Tautan-tautan Akses

Keberagaman, Keadilan, dan Nilai-nilai Inklusif Berdampak Positif Bagi Pebisnis


Foto udara kampus Stevens Institute of Technology di Hoboken, New Jersey dengan latar belakang Sungai Hudson dan kawasan Manhattan, New York (foto: ilustrasi).
Foto udara kampus Stevens Institute of Technology di Hoboken, New Jersey dengan latar belakang Sungai Hudson dan kawasan Manhattan, New York (foto: ilustrasi).

Penelitian baru oleh Stevens Institute of Technology di New Jersey, AS menunjukkan bahwa keberagaman, keadilan dan ketercakupan (diversity, equity, inclusion atau DEI) di berbagai fungsi pekerjaan, organisasi dan industri berdampak positif bagi bisnis. Penelitian itu dilakukan oleh Wei Zheng, lektor sekaligus ketua Richard R. Roscitt Bidang Kepemimpinan Sekolah Bisnis kampus tersebut, bersama seorang rekannya, dengan menyurvei 39 orang pemimpin dalam dunia bisnis.

Penelitiannya fokus pada kepemimpinan yang inklusif, yang salah satu cirinya adalah membuat anggota tim merasa diterima, dihargai dan dilibatkan.

Zheng mengatakan, pemimpin yang lebih inklusif memiliki tim yang bekerja secara lebih efektif, karena mereka lebih berpeluang menangkap pasar-pasar yang baru, lebih berpeluang memiliki produk dan layanan yang kreatif, dan mereka lebih berpeluang mengantongi keuntungan yang lebih tinggi.

Ilmu kepemimpinan yang konvensional biasanya mengajarkan para pemimpin untuk bersikap lebih otoritatif.

Meski sifat itu mungkin penting untuk dimiliki, menurut Zheng, para pemimpin harus dapat menunjukkan ketulusan dan kerentanan agar orang-orang bisa mulai memercayai mereka.

Ia menceritakan peristiwa ketika sebuah perusahaan teknis yang bersaing dengan Amazon untuk mendapatkan sebuah kontrak akhirnya berhasil mendapatkannya karena mereka menghadiri presentasi mereka dengan tim yang beragam.

Zheng menyebutnya sebagai contoh sempurna betapa keberagaman dan ketercakupan membantu para pemimpin “memperbesar kuenya sehingga semua orang mendapatkan bagian.”

Saat menyinggung penentangan terhadap DEI baru-baru ini, ia mengatakan bahwa definisi ketercakupan atau inklusi adalah ketika setiap orang dalam sebuah organisasi merasa didengar dan dihargai, alih-alih hanya kelompok-kelompok tertentu. Inklusi tidak semestinya dipertengkarkan, karena inklusi adalah cara untuk mengatasi kebutuhan universal setiap manusia untuk merasa dianggap dan menjadi diri sendiri, pungkas Zheng. [rd/jm]

Forum

XS
SM
MD
LG