Tautan-tautan Akses

Israel: Penembakan Perawat Palestina, Razan Najjar Tak Disengaja


Upacara pemakaman Razan Najjar (21 tahun), perawat yang tewas akibat tembakan tentara Israel, di Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu (2/4).
Upacara pemakaman Razan Najjar (21 tahun), perawat yang tewas akibat tembakan tentara Israel, di Khan Younis, Jalur Gaza, Sabtu (2/4).

Militer Israel hari Selasa (5/6) mengatakan penembakan fatal seorang paramedis perempuan Palestina di Jalur Gaza pekan lalu dilakukan secara tidak disengaja, pengakuan itu mengobarkan kembali perdebatan seputar kebijakan bebas menembak yang diberlakukan untuk tentara Israel.

Razan Najjar, yang berusia 21 tahun, ditembak Jumat lalu (1/6) ketika sedang berupaya mengevakuasi orang-orang yang luka dalam demonstrasi massal di dekat perbatasan Israel.

Najjar, seorang sukarelawan paramedik sedang merawat seorang demonstran yang luka-luka beberapa saat sebelum ia ditembak. Ketika ditembak ia mengenakan rompi medis berwarna putih yang mengidentifikasi dirinya sebagai petugas kesehatan.

Ketika mengumumkan hasil pemeriksaan pendahuluan itu, militer Israel mengatakan “sejumlah kecil peluru ditembakkan dalam insiden itu, dan tidak ada tembakan yang disengaja atau diarahkan langsung terhadapnya.” Ditambahkan, penyelidikan itu sedang berlanjut, dan hasilnya akan disampaikan kepada tim kuasa hukum militer.

Lebih dari 115 warga Palestina tewas dan hampir 3.700 lainnya luka-luka dalam aksi-aksi protes di sepanjang perbatasan Israel yang sudah berlangsung hampir setiap minggu, demikian menurut petugas kesehatan Palestina. Kebanyakan korban tewas adalah warga yang tidak bersenjata, antara lain wartawan, tenaga medis, remaja dan dua perempuan.

Israel telah mendapat kecaman luas dari dunia internasional karena menggunakan peluru tajam. Uni Eropa dan PBB menuduh Israel menggunakan kekuatan yang berlebihan, sementara kelompok-kelompok HAM mengatakan aturan kontak senjata Israel ilegal karena menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran tidak

bersenjata ketika nyawa tentara Israel sendiri tidak dalam bahaya. Seorang pejabat PBB menyebut penembakan Najjar itu sesuatu yang “tercela.”

Pejabat-pejabat militer Israel menyalahkan Hamas atas pertumpahan darah itu. Mereka mengatakan kelompok itu telah menggunakan demonstrasi sebagai perlindungan untuk melancarkan serangan lintas perbatasan dan menggunakan para demonstran sebagai perisai.

Namun pejabat juga mengakui menembak orang secara tidak sengaja, dan menyalahkan medan yang penuh sesak dan taktik-taktik Hamas yang mereka nilai sebagai “kesalahan.”

Ashraf Najjar, ayah Razan Najjar, menolak penjelasan Israel dan mengatakan tentara Israel tidak memiliki kredibilitas.

“Ini adalah tentara paling kotor di dunia,’’ ujar Ashraf.

“Kami tidak bergantung pada penyelidikan mereka dan kesimpulan itu tidak berdasar. Sebaliknya kami menyerukan penyelidikan internasional,” tambahnya. [em/jm]

XS
SM
MD
LG