Senin, 22 September 2014 Waktu UTC: 12:11

Berita / Indonesia

Lembaga Gereja Indonesia Serukan Toleransi dan Kebebasan Beribadah

Dalam pesan Natalnya, lembaga-lembaga gereja Indonesia menyerukan umat berbagi kasih dan toleransi serta meminta pemerintah menjamin kebebasan beribadah.

Gereja Katedral di Jakarta Pusat. (VOA/Andylala Waluyo)
Gereja Katedral di Jakarta Pusat. (VOA/Andylala Waluyo)
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) menyerukan pesan Natal bersama 2012 yang bertemakan "Allah Telah Mengasihi Kita".

Sekretaris Umum PGI Pendeta Gomar Gultom kepada VOA, Selasa (24/12) mengatakan kedua lembaga tersebut mengajak umat Kristiani untuk meneladani kasih Allah untuk bersama-sama memulihkan wajah kemanusiaan yang semakin rusak.

Pendeta Gomar juga mengimbau umat Kristiani juga diimbau untuk berbagi kasih dengan masyarakat tanpa memandang bulu.

“Tema pesan Natal seperti itu agar orang Kristen berbagi kasih kepada masyarakat tanpa memandang bulu, dan tanpa mengharapkan imbalan. Peristiwa natal, mendemontrasikan kasih Allah untuk memulihkan wajah kemanusiaan yang telah rusak,” ujarnya.

“Nah, orang Kristen yang merayakan Natal, diajak oleh PGI dan KWI untuk bersama-sama memulihkan juga wajah kemanusiaan kita yang semakin porak poranda belakangan ini. Misalnya kemiskinan dan korupsi, itu adalah bagian dari perusakan wajah kemanusiaan.”

Pendeta Gomar juga sekaligus mengajak umat kristiani untuk bersama-sama patuh dan sadar hukum mulai dari diri sendiri, karena kasih tanpa hukum menurutnya, bisa mengacaukan kehidupan bermasyarakat.    

Sementara itu, terkait dengan maraknya pelarangan pendirian gereja selama 2012 ini, Pendeta Gomar meminta kepada pemerintah agar menjamin hak beribadah setiap warga negara di tengah perbedaan yang ada.

“Banyaknya ibadah-ibadah yang dilarang atau gereja sulit berdiri, itu dipahami sebagai pemaksaan kehendak oleh sekelompok orang yang bertentangan dengan kasih Allah,” ujarnya.

“Oleh karena itu, umat Kristen harus memberikan teladan berupa keterbukaan kepada umat yang lain tanpa memaksakan kehendak. Yang kedua adalah, gereja juga meminta kepada pemerintah untuk menjamin hak-hak dari setiap warga negara untuk mampu hidup bersama di tengah perbedaan.”

Pendeta Gomar Gultom menambahkan, pemerintah harus bisa mendidik masyarakat untuk beragama dengan cerdas dan penuh kasih sehingga hukum bisa ditegakkan.

Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Romo Benny Susetyo mengatakan dalam Natal tahun ini, umat manusia juga harus terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah yang ada di masyarakat seperti sikap intoleran dan konflik sosial yang marak belakangan ini.

“Melibatkan diri dalam berbagai usaha yang dilakukan untuk mengatasi persoalan kemasyarakatan seperti konflik kemanusiaan, sikap intoleran dan perilaku serta tindakan yang menjauhkan dari semangat persaudaraan sebagai sesame warga bangsa,” ujarnya.

Romo Benny juga mengajak umat kristiani untuk berpihak kepada mereka yang miskin dan peduli terhadap alam semesta.

“Umat manusia, khususnya umat kristiani harus mewujudkan kasih Allah itu di dalam kehidupan sehari-hari yang lebih nyata. Maka kasih itu lebih nyata dalam karya kita untuk berpihak pada mereka yang miskin, biasakan hidup berbagi, dan setiap kali kita merayakan Natal berarti Allah yang mengasihi kita itu kita diajak untuk lebih peduli satu dengan yang lain,” ujarnya.

“Kepedulian itu bisa dalam wujud, pertama Allah menciptakan alam semesta dan menyerahkan pemeliharaan serta pemanfaatan secara sungguh-sungguh kepada manusia. Maka perilaku yang tidak bertanggung jawab terhadap alam, akan menyesengsarakan bukan hanya kita yang hidup saat ini tetapi di generasi yang akan datang.”
Forum ini telah ditutup.
Komentar-komentar
     
Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook