Selasa, 21 Mei 2013 Waktu Washington, DC: 15:42

Berita / Indonesia

Pemerintah akan Tarik 11 Ribu Pekerja Anak

Pemerintah Indonesia merencanakan akan menarik sekitar 11 ribu pekerja anak untuk disekolahkan pada tahun 2012 ini.

Seorang anak perempuan membantu orang tuanya bekerja menjadi pemulung sampah di Bantar Gebang, Jakarta (foto: dok). Pekerja anak di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 1,7 juta anak.
Seorang anak perempuan membantu orang tuanya bekerja menjadi pemulung sampah di Bantar Gebang, Jakarta (foto: dok). Pekerja anak di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 1,7 juta anak.
UKURAN HURUF - +
Fathiyah Wardah
Pekerja anak masih jadi masalah besar di dunia, termasuk Indonesia.  Organisasi Perburuhan Internasional menyatakan pekerja anak di Indonesia saat ini  mencapai 1,7 juta anak. Mereka kebanyakan berumur 15 hingga 17 tahun.

Juru Bicara Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Suhartono kepada VOA, Senin mengatakan pemerintah akan menarik sekitar 11 ribu pekerja anak untuk disekolahkan pada tahun 2012 ini.

Sebelas ribu anak tersebut kata Suhartono tersebar di 21 provinsi seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Jawa Tengah. Di 21 provinsi itu, jumlah pekerja anaknya sangat tinggi. Mereka kebanyakan bekerja di perkebunan, pertambangan, anjungan lepas pantai, industri alas kaki serta anak yang menjadi korban perdagangan manusia.

Menurut Suhartono, pemerintah akan melakukan upaya penarikan anak melalui pendampingan di shelter selama satu bulan yang dilakukan oleh pendamping dari Lembaga Swadaya Masyarakat dan juga tutor dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hal itu dilakukan untuk memotivasi pekerja anak tersebut agar mempunyai keinginan untuk kembali ke dunia pendidikan baik formal, kursus-kursus atau keterampilan. Setelah itu, kata Suhartono mereka akan disekolahkan.

"Menarik mereka dari dunia kerjanya untuk melanjutkan ke pendidikan. Karena keterbatasan dana,tahun ini 11 ribu akan kita tarik. Dan semoga tahun depan kita akan lebih banyak lagi," ungkap Suhartono.

Suhartono menambahkan faktor kemiskinan merupakan salah satu penyebab banyaknya jumlah pekerja anak di Indonesia. Untuk itu selain melakukan penarikan para pekerja anak kata Suhartono pemerintah juga akan melakukan pemberdayaan ekonomi keluarga anak yang menjadi pekerja anak dengan diberikannya pelatihan wirausaha dan bantuan peralatan berwirausaha.

Sementara, Koordinator Program untuk Pekerja Anak dari Organisasi Perburuhan Internasional Dede Shinta menghargai upaya pemerintah dalam mengurangi jumlah pekerja anak di Indonesia. Meski demikian, Dede meminta pemerintah untuk memperkuat penegakan hukum pada persoalan ini.

Dede menambahkan pemerintah juga harus melakukan upaya pencegahan melalui pendidikan agar pekerja anak di Indonesia tidak terus bertambah.

Dede Shinta memaparkan, "Angka di bawah 15 tahun itu sebetulnya lebih kecil dibandingkan anak usia 15-17 tahun untuk pekerja anak. Artinya, program pemerintah yang belajar 9 tahun itu (gratis) itu sudah cukup bagus artinya  bisa menekan anak-anak untuk tetap bersekolah dan tidak bekerja. Terus bagaimana anak usia 15 -17 tahun? Nah disitu angka 15-17 menjadi tinggi karena anak-anak itu setelah SMP banyak yang kemudian mau melanjutkan kemana? Sekolah SMA/SMK masih harus bayar. Akhirnya keterbatasan itu yang membuat mereka jatuh ke pekerjaan-pekerjaan yang terburuk."

Sedangkan pengamat masalah pekerja anak dari Universitas Atmajaya Jakarta Prof. Irwanto menjelaskan tingginya jumlah pekerja anak di Indonesia salah satunya juga disebabkan tidak adanya kerjasama antar kementerian maupun pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah ini.

"Kenapa anak bekerja karena dia keluar dari sekolah, kenapa anak keluar dari sekolah karena miskin. Kalau sektor-sektor itu tidak mau bekerjasama dengan Kemenakertrans (Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi) yah tidak mungkin dong," ujar Irwanto.

Menurut catatan ILO pada tahun 2011, terdapat 215 juta pekerja anak di dunia. Hampir 60 persen anak bekerja di tempat berbahaya seperti pertambangan.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Anonim
11.06.2012 20:32
Semoga cepat terwujud.


oleh: marsista dari: semarang
11.06.2012 12:51
myself contemplation:
ketika kita yang diberikan kesempatan untuk menikmati bangku pendidikan justru sering menyia-nyiakannya dengan membolos dan sebagainya,
terkadang kita tidak sadar bahwa ternyata di luar sana masih banyak saudara kita yang kurang beruntung yang bahkan tidak terpikir untuk mencicipi bangku sekolah karena keterbatasan biaya
semoga langkah baik pemerintah ini dapat berkelanjutan dan diridhai Allah

 Aktivitas di Facebook

Ikuti Kami

Video-video Terbaru

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
Video

Video Respon AS terhadap Konflik Rohingya - Liputan Berita VOA

Seperti di tanah air, aksi kekerasan terhadap Muslim Rohingya juga mendapat perhatian dari pemerintah maupun sebagian rakyat Amerika Serikat. Presiden Barack Obama meminta pemerintah Burma yang juga dikenal sebagai Myanmar serius merespon serangan dan relokasi paksa warga Rohingya. Amerika berharap berbagai konflik etnis di negara yang baru berdemokrasi tersebut bisa segera diatasi. Selengkapnya dilaporkan Nova Poerwadi dan tim VOA dari Washington, D.C
Video-video Lainnya

Galeri Foto

JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
JavaScript Anda dimatikan atau Anda memiliki versi Adobe Flash Player yang lama. Dapatkan Flash Player terbaru.
  • Seorang nelayan Palestina melemparkan jaringnya di sebuah pantai di kota Gaza, Palestina.
  • Gedung Parlemen Eropa saat para anggota parlemen menghadiri sesi voting di Strasbourg, Prancis.
  • Mobil-mobil yang rusak terlihat di tempat parkir sebuah Rumah Sakit setelah tornado menghantam kota Moore, negara bagian Oklahoma, 20 Mei 2013.
  • Mantan Presiden AS Bill Clinton mendengarkan Menteri Federal Jerman untuk Tenaga Kerja dan Sosial Ursula von der Leyen, kedua dari kanan, dalam sebuah forum yang membahas solusi bagi masalah pengangguran kaum muda Eropa di Universitas Madrid, Spanyol.
  • Seorang anggota geng jalanan Mara 18 yang dipenjarakan, berpose untuk foto di penjara Izalco, sekitar 65 km dari San Salvador, El Salvador.
  • Seorang pekerja berjalan di sebuah jalan kereta api baru di kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China.
  • Penyelam mendekati Leopard Ray pada sebuah pameran di Marine Life Park, Resorts World, salah satu atraksi wisata terbaru di Singapura.
  • Dua mahasiswa pegulat sumo membawa bayi yang menangis di samping wasit (tengah) dalam acara Kompetisi 'Bayi Menangis' di kuil Sensoji di Tokyo, Jepang.
  • Seorang anak laki-laki duduk di bawah kereta sambil menunggu koin jatuh dari kereta selama festival kereta 'Rato Machhindranath' di kota Lalitpur, Nepal.
Lainnya