Tautan-tautan Akses

AS, Rusia Memulai Pembicaraan Nuklir di Austria


Dua kereta kuda di depan lokasi pertemuan para pejabat Rusia dan AS untuk membahas pengendalian senjata di Wina, Austria, Senin, 22 Juni 2020. (AP Foto / Ronald Zak)
Dua kereta kuda di depan lokasi pertemuan para pejabat Rusia dan AS untuk membahas pengendalian senjata di Wina, Austria, Senin, 22 Juni 2020. (AP Foto / Ronald Zak)

Delegasi-delegasi dari AS dan Rusia bertemu di Wina, Austria, pada hari Senin dan Selasa (22 dan 23 Juni) untuk membahas arsenal nuklir mereka setelah jeda selama lebih dari satu tahun.

Delegasi tersebut tidak mengeluarkan pernyataan kepada wartawan sewaktu tiba di Istana Niederoesterreich di Wina pada pukul 8.30 pagi.

Presiden Donald Trump telah meninggalkan beberapa perjanjian AS dengan Rusia, termasuk yang berkenaan dengan penerbangan di atas suatu wilayah dan mengenai kekuatan nuklir jarak menengah.

Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Senjata Marshall Billingslea memimpin delegasi AS yang dijadwalkan bertemu sejawat mereka yang dipimpin oleh Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov di Wina. Mereka akan membahas topik-topik yang disetujui bersama terkait dengan masa depan pengendalian senjata, sebut Departemen Luar Negeri AS dalam suatu pernyataan pekan lalu.

Trump telah menyatakan bahwa China harus dilibatkan dalam pembicaraan mengenai Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START) Baru, dengan alasan hingga sekarang Beijing telah bertindak sesukanya dalam mengembangkan sistem persenjataannya.

“AS telah menyampaikan undangan terbuka kepada Republik Rakyat China untuk bergabung dalam diskusi ini, dan telah menjelaskan tentang perlunya bagi ketiga negara untuk melakukan perundingan mengenai pengendalian senjata dengan iktikad baik,” sebut pernyataan dari Departemen Luar Negeri AS.

Pemerintah China telah menolak undangan tersebut. Kementerian Luar Negeri China awal pekan ini menyatakan “waktunya belum tepat bagi China untuk berpartisipasi dalam perundingan perlucutan senjata nuklir.”

Billingslea menjawab dengan menulis cuitan, “China harus mempertimbangkan kembali. Mencapai status Kekuatan Hebat mengharuskan berperilaku dengan tanggung jawab Kekuatan Besar. Tidak ada lagi Tembok Raksasa Kerahasiaan mengenai penambahan kekuatan nuklirnya. Kursi menunggu China di Wina.”

Perjanjian START Baru AS-Rusia yang disepakati pada tahun 2010 menetapkan pembatasan 1.550 hulu ledak nuklir bagi masing-masing pihak. Kesepakatan ini akan berakhir pada Februari 2021.

Para pakar senjata menyatakan waktu bagi pembicaraan itu terlalu singkat untuk memperbarui suatu kesepakatan rumit antara AS dan Rusia, apalagi untuk merundingkan dan menyusun perjanjian baru yang melibatkan China, dengan pemilihan presiden AS yang semakin dekat. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG