Tautan-tautan Akses

Pandemi Gairahkan Permintaan Kemasan Ramah Lingkungan


Kemasan ramah lingkungan, kerjasama Avano Eco dengan Kopanakala, salah satu vendor makanan di Hawaii. (Foto: IG/@avanoeco)
Kemasan ramah lingkungan, kerjasama Avano Eco dengan Kopanakala, salah satu vendor makanan di Hawaii. (Foto: IG/@avanoeco)

Kemasan ramah lingkungan kian populer belakangan ini. Lonjakan permintaannya meningkat secara signifikan menyusul larangan penggunaan plastik sekali pakai di banyak kota besar, seperti Jakarta; munculnya gerakan antiplastik; dan pergeseran ke belanja online di kalangan konsumen selama pandemi yang menyebabkan maraknya layanan pesan antar.

Lonjakan permintaan itu paling tidak dirasakan Evo&Co, perusahaan yang berhasil memopulerkan cangkir dan sachet yang terbuat dari rumput laut dan mudah terdekomposisi.

David Christian, CEO Evo&Co, memamerkan produk kemasan bioplastik yang terbuat dari rumput laut. (Courtesy: Evo&Co)
David Christian, CEO Evo&Co, memamerkan produk kemasan bioplastik yang terbuat dari rumput laut. (Courtesy: Evo&Co)

David Christian, CEO Evo&Co, mengatakan, “Kalau secara bisnis kita sendiri, meningkatnya bisa dua kali lipat sih.”

Karena peningkatan secara signifikan ini, perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta ini mengembangkan dan memvariasikan produknya.

Evo&Co kini tidak lagi terfokus pada rumput laut, tapi juga pada bahan-bahan biodegradable lain, seperti ampas tebu, bambu, tepung beras, tepung singkong, pelepah pohon pisang dan pelepah pinang. Perusahaan itu juga tidak hanya menawarkan cangkir yang dapat dimakan (edible) dengan nama dagang Ello Jello dan sachet sekali pakai, tapi juga berbagai produk kemasan lainnya.

Evo&Co melalui salah satu mereknya, Evoware, tadinya hanya terfokus pada perabotan makan, seperti cangkir dan piring yang ramah lingkungan, dan bahkan tak jarang edible, dari bahan utama berupa rumput laut. Kini, selama setahun terakhir, melalui merek keduanya, Evoworld, perusahaan itu mengembangkan dan menawarkan kantong dari tepung singkong; boks makanan dari ampas tebu dan sedotan dari kertas dan tepung beras.

Kotak makan siang terbuat dari tebu dan peralatan makan kayu Evoware. (Facebook/@evowareworld)
Kotak makan siang terbuat dari tebu dan peralatan makan kayu Evoware. (Facebook/@evowareworld)

Meningkatnya permintaan akan kemasan ramah lingkungan ini juga tercermin dari jangkauan eskpornya. Perusahaan yang didirikan pada 2016 itu kini telah mengekspor produk-produknya ke sekitar 900 perusahaan di 52 negara, termasuk Australia, Korea Selatan dan Jepang, dan bahkan mempunyai perusahaan perwakilan di Malaysia.

David sendiri tidak merasa terkejut dengan perkembangan ini. Menurutnya, kini semakin banyak perusahaan, kelompok dan individu yang memandang pentingnya faktor lingkungan sebagai pertimbangan bisnis. Tak heran produk-produk ramah lingkungan, yang harganya rata-rata bisa dua hingga tiga kali lipat dari produk yang merusak lingkungan, justru diminati.

Kemasan dari rumput laut yang dapat dimakan dari Evoware. (Facebook/@evowareworld)
Kemasan dari rumput laut yang dapat dimakan dari Evoware. (Facebook/@evowareworld)

“Produk-produk ramah lingkungan memang saat ini terlihat lebih mahal secara jangka pendek. Tapi sebetulnya perbandingannya tidak seperti apple to apple secara jangka panjang. Produk yang tidak ramah lingkungan itu jauh lebih merusak dan akan lebih mahal biaya penanggulangannya,” jelasnya.

David melalui perusahaannya juga menggalakkan kampanye 4R (reduce, reuse, recycle, and replace) atau kurangi, gunakan kembali, daur ulang, dan ganti, bertujuan untuk menyadarkan sedikitnya satu juta orang mengenai pentingnya memelihara lingkungan secara berkelanjutan. Lewat Evoware, contohnya, ia melibatkan anak-anak panti asuhan di Jakarta, Bali dan Malaysia untuk memasarkan cangkir Ello Jello dan membiarkan keuntungannya dinikmati langsung oleh mereka.

Shrada Rungta, salah satu pendiri perusahaan PT Saesha Bunga Indo, yang memproduksi berbagai produk ramah lingkungan, juga mengakui adanya peningkatan signifikan terhadap produksi perusahaannya.

Shrada Rungta (perempuan di tengah) salah satu pendiri PT Saesha Bunga Indo, akui adanya peningkatan permintaan akan kemasan dari tepung singkong. (Foto: PT Saesha Bunga Indo)
Shrada Rungta (perempuan di tengah) salah satu pendiri PT Saesha Bunga Indo, akui adanya peningkatan permintaan akan kemasan dari tepung singkong. (Foto: PT Saesha Bunga Indo)

Awalnya perusahaan itu hanya memfokuskan usahanya pada kantong bioplastik yang disebut "Sainbag". Kantong itu terbuat dari tepung singkong dan biasanya disuplai untuk kebutuhan pengganti kantong plastik toko, restoran, rumah sakit dan klinik yang peduli lingkungan, baik di dalam dan luar negeri.

Kini, perusahaan itu mendapat permintaan untuk memproduksi kantong pengiriman ramah lingkungan untuk produk-produk yang diperdagangkan secara online (e-commerce mailer bag).

“Kita desain mailer bag yang ada adhesif-nya, yang bisa digunakan sebagai paket untuk dikirim ke customer. Pada bulan September, kami dihubungi L’Oreal Filipina. Mereka tanya apa kita bisa memenuhi pesanan mailer bag untuk mereka,” jelasnya.

Kantong pengiriman (mailer bag) ramah lingkungan produksi PT Saesha Bunga Indo. (Foto: video screenshot/PT Saesha Bunga Indo)
Kantong pengiriman (mailer bag) ramah lingkungan produksi PT Saesha Bunga Indo. (Foto: video screenshot/PT Saesha Bunga Indo)

Perusahaan ini mendapat order kantong pengiriman dari L’Oreal Filipina untuk produk-produk kecantikan bermerek Garnier, dan dari L’Oreal Indonesia untuk produk yang bermerek Kiehls. Sejauh ini L’Oreal Filipina sudah memesan 58.000 kantong, sementara L’Oreal Indonesia memesan 45.000 kantong dengan tiga ukuran. Jika segala sesuatunya berjalan mulus, Shrada berharap, perusahaannya bisa menyuplai 11 juta kantong setiap tahunnya untuk L’Oreal Indonesia.

Perusahaan itu juga dilirik perusahaan garmen di Indonesia yang rutin mengekspor produknya ke Eropa dan Amerika Serikat, khususnya Hawaii. Sejak Juni 2020 hingga awal Juli 2021, perusahaan garmen itu telah mengorder hingga 100.000 kantung kemasan pembungkus pakaian yang mudah terdekomposisi.

Kantung sampah bioplastik dari tepung singkong. (Foto: PT Saesha Bunga Indo)
Kantung sampah bioplastik dari tepung singkong. (Foto: PT Saesha Bunga Indo)

Shrada mengatakan, ia optimistis, bisnisnya akan semakin berkembang, jika semakin banyak orang yang sadar lingkungan. “Mudah-mudahan ke depannya, consumer lebih aware, lebih perhatikan dan lebih tahu mengenai bahaya plastik.”

Avani Eco sebuah perusahaan yang berbasis di Bali juga memetik keuntungan dalam situasi pandemi ini. Perusahaan ini membuat kantong belanja ramah lingkungan bukan plastik tapi terlihat seperti plastik, sejak tahun 2014. Selain kantong yang bertuliskan I AM NOT PLASTIC itu, perusahaan ini juga membuat sedotan dari kertas dan tepung maizena, serta kotak makanan dari ampas tebu.

Tas produksi Avani Eco ini diproduksi dari tepung singkong, 100% tidak mengandung plastik. (Photo: IG/avanieco)
Tas produksi Avani Eco ini diproduksi dari tepung singkong, 100% tidak mengandung plastik. (Photo: IG/avanieco)

Rania Fairuza Hassan, salah seorang staf divisi pemasaran dan komunikasi Avani Eco, mengatakan, “Demand selama pandemi itu cukup meningkat, di mana lebih banyak lagi demand untuk memesan makanan dengan jasa pesan antar, dikarenakan kondisi yang membutuhkan kami semua berada di rumah. Dengan adanya peningkatan demand untuk menggunakan jasa pesan antar, maka berbagai bisnis menyadari bahwa penggunaan produk packaging akan meningkat, dan sebaiknya menggantikan packaging mereka yang setiap hari digunakan untuk mengirim barang dengan yang lebih ramah lingkungan, yaitu kantong singkong.”

Avani Eco sempat mendapat perhatian luas ketika salah satu pendirinya, Kevin Kumala, melarutkan salah satu kantong bukan plastik produksi perusahaannya ke dalam air hangat dan meminumnya, untuk menegaskan bahwa kantong itu tidak beracun dan sepenuhnya dapat terurai secara hayati.

Pandemi Gairahkan Permintaan Kemasan Ramah Lingkungan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:07:03 0:00

“Kantong singkong Avani mudah terurai dan bersifat non-toxic, maka tidak akan meracuni lingkungan jika terurai di alam. Kantong singkong Avani dapat dijadikan pengganti kantong belanja plastik konvensional atau pun bungkus untuk pengiriman belanja online,” imbuhnya.

Karena meningkatnya permintaan, perusahaan yang memiliki mitra produksi dan distribusi di Timur Tengah ini sedang mengembangkan kemitraan bisnis dengan sejumlah perusahaan di wilayah Amerika Latin dan Asia Tenggara. Konsumen Avani Eco beragam, mulai dari industri busana hingga industri perhotelan. [ab/mg/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG