Tautan-tautan Akses

Facebook Manfaatkan 'AI' untuk Hapus Konten Propaganda Teroris


Sebuah keluarga di Dhaka, Bangladesh menggunakan Facebook. (Foto: ilustrasi). Facebook bertekad menghapus konten propaganda teroris secepatnya, sebelum pengguna melihatnya.
Sebuah keluarga di Dhaka, Bangladesh menggunakan Facebook. (Foto: ilustrasi). Facebook bertekad menghapus konten propaganda teroris secepatnya, sebelum pengguna melihatnya.

Facebook memaparkan menggunakan Artificial Intelligence atau “AI” (intellijen buatan) dalam upaya terus menerus mencegah propaganda teroris disebarkan lewat platformnya.

“Kami ingin menemukan konten teroris secepatnya, sebelum warga di komunitas kita melihatnya,” bunyi pesan yang dipasang hari Kamis (15/6).

“Sebagian besar akun sudah kami tutup karena aspek terorisnya kami temukan sendiri. Tapi kita bisa bertindak lebih baik lagi menggunakan teknologi khususnya intelijen buatan untuk menghentikan penyebaran konten teroris di Facebook,” tambah pesan itu.

Perusahaan itu menghadapi tekanan yang meningkat dari pemerintah di seluruh dunia untuk lebih baik lagi mencabut postingan yang dibuat oleh teroris.

Beberapa peran "Al" melibatkan “pencocokan gambar” untuk melihat apakah gambar yang diunggah sama dengan yang sebelumnya dicabut karena mengandung konten teroris.

“Pemahaman bahasa” lanjut perusahaan itu, "akan memungkinkan untuk “memahami teks yang mungkin menganjurkan aksi teror.”

Al kata Facebook juga berguna untuk mengenali dan menutup “kelompok-kelompok teroris.”

“Kita tahu dari studi-studi mengenai teroris bahwa mereka cenderung untuk meradikalisasi dan beroperasi dalam kelompok-kelompok,” demikian menurut postingan blog itu.

“Kecenderungan di luar internet ini juga tercermin di internet. Jadi kalau kami mengenali halaman, kelompok, postingan atau profil, mendukung aksi teror kami juga menggunakan algoritme untuk “menyaring”dan mengenali bahan-bahan terkait yang mungkin juga mendukung aksi teror.”

Facebook mengatakan Al membantu mengenali dan menutup akun palsu yang dibuat oleh “pelanggar kambuhan”. Facebook mengatakan sudah mengurangi waktu aktif akun-akun palsu itu.

Meski demikian perusahaan itu tidak bergantung sepenuhnya pada Al.

“AI tidak bisa menangkap semuanya,” kata Facebook.

“Menyimpulkan apa yang mendukung aksi teror dan yang tidak, tidak selalu mudah dan algoritme belum sebaik manusia jika menyangkut pemahaman konteks semacam ini.”

“Foto seorang bersenjata mengibarkan bendera ISIS mungkin propaganda atau bahan perekrutan tapi mungkin gambar dalam sebuah laporan berita. Beberapa kecaman yang paling efektif mengenai kelompok-kelompok brutal seperti ISIS menggunakan propaganda kelompok itu sendiri untuk menentangnya. Untuk memahami nuansa kasus, kami membutuhkan keahlian manusia.” [my/ii]

XS
SM
MD
LG