesan tahun barunya untuk memperingatkan dunia bahwa ia punya “kenop nuklir,” Presiden Trump menjawab lewat Twitter: “Tolong beritahu dia bahwa saya juga punya Kenop Nuklir, yang jauh lebih besar dan lebih kuat dari yang dimilikinya.”

Markey dan Lieu ketika itu mengeluarkan usul untuk membatasi kekuasaan presiden menggunakan “kenop nuklirnya.” Kelompok nirlaba Bulletin of Atomic Scientists, yang mengurus apa yang disebutnya “Doomsday Clock” atau Jam Hari Kiamat mengatakan, jam kini telah menunjukkan pukul 11 lewat 58 menit, atau dua menit sebelum tengah malam, petunjuk bahwa hari kiamat karena perang nuklir sudah dekat.

Tahun lalu, kerangka pengendalian senjata nuklir dunia hampir runtuh ketika Amerika keluar dari perjanjian nuklir dengan Iran dan mengancam akan menarik diri dari perjanjian pembatasan senjata nuklir jarak menengah. [ii]

XS
SM
MD
LG