Tautan-tautan Akses

Ilmuwan Gunakan Tikus untuk Deteksi Penyakit TBC


Seekor tikus raksasa asal Afrika sebelum mengkuti sesi latihan mendeteksi penyakit TBC di Universitas Sokoine di Morogoro, Tanzania (31/01).

Para ilmuan mungkin tidak memandang tikus sebagai pilihan pertama dalam membasmi wabah Tuberculosis (TBC). Namun mereka sedang menjalankan sebuah penelitian dengan mengandalkan kemampuan mengendus tikus raksasa tersebut untuk mendeteksi penyakit TBC di kota-kota besar di seluruh dunia.

Menurut World Health Organization (WHO) TBC, yang bisa disembuhkan dan dicegah, merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling mematikan di seluruh dunia, dan telah membunuh 1,7 juta orang pada tahun 2016 dan menginfeksi 10,4 juta lainnya.

Di Angola hingga Kamboja, tikus raksasa yang berasal dari Afrika ini digunakan untuk mendeteksi lahan pertambangan. Oleh yayasan APOPO dari Belgia, tikus-tikus raksasa tersebut digunakan untuk mendeteksi penyakit TBC, khususnya di wilayah Afrika Timur.

Beberapa tahun kemudian, yayasan APOPO berencana membasmi TBC mulai dari sumber penyakitnya dengan menyediakan fasilitas deteksi penyakit di kota-kota besar di 30 negara yang rentan TBC, termasuk Vietnam, India, dan Nigeria.

Menurut James Pursey, juru bicara yayasan Apopo, salah satu cara yang paling ampuh dalam membasmi wabah TBC adalah membasminya sejak dari sumbernya, yaitu di kota-kota besar, yang banyak didatangi oleh penduduk desa. Ia juga menambahkan bahwa untuk membasmi wabah mematikan ini, kita harus melakukan pencegahan secara besar-besaran, karena penyebaran penyakit TBC ini seperti lingkaran setan. Banyak orang yang terinfeksi penyakit ini di kota yang berpenduduk besar dan menularkannya ke wilayah pedesaan.

dr. Simon Angelo (kiri) memeriksa Iman Steven yang menderita TBC, yang digendong oleh ibunya (kiri) di rumah sakit Doctors Witout Borders (MSF) yang berlokasi di Malakal, Sudan Selatan.
dr. Simon Angelo (kiri) memeriksa Iman Steven yang menderita TBC, yang digendong oleh ibunya (kiri) di rumah sakit Doctors Witout Borders (MSF) yang berlokasi di Malakal, Sudan Selatan.

Dengan menggunakan sampel lendir dari pasien yang terinfeksi, seekor tikus belajar mendeteksi keberadaan sumber penyakit ini.

Menurut ahli kesehatan, di Tanzania, di mana penyakit TBC yang menjadi hal yang wajar, termasuk di area tahanan, TBC selalu gagal untuk dideteksi dikarenakan ketidakmampuan masyarakat dalam membayar biaya pemeriksaan kesehatan yang sangat mahal.

Pursey mengatakan, "TBC merupakan penyakit terkait kemiskinan. Kalau tidak diambil langkah lebih lanjut, maka ia akan semakin memburuk."

Data dari yayasan APOPO menunjukkan bahwa grafik deteksi wabah TBC meningkat hingga 40% di klinik-klinik kesehatan di Tanzania dan Mozambik, menurut Pursey, yang mengatakan bahwa menggunakan tikus untuk mendeteksi TBC tidak mengurangi kebutuhan uji diagnostik TBC.

Kalau ilmuwan biasanya membutuhkan empat hari untuk menemukan sebuah kasus TB, seekor tikus yang terlatih untuk mendeteksi TBC dapat menemukan 100 sampel penyakit dalam 20 menit, dan hanya menghabiskan sedikitnya 20 sen amerika atau sekitar Rp 3000. [ma/dw]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG