Tautan-tautan Akses

Sarana Sanitasi Praktis untuk Buang Air di Wilayah Kumuh


Di permukiman kumuh Kibera, Kenya, ini sebagian besar warga harus menggunakan "jamban bayaran" (foto: dok.).

Di permukiman kumuh Kibera, Kenya, ini sebagian besar warga harus menggunakan "jamban bayaran" (foto: dok.).

Dua warga Swedia menciptakan sarana sanitasi yang dapat terurai sepenuhnya yang dapat digunakan sebagai pengganti toilet di pemukiman kumuh.

Karen adalah seorang anak perempuan berusia 12 tahun dari pemukiman kumuh Kibera di Nairobi. Ia terbiasa menggunakan apa yang dikenalnya sebagai pay toilet – atau jamban dengan bayaran antara 6 hingga 12 sen setiap kali menggunakannya. Jamban warga ini jarang dibersihkan atau dikosongkan, dan antriannya panjang. Karen menceritakan bagaimana kondisi pada pagi hari.

“Kalau pergi ke “jamban bayaran” mungkin saat itu kita mengalami diare. Banyak orang antri di depan jamban menunggu orang lain untuk keluar dari toilet. Anda dan diare yang Anda alami hampir keluar, tapi kita harus menunggu hingga semua orang selesai menggunakan toilet dan kita akan menjadi orang terakhir,” paparnya.

Di Kibera, pilihan-pilihan sanitasi terbatas. Warga dapat menggunakan “toilet bayaran” atau “toilet gratis” tergantung mana yang lebih sedikit antri atau kosong.

Tetapi, mungkin yang paling terkenal adalah “toilet terbang” yang bisa dibawa ke mana-mana, karena orang buang air di sebuah kantung plastik kemudian mengikatnya dan melemparkannya jauh-jauh.

Anak di perkampungan kumuh Kibera di Nairobi, Kenya menunjukkan toilet 'Peepoo' (foto: dok).

Anak di perkampungan kumuh Kibera di Nairobi, Kenya menunjukkan toilet 'Peepoo' (foto: dok).

Menanggapi masalah ini, dua arsitek Swedia, Camilla Wirseen dan Anders Wilhelmson, menciptakan peepoo, yaitu sebuah kantung tipis yang terbuat dari plastik yang dapat terurai dan dilengkapi dengan semacam corong. Pada bagian bawah ditambahkan urea yang menguraikan kotoran manusia itu dan membunuh bakteri patogen. Camilla Wirseen menjelaskan tentang kantung toilet ini.

“Ini seperti telefon seluler. Taruh di kantung dan gunakan kapan saja perlu. Keperluan untuk buang air merupakan masalah penting. Jadi jika kita memilikinya, tinggal pakai, ikat bagian atasnya dan buang,” paparnya.

Selain mengganggu aktivitas karena waktu yang terbuang untuk antri menggunakan “jamban bayaran” atau “jamban gratis,” warga Kibera menghadapi risiko keamanan yang sangat besar jika mereka perlu buang air pada malam hari.

Karen yang baru berusia 12 tahun bahkan menyadari bahaya ini.
“Jika pergi ke jamban pada malam hari kita bisa diperkosa orang. Jika ada anak-anak yang tidak ditemani orang dewasa, anak itu bisa diperkosa. Jika kita orang dewasa dan pergi ke jamban sendirian, pencuri bisa mencuri barang-barang kita,” ujar Karen.

Di tengah masalah “jamban bayaran” dan “jamban gratis” dan “jamban genggam” yang kerap pecah ketika dilempar, maka sanitasi merupakan masalah besar. Camilla Wirsee mengatakan kantung jamban “peepoo” dirancang untuk membantu mengatasi masalah-masalah ini.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG