Tautan-tautan Akses

Bank Dunia: Ekonomi Thailand Pulih Jika Ketegangan Politik Mereda


Demonstran anti-pemerintah menuntut Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra turun.
Demonstran anti-pemerintah menuntut Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra turun.

Kepercayaan bisnis terhadap perekonomian Thailand telah merosot ke tingkat terendah dalam lebih dari empat tahun di tengah kekacauan politik yang terus terjadi.

Seorang ekonom senior Bank Dunia mengatakan pemulihan masih dimungkinkan pada paruh kedua tahun ini jika ketegangan politik mereda dan pengeluaran sektor swasta dan pemerintah pulih kembali.

Dalam indikator terbaru yang diumumkan hari Kamis, Federasi Industri Thailand mengingatkan pergolakan politik berkelanjutan di Thailand telah memicu anjloknya kepercayaan secara dramatis dan beberapa survei menunjukkan angka terendah sejak Juni 2009.

Federasi Industri Thailand merujuk pada penurunan pesanan domestik, volume penjualan dan kinerja bisnis yang buruk secara keseluruhan. Beberapa analis mengatakan investor-investor di sektor swasta kini menanti hingga situasi politik lebih jelas.

Ekonom senior Bank Dunia, Kirida Bhaopichitr mengatakan meredanya ketegangan politik diperlukan dunia ekonomi untuk mencapai angka pertumbuhan 4% selambat-lambatnya akhir tahun nanti.

Pemerintah juga sedang berjuang untuk membayar harga pembelian beras kontroversial yang dijanjikan. Saat ini ribuan petani masih belum menerima bayaran sebesar 4,2 milyar dollar.


Bhaopichitr mengatakan, “Asumsi kami adalah ketegangan ini akan berakhir pada pertengahan tahun ini. Jika tidak, target angka pertumbuhan 4% tidak akan tercapai. Para petani akan memperoleh 130 milyar baht untuk program pembelian beras yang dijanjikan selambat-lambatnya pada akhir paruh pertama ini. Jika tidak maka daya beli mereka akan terkena dampak.”

Dewan Pembangunan Ekonomi dan Sosial Nasional NESDB, lembaga pengkajian milik pemerintah Thailand melaporkan bahwa angka pertumbuhan ekonomi pada bulan Desember lalu hanya 6 per 10 persen, sehingga angka pertumbuhan tahun 2013 berada dibawah 3%, turun dari 6,5% yang tercatat tahun 2012.

Perlambatan angka pertumbuhan terjadi ketika maraknya demonstrasi anti-pemerintah bulan November lalu mulai mempengaruhi permintaan dan pariwisata lokal. Pejabat-pejabat pariwisata mengatakan kerugian bisa mencapai 320 juta dollar lebih.

Demonstrasi itu telah bergulir menjadi tuntutan pengunduran diri Perdana Menteri Yingluck Shinawatra, di tengah seruan reformasi politik.

Keprihatinan ekonomi lainnya mencakup sejumlah peringatan bank sentral terhadap kenaikan tajam utang rumah tangga.

Bhaopichitr menambahkan, “Hanya jika setiap orang di Thailand ikut serta dalam pertumbuhan ekonomi, Thailand bisa benar-benar menjadi negara berpendapatan tinggi.”

Thailand tetap menghadapi ketidakpastian karena pemerintah menghadap beberapa persoalan hukum dari berbagai bidang lainnya. Sejauh ini beberapa upaya untuk menengahi perundingan antara pemerintah dan para demonstran telah gagal sehingga masa depan Thailand kembali berada dalam ketidakpastian.

XS
SM
MD
LG