Tautan-tautan Akses

Australia akan Ubah Aturan Imigrasi untuk Tarik Lebih Banyak Mahasiswa Asing


Mantan Menlu Australia Stephen Smith berbicara dengan mahasiswa India dalam kunjungannya ke St Stephen Cellege, di New Delhi. Ia berjanji akan mengusut tuntas penganiayaan mahasiswa asal India di Australia (foto: dok).
Mantan Menlu Australia Stephen Smith berbicara dengan mahasiswa India dalam kunjungannya ke St Stephen Cellege, di New Delhi. Ia berjanji akan mengusut tuntas penganiayaan mahasiswa asal India di Australia (foto: dok).

Tiga universitas terbesar di Australia mengurangi ratusan pegawai karena menurunnya jumlah mahasiswa asing. Industri pendidikan yang bernilai multi miliar dolar selama ini merupakan salah satu pendapatan ekspor paling menguntungkan tetapi data resmi terbaru menunjukkan jumlah pelajar asing mungkin akan turun tajam karena keterbatasan dana dan perubahan peraturan imigrasi.

Industri pendidikan di Australia membanggakan bahwa Australia adalah “negara yang bersemangat dan ramah” dimana mahasiswa asing bisa “tinggal, belajar dan berkembang.” Tahun lalu 240.000 mahasiswa mendaftar dalam berbagai jurusan, bertambah dari 180.000 tahun 2008. Kebanyakan berasal dari Tiongkok dan India.

Glenn Withers, ketua salah satu organisasi lobi, Universities Australia, mengatakan industri pendidikan kini menghadapi kesulitan.

Ia mengatakan, “Bagi pendidikan tinggi ini, jumlahnya sudah mendatar. Bagi pendidikan secara menyeluruh pada hakekatnya sudah anjlok, tahun lalu saja jumlahnya turun hampir 10%. Kebanyakan di perguruan tinggi swasta bukan di universitas-universtas.

Banyak universitas di Australia bergantung pada uang kuliah dan berbagai biaya dari mahasiswa muda tetapi melemahnya nya pasar berharga semacam itu memaksa Universitas Sydney mengurangi ratusan pekerjaan dan berbagai institusi lainnya juga memberhentikan pegawai.

Di Universitas Macquarie, Sydney 50 pegawai secara sukarela berhenti kerja karena anjloknya jumlah mahasiswa dari luar negeri.

Banyak yang menyalahkan pada tingginya nilai dolar Australia, yang membuat biaya sekolah lebih mahal dan meningkatnya kompetisi global dari Amerika dan Inggris yang membuat turunnya mahasiswa dari luar negeri itu.

Withers mengatakan aturan imigrasi Australia yang lebih ketat juga berperan.

“Ada sejumlah isu mengenai visa mahasiswa dan migrasi dimana pemerintah memulai berbagai pengaturan baru yang menyulitkan mahasiswa merasa disambut baik dan bagi mereka yang ingin terus tinggal (di Australia) untuk bisa melakukannya, " ujar Withers.

Withers mengatakan pemerintah menanggapi keprihatinan ini dan dalam waktu dekat peraturan imigrasi akan lebih ringan bagi orang asing muda.

Mulai tahun depan, mahasiswa tidak akan menghadapi persyaratan visa yang begitu ketat. Mereka yang berasal dari negara-negara beresiko tinggi, seperti India dan Tiongkok dimana mahasiswanya diperkirakan akan melanggar batas ijin tinggal, tidak perlu lagi menyediakan deposito tunai sebelum diijinkan memasuki Australia.

Perubahan itu juga akan mengijinkan mahasiswa bekerja sementara di Australia, setelah menyelesaikan pendidikan. Namun, perubahan itu tidak berlaku bagi institusi pendidikan swasta.

Ada juga upaya terpadu beberapa universitas untuk mempermudah mahasiswa Tiongkok belajar di Australia. Universitas Sydney kini mempertimbangkan melonggarkan persyaratan masuk untuk membuat mahasiswa Tiongkok tertarik.

India adalah sumber mahasiswa berharga lainnya, meskipun reputasi Australia memburuk disana karena serangkaian serangan terhadap warga asing usia muda dalam beberapa tahun ini di Sydney dan Melbourne. Berbagai organisasi mahasiswa mengatakan meskipun kekerasan itu terjadi dua tahun lalu, hal itu tetap mencemari pandangan India terhadap Australia sebagai negara aman dan produktif.

XS
SM
MD
LG