Minggu, 21 September 2014 Waktu UTC: 06:05

Berita / Indonesia

Pengamat: Konsumen Dirugikan akibat Kebijakan Kuota Impor Daging Sapi

Target Indonesia untuk bisa memproduksi beberapa kebutuhan bahan pokok secara swasembada kini memicu kontroversi, dengan naiknya harga-harga serta ditambah munculnya kasus korupsi tingkat tinggi.

Seorang ibu membeli daging sapi di Jakarta (foto: dok). Menurut pengamat, harga daging sapi di Indonesia menjadi yang termahal sejak berlakunya pengurangan kuota impor daging sapi.
Seorang ibu membeli daging sapi di Jakarta (foto: dok). Menurut pengamat, harga daging sapi di Indonesia menjadi yang termahal sejak berlakunya pengurangan kuota impor daging sapi.
Kate Lamb
Para kritikus mengatakan keputusan pemerintah untuk memotong impor daging secara drastis, tidak menguntungkan dan memicu reaksi marak dari para konsumen. 

Kontroversi tentang daging sapi mencapai tingkat baru beberapa pekan ini ketika para penjual bakso kedapatan mencampur daging sapi dengan daging babi.  Berita ini menjadi skandal media di negara yang mayoritas beragama Islam, di mana babi merupakan makanan terlarang atau haram.  Para penjual bakso – yang biasanya berjualan dengan kereta dorong – terpaksa menggunakan daging babi dalam pembuatan bakso karena meroketnya harga daging sapi.

Setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memotong kuota impor daging sapi hingga hampir dua per tiga tahun lalu, harga daging sapi meningkat.  Pemerintah berencana melakukan lebih banyak pemotongan impor akhir tahun ini. 

Thomas Sembiring – Direktur Eksekutif Asosiasi Pengimpor Daging Indonesia mengatakan, masalah utamanya adalah tekad Menteri Pertanian untuk mencapai swasembada komoditi-komoditi penting seperti beras, daging sapi, gula, kacang kedele dan jagung – selambat-lambatnya pada tahun 2014.

“Menteri Pertanian terlalu terobsesi dengan swasembada.  Daging sapi di Indonesia bahkan menjadi yang termahal.  Anda tahu apa rekomendasi Menteri Pertanian?.  Jika tidak mampu membeli daging, jangan makan daging!,” kata Sembiring.

Thomas Sembiring mengatakan pemerintah Indonesia melihat kenyataan di pasar dan mimpi swasembada-nya menutupi fakta bahwa banyak orang kini tidak mampu membeli daging sapi. 

Kenaikan harga juga telah memicu skandal-skandal karena beberapa pejabat berupaya menarik keuntungan dari situasi ini.

Skandal terbaru melibatkan kepala partai Islam konservatif – Partai Keadilan Sejahtera PKS – yang ditangkap pekan lalu karena menerima suap dari importir daging sapi, agaknya untuk membantu mempengaruhi kebijakan pemerintah.

Saat ini satu kilogram daging sapi bernilai lebih dari 13 dollar.  Tahun ini pemerintah berencana memotong impor lebih jauh hingga 30% bagi sapi hidup dan 6% bagi daging sapi, meskipun konsumsi meningkat 13%.

Pemerintah Indonesia membela target swasembadanya demi ketahanan pangan, tetapi ekonom Fauzi Ichsan mengatakan belum jelas apakah produser-produser di dalam negeri sudah mampu mengatasi kurangnya impor. 

“Ada dua isu di sini, pertama, dengan memberlakukan tarif impor atas komoditi ini, berarti menimbulkan resiko inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri.  Jadi ada dampak inflasi.  Kedua – belum bisa dipastikan apakah kebijakan-kebijakan seperti ini akan membangkitkan swasembada, mengingat lemahnya infrastruktur.  Jika ingin mendorong swasembada pada sektor tertentu, harus dipastikan ada infrastruktur pendukung bagi sektor itu,” ujar Ichsan.

Menurunnya impor produk-produk hewani juga telah memicu kemarahan Amerika, yang baru-baru ini menyampaikan keluhan kepada Organisasi Perdagangan Dunia WTO bahwa Indonesia kini membatasi perdagangan hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Forum ini telah ditutup.
Urutan Komentar
Komentar-komentar
     
oleh: Arwin dari: Indonesia
06.02.2013 08:36
Pemerintah Amerika serikat mungkin dapat melobi pemerintah Indonesia supaya mengekspor daging sapi segar ke Indonesia secara besar-besaran.Bukankah Indonesia sudah menandatangani traktat perdagangan bebas Asia Pasifik,kalau tidak siap kenapa berani sembarang tanda tangan.agar harga daging sapi terjangkau untuk masyarakat bawah.


oleh: Arwin dari: Indonesia
06.02.2013 08:36
Pemerintah Amerika serikat mungkin dapat melobi pemerintah Indonesia supaya mengekspor daging sapi segar ke Indonesia secara besar-besaran.Bukankah Indonesia sudah menandatangani traktat perdagangan bebas Asia Pasifik,kalau tidak siap kenapa berani sembarang tanda tangan.agar harga daging sapi terjangkau untuk masyarakat bawah.


oleh: Rakean Agung dari: Tangerang
06.02.2013 07:12
Yang jelas harga daging Sapi jadi melambung tinggi,benar apa adanya jadi termahal didunia.Karena daging sapi impor itu.Karena daging impor itu,banyak pihak yang diuntungkan dan penyediaan daging untuk konsumen lebih cepat terpenuhi,gampangnya saja. Tapi,dari sisi lain,selain harga daging sulit dikontrol dan tidak mung kin dituriunkan karena biaya lain2nya jadi tinggi,serta ujung2nya dibebankan kepada pembeli, kepada konsumen.Ya,bangsa ini jadi sebtas konsumen saja. Padahal,kita berharap bisa mandiri dan berdaulat dibidang pangan ini,sebtas daging sapipun,mengapa tidak.Rupanya,jauh dari keberpihakan kepada bangsa sendiri dan lebih kepada profit oriented,bussines diutamakan.Jadilah,daging bancakan semua pihak,dan ujung2nya presiden PKSpun,tersandung kasus, Kasus daging berjanggut,Sapi impor itu.Karena,korupsi itu tidak individual dan berjamah pula,maka akan banyak pula yang menyusul di Gunturkan,termasuk Mentannya,mungkin saja.Kita, tunggu gebrakan KPK selanjutnya.


oleh: Pengamat
06.02.2013 03:58
Sudah tepat kebijakannya melarang impor daging sapi, sebab impor daging sapi rawan korupsi. Pemerintah perlu mensubsidi peternak sapi lokal agar harga daging sapi bisa turun ke Rp 30 ribu/ kg


oleh: adil dari: tangerang
06.02.2013 03:51
bangsa ini tercipta dari kesederhanaan, harga naik karena tingginya permintaan dari "Orang2 kaya dan penggemar kolestrol". jadi menurut saya lebih baik bangsa ini mencintai budaya yang diturunkan leluhur. tahu, tempe, sayur mayur dan buah2an itulah yg kita jaga jgn sampai naik!!! kalau daging mah Emang Gue Pikirin.


oleh: Kristanto Hartadi dari: Jakarta
06.02.2013 03:46
Persoalan pengadaan daging sapi memang akhirnya menjadi sumber berkembangnya para mafia dan pencari rente dengan dalih kita kekurangan daging sapi. Benar adanya bahwa jumlah populasi sapi kita tidak cukup kalau untuk memenuhi konsumsi seluruh penduduk, hanya saja konsumsi daging sapi kita per kapita masih rendah, dan kebutuhan daging sapi maupun sapi bakalan pada umumnya hanya melonjak saat lebaran dan idul adha. Jadi, menurut saya kampanye swasembada daging sapi tidak perlu, karena lahan kita terbatas sehingga tidak menguntungkan dari sisi lingkungan, sebaiknya kembangkan sumber protein hewani lainnya yang tidak banyak memakan lahan dan pertumbuhannya bisa lebih cepat ketimbang sapi (unggas, ikan air tawar dll), atau kembangkan perikanan tangkap secara optimal mengingat kita adalah negara kepulauan terbesar di dunia.

Ikuti Kami

 Aktivitas di Facebook