Rabu, 25 Mei 2016 Waktu: 23:45

    Berita / Indonesia

    Indonesia Targetkan Bebas Perilaku Buang Air Besar Sembarangan 2014

    Sekitar 109 juta orang Indonesia tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang layak, dan 40 juta orang masih buang air besar sembarangan.

    Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (kanan) dalam pembukaan Konferensi Tingkat Menteri Asia Timur mengenai Sanitasi dan Higienitas di Bali. (VOA/Muliarta)
    Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (kanan) dalam pembukaan Konferensi Tingkat Menteri Asia Timur mengenai Sanitasi dan Higienitas di Bali. (VOA/Muliarta)
    Muliarta
    Pemerintah menargetkan tidak akan ada lagi penduduk Indonesia yang buang air besar sembarangan pada 2014.

    Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan perkiraan sekitar 109 juta orang di Indonesia yang belum mendapatkan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dan air bersih. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada Senin (10/9) mengatakan bahwa tidak adanya akses tersebut antara lain karena rendahnya tingkat pengetahuan dan karena tingkat ekonomi masyarakat yang tidak mampu untuk membangun fasilitas sanitasi.

    Padahal sanitasi dan perilaku hidup sehat akan mengurangi kejadian penyakit yang menular melalui air, serta memberikan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi yang signifikan, ujar Nafsiah pada Konferensi Tingkat Menteri Asia Timur mengenai sanitasi dan kebersihan di Nusa Dua, Bali.

    “Coba saja kalau semua orang buang air besar di tempat yang seharusnya sehingga tidak menyebarkan kuman-kuman, berapa persen diare bisa dikurangi? Jika penanganan air dan sanitasi komprehensif, itu bisa menurunkan hingga 90 persen. Berarti dana untuk mengobati bisa dipakai untuk hal-hal yang lebih produktif,” tutur Nafsiah.

    Dormaringan H. Saragih, staf bidang air perkotaan, sanitasi dan kebersihan dari badan PBB yang mengurus anak-anak (UNICEF) Indonesia menyatakan di Indonesia terdapat sekitar 40 juta orang yang masih buang air besar sembarangan, tidak hanya di daerah pedesaan tetapi juga di daerah perkotaan

    “Justru di kota, terutama di kawasan kumuh itu jauh lebih kompleks. Mereka bukan warga tetap, pemukimannya sangat padat dan segala macam. Akhirnya ada dari mereka kemudian sambil mau pergi kerja contohnya, kemudian dia buang air besar di rumah, sambil di jalan dibungkus plastik kemudian dibuang ke selokan atau tempat sampah. Kalau di desa dia akan pergi ke kebun,” ujarnya.

    Berdasarkan penelitian Bank Dunia, dampak sanitasi yang buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal US$9 miliar per tahun. Sementara laporan pemantauan bersama antara badan kesehatan dunia (WHO) dan UNICEF pada 2012 menyebutkan lebih dari 2 miliar orang di dunia memperoleh akses ke sumber-sumber air yang lebih baik selama 1990 hingga 2010.

    Lihat Juga

    Perusakan Masjid Ahmadiyah Nodai Toleransi di Jawa Tengah

    Jawa Tengah selama ini dikenal sebagai daerah yang cukup sejuk dan toleran, namun perusakan Masjid Ahmadiyah di Kabupaten Kendal, seolah merusak predikat itu. Selengkapnya

    Obama Puji Pemuda Vietnam dalam Perbincangan Akrab

    Presiden AS Barack Obama mengatakan, berinteraksi dengan para pemuda dalam lawatan tiga harinya ke Vietnam membuatnya optimistis mengenai masa depan negara itu. Selengkapnya

    HRW Kecam Industri Tembakau Terkait Pekerja Anak

    Meskipun UU Indonesia melarang anak-anak di bawah usia 18 tahun bekerja di lingkungan berbahaya, banyak anak yang bekerja di pertanian tembakau yang jumlahnya kini mencapai sekitar 500 ribu dan tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Selengkapnya

    Forum ini telah ditutup.
    Komentar-komentar
         
    Tidak ada komentar di forum ini. Jadi yang pertama dan pasang komentar Anda

    Ikuti Kami