Tautan-tautan Akses

Trump Bantah Beri Lampu Hijau pada Turki Untuk Serang Suriah


Anak perempuan asal Suriah yang terpaksa mengungsi akibat operasi militer Turki di timur laut Suriah, menangis di bus yang membawanya ke kamp Bardarash, utara Mosul, Irak, 16 Oktober 2019.
Anak perempuan asal Suriah yang terpaksa mengungsi akibat operasi militer Turki di timur laut Suriah, menangis di bus yang membawanya ke kamp Bardarash, utara Mosul, Irak, 16 Oktober 2019.

Presiden Amerika Donald Trump dengan tegas menolak tuduhan bahwa ia bertanggung jawab terhadap invasi Turki ke bagian timur laut Suriah.

“Saya tidak memberinya lampu hijau,” ujar Trump dalam konferensi pers pada Rabu (16/10) menanggapi pertanyaan wartawan tentang apakah interaksinya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membuka jalan bagi serangan militer terhadap Kurdi.

Trump menyebut pertanyaan itu menyesatkan. Anggota-anggota Kongres dari faksi Republik dan Demokrat sama-sama menuduh presiden telah membuka jalan bagi operasi militer Turki. Namun Trump mengatakan “saya tidak akan terlibat dalam perang antara Turki dan Suriah.”

Trump menambahkan bahwa ofensif Turki “tidak mengejutkannya.” Tindakan Turki telah dengan cepat mengubah keseimbangan kekuasaan di timur laut Suriah dan memicu Rusia, Turki dan Iran mengisi kekosongan pasukan setelah Trump memerintahkan penarikan mundur pasukan Amerika dari kawasan itu.

Trump mengatakan kepada wartawan, ia tidak menyesal dengan hanya menyisakan 26-28 personel militer di Suriah ketika Turki bergerak melintasi perbatasan.

Trump juga menyebut pasukan Kurdi, yang telah menjadi sekutu Pentagon dalam pertempuran melawan teroris ISIS, sebagai sosok “bukan malaikat.” Ditambahkannya, PKK Kurdi “lebih buruk dibanding ISIS.”

Dalam konferensi pers bersama Presiden Italia Sergio Mattarella, Trump menyampaikan keprihatinan terhadap serangan Turki, merujuk pada sejumlah besar warga sipil yang menjadi korban, dan mengingatkan bahwa hal itu dapat mendorong kebangkitan ISIS.

DPR, Rabu (16/10), menyetujui resolusi menentang keputusan Presiden Trump untuk mengakhiri operasi Amerika di Suriah, dan menyerukan kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk segera mengakhiri aksi militer, dan agar Amerika tetap mendukung pasukan Kurdi.

Resolusi itu mendesak Gedung Putih untuk “menyajikan rencana yang jelas dan spesifik untuk memastikan kekalahan abadi ISIS.” Sebagian besar anggota faksi Republik juga mendukung resolusi itu.

Senator faksi Republik Lindsey Graham, yang biasanya menjadi sekutu presiden, mengecam secara terus terang pernyataan terakhir Trump tentang masalah ini.

“Saya khawatir kita tidak lagi akan memiliki sekutu di masa depan untuk melawan kelompok Islam radikal. ISIS akan muncul kembali dan peningkatan jumlah Iran di Suriah akan menjadi mimpi buruk bagi Israel. Saya khawatir ini adalah akan menjadi bencana keamanan nasional yang lengkap dan menyeluruh, dan saya berharap Presiden Trump akan menyesuaikan pandangannya,” cuit Graham di Twitter. [em/ft]

XS
SM
MD
LG