Tautan-tautan Akses

India Catat 403 Ribu Kasus Baru & 4.000 Kematian dalam 24 Jam Terakhir


Petuga medis membawa jenazah korban meninggal akibat COVID-19 di Ahmedabad, India, Sabtu (8/5).
Petuga medis membawa jenazah korban meninggal akibat COVID-19 di Ahmedabad, India, Sabtu (8/5).

Krisis virus corona di India belum juga mereda. Negara itu hari Minggu (9/5) melaporkan lebih dari 403.000 kasus baru dan 4.000 kematian dalam 24 jam terakhir ini. Sejumlah pakar bahkan mengatakan kemungkinan besar ini bukan angka sesungguhnya karena ada yang masih belum dihitung.

Perdana Menteri India Narendra Modi hingga saat ini belum juga memberlakukan “total lockdown” atau penghentian seluruh kegiatan dan penutupan seluruh wilayah untuk membantu menghentikan perebakan virus mematikan ini, meskipun sejumlah politisi dan pejabat kesehatan masyarakat telah menyerukan hal itu.

New Delhi telah mengumumkan bahwa kebijakan lockdown yang dimulai 20 April lalu akan diperpanjang hingga 17 Mei. Ibu kota India juga mengumumkan bahwa mulai hari Senin ini (10/5) jalur transportasi Metro akan ditangguhkan.

Negara bagian Tamil Nadu di selatan India mengatakan akan beralih dari lockdown sebagian menjadi lockdown penuh, setelah negara bagian Karnataka memperpanjang kebijakan lockdown penuh Jumat lalu (7/5).

WHO: Varian di India Merebak Sangat Cepat

Dalam wawancara dengan kantor berita Perancis AFP Sabtu lalu (8/5), Kepala Ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) Soumya Swaminathan mengingatkan bahwa “fitur epidemiologi yang kita lihat di India saat ini memang menunjukkan bahwa ini merupakan varian yang merebak dengan sangat cepat.”

Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan memberikan keterangan pers di Jenewa, Swiss
Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan memberikan keterangan pers di Jenewa, Swiss

Swaminathan mengatakan varian virus corona B.1.617 jelas merupakan faktor yang ikut menimbulkan bencana di tanah airnya, India. “Ada banyak akselerator yang dimasukkan ke (kalau bilang: banyak faktor yang terlibat?) dalam hal ini,” ujar dokter anak dan ilmuwan klinis berusia 62 tahun ini. Ditambahkannya, “salah satunya adalah karena virus ini merebak lebih cepat.” Swaminathan mengatakan masih terus berlangsungnya pertemuan dalam skala besar dan keengganan mengenakan masker menjadi faktor lain.

Varian B.1.617 pertama kali ditemukan di India Oktober lalu. Amerika dan Inggris menganggapnya sebagai “varian yang mengkhawatirkan” dan mengindikasikan bahwa virus itu lebih berbahaya dari virus aslinya. [em/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG