Tautan-tautan Akses

Agenda Utama KTT AS-ASEAN: Isu Perdagangan dan Keamanan


Presiden AS Joe Biden akan menjadi ruan rumah KTT AS-ASEAN di Gedung Putih pekan depan (foto: dok).
Presiden AS Joe Biden akan menjadi ruan rumah KTT AS-ASEAN di Gedung Putih pekan depan (foto: dok).

KTT AS-ASEAN yang akan digelar pekan depan di Washington, DC akan menjadi pertemuan pertama para pemimpin Asia Tenggara di Gedung Putih. Terlepas dari ketidakhadiran pemimpin Filipina dan Myanmar, forum itu digelar di tengah masa-masa kritis bagi keamanan kawasan dan peningkatan kerja sama ekonomi.

Semenjak KTT AS-ASEAN pertama digelar di Sunnylands, negara bagian California, tahun 2016 lalu, para pemimpin Asia Tenggara telah menyaksikan kudeta militer, bencana alam, pandemi dan kini kelangkaan pasokan bahan bakar dan makanan akibat perang di Ukraina dan penutupan pelabuhan di China.

Marc Mealy dari Dewan Bisnis AS-ASEAN mengatakan melalui sambungan Zoom, “Perdagangan di Asia, misalnya, seringkali dianggap sebagai strategi. Dan meski kita tahu bahwa secara historis AS telah sangat, sangat sukses dalam aspek keamanan strategi, aspek perdagangan dalam strateginyalah yang lebih menantang.”

Meskipun enam negara anggota ASEAN merupakan mitra dagang utama Washington, para pengamat mengatakan bahwa AS tidak akan meluncurkan inisiatif kerja sama ekonomi yang besar pada KTT kali ini.

Manfaat KTT AS-ASEAN bagi Asia Tenggara

Para pengamat mengatakan, Asia Tenggara meminta jaminan bahwa dukungan militer Amerika bagi NATO dan Ukraina tidak akan merugikan keberlanjutan komitmen AS di kawasan Indo-Pasifik.

Greg Poling, direktur Program Asia Tenggara dan Inisiatif Transparansi Martitim di Center for Strategic and International Studies (CSIS), melalui Zoom menuturkan, “Ini adalah kisah klasik di Asia Tenggara. Semua yang AS lakukan tidak berlebihan, tidak juga kurang, (tapi) tidak pernah cukup. Kondisi itu menggambarkan betapa kawasan itu ingin agar AS menjalankan komitmennya dengan benar. Selalu ada kekhawatiran soal itu.”

Para pakar juga menyebut Washington perlu mengirim pesan yang jelas tentang hubungan AS-China, khususnya seputar kebebasan navigasi di Laut China Selatan.

Kembali, Greg Poling menjelaskan, “Harus ada kecaman keras atas perilaku China pada setiap gelaran KTT seperti ini, atau beberapa pihak di kawasan (perlu) menunjuk sambil mengatakan, ‘Lihatlah, AS telah goyah.’”

Presiden AS Joe Biden dalam KTT virtual dengan para pemimpin ASEAN 26 Oktober 2021 (foto: dok).
Presiden AS Joe Biden dalam KTT virtual dengan para pemimpin ASEAN 26 Oktober 2021 (foto: dok).

Sementara itu, Marc Mealy menuturkan, “Tentu saja, amat berharga bagi negara-negara anggota ASEAN untuk mengerti dan untuk itu mencari tahu apakah akan ada perubahan lebih lanjut dalam hubungan AS-China. Bagaimana caranya agar mereka, dalam tanda kutip, memanfaatkan perubahan itu?.”

Satu bidang di mana ASEAN sudah lebih dulu mengambil tindakan adalah memberikan alternatif atas rantai pasokan manufaktur China. Dewan Bisnis AS-ASEAN mengatakan, Malaysia diperkirakan akan mengumumkan peningkatan kerja sama dengan produsen semikonduktor Amerika.

Dan ketika Asia Tenggara meningkatkan integrasi ekonominya dengan seluruh dunia, mitra-mitra dagang – termasuk India – memantau KTT AS-ASEAN dengan seksama.

Agenda Utama KTT AS-ASEAN: Isu Perdagangan dan Keamanan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:35 0:00

Jay Maniyar, peneliti National Maritime Foundation, mengatakan melalui Zoom, “Bagi India, khususnya, ada banyak sekali kepentingannya di kawasan itu, baik keamanan energi, keamanan perdagangan melalui selat-selat yang penting di Asia Tenggara.”

Bagaimanapun, kata para pakar, kawasan yang dinamis itu semakin berada di inti dari begitu banyaknya tantangan dan peluang global terbesar abad ini. [rd/lt]

XS
SM
MD
LG