Tautan-tautan Akses

'Conflict Kitchen' Restoran Unik di Kota Pittsburgh


Menikmati Sajian dari Negara Konflik di 'Conflict Kitchen'
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:54 0:00

Menikmati sajian dari negara-negara yang berkonflik dengan Amerika di 'Conflict Kitchen', Pittsburgh.

Restoran 'Conflict Kitchen' menyajikan masakan dari negara-negara yang sedang berkonflik dengan Amerika Serikat dan hanya melayani pesanan dibungkus.

Restoran yang menyajikan masakan dari berbagai negara, bukanlah hal luar biasa. Tetapi restoran yang menyajikan masakan dari negara-negara yang sedang berkonflik dengan Amerika merupakan hal yang unik. Inilah yang dilakukan “Conflict Kitchen” di kota Pittsburgh, negara bagian Pennsylvania.

“Restoran ini tentu saja sangat unik. Saya memuji apa yang mereka lakukan, yang mungkin bertujuan tidak saja untuk meningkatkan kesadaran politik, tetapi juga memberi kita kesempatan mencoba makanan-makanan dengan cita rasa yang lain,” kata Janice, salah seorang pengunjung.

Direktur Kuliner “Conflict Kitchen”, Robert Sayre mengatakan, mereka ingin pembeli mengetahui asal usul makanan yang mereka makan. Tidak saja konflik yang sedang dihadapi negara dimaksud, tetapi juga kebudayaan dan ciri khas lainnya, ujarnya.

“Kami memutuskan untuk menggali ide itu lebih dalam dan membuka restoran dengan menyajikan makanan agar orang mulai berfikir tentang negara-negara yang sedang berkonflik dengan Amerika, dan kebudayaan negara-negara tersebut. Jadi kami memberi informasi itu – juga informasi tentang makanan yang mereka beli – kepada para pelanggan,” kata Robert.

Restoran yang terletak di kota Pittsburgh ini berdiri pada 2010 berdasarkan ide Jon Rubin dan Dawn Weleski, profesor seni dari Universitas Carnegie Melon. Saat ini makanan yang disajikan adalah masakan Afghanistan, Venezuela dan Kuba. Setiap enam bulan sekali jenis makanan ini akan diganti.

“Warga Amerika bersedia belajar tentang suatu kebudayaan melalui makanan, dan tidak melulu lewat acara-acara tertentu. Jadi dengan menggunakan makanan untuk menarik perhatian mereka, kita bisa bicara sedikit tentang negara yang sedang berkonflik," ujar Sayre.

Tetapi ia juga menambahkan bahwa keberadaan restorannya bukan untuk memberi semacam pernyataan politik, tetapi sekedar membangun pemahaman yang lebih baik.

“Kita tidak ingin memasuki dunia politik dua negara – misalnya pemerintah kita dan pemerintah Iran, yang tentunya punya isu-isu tersendiri. Tetapi kita ingin membahas apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan rakyat Iran sehari-hari dan perasaan mereka, juga tradisi dan kebudayaan rakyat Iran, dan berupaya membuat para pelanggan – yang merupakan warga Amerika – untuk menyadari bahwa Iran tidak serta merta diwakili oleh pemerintahnya semata. Sama seperti yang anda rasakan ketika bicara tentang Amerika," ujarnya.

Para pembeli menyukai konsep “Conflict Kitchen” ini.

“Saya kira ini konsep yang menarik. Saya kira merupakan gagasan bagus untuk berupaya mengajak setiap orang dan menunjukkan pada orang-orang di Amerika bahwa hanya karena ada yang berkonflik dengan Amerika, bukan berarti semua orang akan berkonflik, bukan berarti kebudayaannya tidak sepenting kebudayaan kita. Mereka masih memiliki kebudayaan tersendiri dan hal itu sangat unik,” kata Keith, seorang pembeli.

Tidak hanya sekedar menjual makanan, “Conflict Kitchen” juga aktif mengajak pembeli berinteraksi, misalnya dengan ikut merancang konsep pidato bagi Presiden Barack Obama yang akan ditujukan kepada pemerintah Iran. Pidato seperti ini kelak akan ditampilkan pada akhir bulan sebelum beralih ke makanan negara lain.

“Conflict Kitchen” yang terletak di tengah sebuah taman yang sangat nyaman ini, setiap hari bisa melayani 200 hingga 300 pelanggan.

XS
SM
MD
LG