Tautan-tautan Akses

Israel Cemas dengan Perubahan Kebijakan AS di Timur Tengah


Joe Biden, yang saat itu menjabat sebagai Wapres AS, bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di Ramallah, Tepi Barat, 9 Maret 2016 (foto: dok).
Joe Biden, yang saat itu menjabat sebagai Wapres AS, bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas, di Ramallah, Tepi Barat, 9 Maret 2016 (foto: dok).

Sementara sebagian besar dunia menyambut gembira terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika, beberapa pihak di Israel cemas bahwa dia akan mengubah kebijakan Amerika terhadap Timur Tengah.

Warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza menyambut gembira terpilihnya Presiden Joe Biden. Mereka berharap kebijakan terhadap Timur Tengah semasa pemerintahan Trump akan berubah.

Khaled Abu Toameh, seorang jurnalis Palestina mengatakan, “Prioritas pertama warga Palestina adalah mengusahakan proses perdamaian agar dilanjutkan. Mereka ingin pemerintahan Biden menghidupkan kembali solusi dua negara, yang oleh warga Palestina dinilai telah dihancurkan oleh pemerintahan Trump. Mereka juga hendak memulihkan kontak dengan pemerintahan Amerika, yang diboikot Palestina sejak Desember 2017 ketika Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.”

Pemerintahan Biden, melalui Menteri Luar Negeri Antony Blinken, mengatakan, komitmen Amerika terhadap keamanan Israel tidak bisa diragukan.

“Cara terbaik, dan mungkin satu-satunya cara, menjamin masa depan Israel sebagai negara demokratik Yahudi dan memberi Palestina sebuah negara yang merupakan hak mereka lewat apa yang disebut solusi dua negara,” ujar Blinken.

Hubungan pemerintah Israel, dibawah pimpinan Benyamin Netanyahu, sangat erat dengan Trump, dan beberapa kalangan mengatakan, Israel harus berusaha keras untuk memulihkan dukungan dari Partai Demokrat.

Sallai Meridor adalah mantan dutabesar Israel untuk Amerika. “Kita seharusnya tidak mengorbankan aset utama kita di Amerika, yakni dukungan bipartisan. Dukungan ini telah dirusak, dan kalau saya telaah satu hal utama yang negatif untuk Israel semasa kepresidenan Trump, adalah dukungan bipartisan ini.”

Kebanyakan analis Israel mengatakan, Timur Tengah saat ini berada jauh di bawah dalam daftar prioritas Biden karena dia lebih berfokus pada isu-isu domestik yang mendesak. Kalaupun nantinya beralih perhatian ke Timur Tengah, kemungkinan besar Biden akan berfokus pada Iran.

Israel sangat menentang persetujuan nuklir Iran dengan kekuatan-kekuatan dunia pada tahun 2015, dan menilai persetujuan itu memberi Iran peluang yang sah untuk memperoleh senjata nuklir.

Amotz Asa-El adalah analis di Hartman Institute. “Iran akan menjadi isu utama dalam agenda Timur Tengah karena merupakan isu yang paling peka dan mendesak di kawasan. Bukan hanya karena rencana Iran membuat senjata nuklir, yang sudah tentu merupakan masalah dunia, tetapi juga karena Iran campur tangan di Timur Tengah. Tidak ada perang saudara di Timur Tengah di mana Iran tidak terlibat sehingga sebagian besar dunia menilai tindakannya itu menyebabkan ketidakstabilan.”

Kebanyakan pejabat Israel mengakui bahwa Biden sejak lama adalah seorang pendukung Israel. Tetapi Biden juga mendukung pendirian negara Palestina dan akan berusaha menekan Israel agar kembali ke meja perundingan. [jm/ka]

Israel Khawatir dengan Kebijakan Luar Negeri Biden di Timur Tengah
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:30 0:00


XS
SM
MD
LG