Tautan-tautan Akses

Usai Piala Dunia, FIFA Gulirkan 'Football for Hope'

  • Leonard Triyono

Selagi sepak bola Piala Dunia memasuki hari-hari terakhir, Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma dan para pejabat teras FIFA meresmikan turnamen paralel antara tim-tim remaja kurang beruntung dari 32 negara.

Presiden FIFA Sepp Blatter menyertai Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma ke distrik Alexandra, di kota Johannesburg timur laut, untuk peluncuran turnamen 'Football for Hope' atau turnamen Sepakbola bagi Harapan.

Tujuan Football for Hope, menurut Blatter adalah untuk menghubungkan dan mengumpulkan warga dunia untuk menikmati sepakbola. "Kita tahu, kita sedang menyelenggarakan Piala Dunia di Afrika Selatan. Apakah turnamen ini untuk benua Afrika saja? Tidak, ini untuk seluruh dunia,” tukas Blatter.

Turnamen ini menjadi acara pertama program jangka panjang Football for Hope yang bertujuan menggunakan popularitas sepak bola bagi perubahan sosial.

Pertandingan yang berlangsung selama tujuh hari ini, menyandingkan tim-tim anak-anak miskin baik putra maupun putri dari 32 negara di seluruh dunia. Turnamen ini dijadwalkan bertepatan dengan penghujung turnamen Piala Dunia yang akan berakhir pada hari Minggu ini dan menjadi bagian dari program warisan Piala Dunia FIFA.

Mengenai turnamen Piala Dunia sendiri, menurut Blatter, Afrika Selatan sukses menjadi penyelenggara Piala Dunia pertama di benua Afrika. Presiden Jacob Zuma menanggapi pujian itu dengan berterima kasih kepada presiden FIFA atas dukungan tiada henti di hadapan orang-orang yang meragukan acara itu dapat diselenggarakan dengan sukses di Afrika.

"Yang istimewa tentang Presiden FIFA adalah bahwa ketika ada orang-orang yang skeptis yang mengatakan ini tidak mungkin terjadi, ia mengatakan ini akan terjadi. Orang tidak percaya kami mampu melakukannya. Dan nyatanya kami telah melakukannya. Acara Piala Dunia ini telah menjadi turnamen yang hebat, dan sekarang, sebagai puncaknya adalah Football for Hope," ujar Zuma.

Program Football for Hope ini disponsori oleh FIFA bekerjasama dengan berbagai LSM di sekitar 50 negara.

Program ini berusaha menarik para remaja kurang beruntung melalui sepakbola untuk menggalakkan pendidikan tentang kesehatan dan hak-hak anak, perdamaian, anti-diskriminasi dan lingkungan.

Sebuah tim remaja Israel dan Palestina akan ikut bertanding. Demikian juga dengan kesebelasan-kesebelasan dari Rwanda, Sierra Leone, Bosnia-Herzegovina dan Serbia, Kamboja, Inggris dan Amerika.

Tidak ada wasit dalam pertandingan. Para pemain harus menyelesaikan sendiri segala masalah yang timbul.

FIFA mengatakan pihaknya berencana membangun 20 Pusat Football for Hope di Afrika tahun ini. Dua di antaranya telah diresmikan di Cape Town dan Johannesburg, Afrika Selatan.

XS
SM
MD
LG