Tautan-tautan Akses

Bisa Laba-Laba Mematikan Australia Dapat Bantu Korban Serangan Jantung


Sebuah monitor menunjukkan gambar tiga dimensi jantung manusia di Klaus-Tschira-Institute for Integrative Computational Cardiology, Rumah Sakit Universitas Heidelberg, di Heidelberg, Jerman, 14 Agustus 2018. (Foto: dok).
Sebuah monitor menunjukkan gambar tiga dimensi jantung manusia di Klaus-Tschira-Institute for Integrative Computational Cardiology, Rumah Sakit Universitas Heidelberg, di Heidelberg, Jerman, 14 Agustus 2018. (Foto: dok).

Bisa laba-laba Australia, dari salah satu jenis yang paling mematikan di dunia, dapat menyelamatkan nyawa korban serangan jantung.

Pengobatan yang berpotensi dapat menyelamatkan jiwa korban serangan jantung telah ditemukan di sumber yang paling tidak mungkin. Sumber tersebut adalah bisa, atau racun yang dikeluarkan salah satu jenis laba-laba paling mematikan di dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian secara global, yang merenggut sekitar 17,9 juta nyawa setiap tahun.

Para peneliti di University of Queensland telah menemukan bahwa racun dari laba-laba jaring corong Pulau Fraser di Australia Timur mengandung peptida, molekul yang dapat menyelamatkan jiwa.

Mary Rayner mengambił racun dari laba-laba yang banyak ditemukan di sekitar Sydney dengan pipet, di Australian Reptile Park, Sydney 1 Oktober 2001. (AFP)
Mary Rayner mengambił racun dari laba-laba yang banyak ditemukan di sekitar Sydney dengan pipet, di Australian Reptile Park, Sydney 1 Oktober 2001. (AFP)

Dikenal sebagai Hi1a, molekul ini dapat menghambat pengiriman apa yang disebut sebagai sinyal kematian ke sel-sel setelah terjadi serangan jantung, sewaktu aliran darah ke jantung berkurang. Kurangnya oksigen ke otot-otot jantung meningkatkan keasaman sel-sel jantung, dan ini mengirim sinyal atau pesan kematian bagi sel-sel jantung.

Meskipun penelitian telah berlangsung puluhan tahun, para ilmuwan belum dapat membuat obat yang menghentikan sinyal kematian ini. Para pakar Australia telah mengatakan itulah salah satu alasan mengapa penyakit jantung terus menjadi penyebab utama kematian di seluruh dunia.

Dr. Sarah Scheuer adalah peneliti di Lembaga Riset Jantung Victor Chang (Victor Chang Cardiac Research Institute), yang ambil bagian dalam penelitian mengenai bisa laba-laba.

Ia mengatakan temuan itu juga dapat membantu pasien cangkok jantung.

Scheuer mengatakan,“Kami menggunakan sedikit peptida khusus ini dari satu porsi kecil racun laba-laba jaring corong. Well, yang kami temukan adalah peptida ini dapat membantu melindungi jantung yang mengalami kekurangan suplai darah atau aliran darah. Dan kami menemukan bahwa ini juga dapat digunakan bukan hanya dalam cangkok jantung, ketika jantung donor sedang berada di luar tubuh sewaktu proses pencangkokan, tetapi juga berpotensi untuk digunakan pada para korban serangan jantung untuk meminimalisasi kerusakan yang terjadi.”

Para peneliti Australia meyakini bahwa molekul dari bisa laba-laba ini menghambat kemampuan jantung untuk merasakan keasaman setelah terjadi serangan jantung, sehingga mengacaukan pesan kematian.

Mereka menyatakan visi mereka bagi masa depan adalah Hi1a dapat diberikan oleh para petugas pertolongan pertama di ambulans.

Temuan ini dibangun berdasarkan penelitian sebelumnya yang mendapati sebuah protein kecil di racun laba-laba jaring corong Pulau Fraser meningkatkan kepulihan pasien stroke secara nyata.

Protein ini telah diujicobakan di sel-sel jantung manusia, dan tim peneliti Australia ingin memulai uji klinis untuk penyakit jantung dan stroke dalam waktu dua hingga tiga tahun ini. Penelitian ini diterbitkan di jurnal Circulation. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG