Tautan-tautan Akses

Fans Negara Afrika Nikmati Piala Dunia Bersejarah

  • Budi Setiawan

Pendukung fanatik timnas Nigeria melakukan parade di pusat kota Johannesburg.

Pendukung fanatik timnas Nigeria melakukan parade di pusat kota Johannesburg.

Piala Dunia ini mempunyai makna istimewa bagi seluruh warga Afrika, sebagai Piala Dunia pertama di benua ini.

Demam Piala Dunia marak di Afrika Selatan. Café dan restoran diseluruh pelosok negara itu penuh sesak dengan penggemar yang menyaksikan berbagai pertandingan-pertandingan itu. Suasana makin gegap gempita apabila tim Afrika bertanding.

Akhir pekan lalu, misalnya, pendukung kesebelasan Nigeria, yang banyak diantaranya dari kaki sampai kepala mengenakan warna nasional mereka, yakni hijau dan putih, melakukan parade spontan melalui jalan-jalan di Hillbrow, pusat kota Johannesburg, sebelum tim kesebelasan mereka bertanding melawan Argentina.

Ribuan warga Nigeria hidup dan bekerja di Afrika Selatan, jauh dari sanak keluarga mereka. Namun, apabila mereka berkumpul, makanan, musik dan percakapannya menyebabkan mereka seperti berada di kampung halaman.

Piala Dunia ini mempunyai makna istimewa bagi seluruh warga Afrika, karena ini merupakan pertama kalinya turnamen ini berlangsung di benua ini.

Para pendukung Kamerun meniupkan instrumen khas Afrika Selatan, 'vuvuzela,' di depan Stadion Free State di Bloemfontein.

Para pendukung Kamerun meniupkan instrumen khas Afrika Selatan, 'vuvuzela,' di depan Stadion Free State di Bloemfontein.

Sebagai tuan rumah, Afrika Selatan otomatis lolos kualifikasi dan enam kesebelasan Afrika berpartisipasi untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ini membuat penggemar bola di Afrika tambah bergembira.

Philip misalnya, yang sedang dalam perjalanan ke stadion. Ia mengatakan menyaksikan Piala Dunia di Afrika adalah salah satu peristiwa paling besar dalam hidupnya. "Saya mengeluarkan banyak uang untuk membeli tiket dan saya akan menjadi orang paling berbahagia yang pergi ke stadion hari ini, menyaksikan pertandingan sepakbola dan melihat saudara-saudara saya sesama orang Afrika berlaga di sana,” ujar Phillip.

Hampir tiga juta tiket telah terjual untuk 64 pertandingan yang berlangsung di sembilan kota.

Delapan puluh persen tiket dijual kepada warga yang menetap di Afrika Selatan. Tapi, penjualan di negara-negara Afrika lainnya tidak selaris perkiraan.

Sekretaris Persatuan Warga Nigeria di Afrika Selatan, Prince Adesina, berbicara disalah satu kafe dekat Yeoville, mengatakan sistem pembelian tiket terlalu rumit. "Saya rasa harus ada sistem lain untuk menjual tiket kepada umum. Sistem ini sama sekali tidak mudah," ujar Adesina.

FIFA memasarkan sebagian besar tiket di situs internetnya dan menyebut dengan cara ini, akses tersedia bagi semua orang dimana saja. Tapi, banyak warga Afrika tidak punya akses ke komputer ataupun kartu kredit untuk membeli produk-produk tiket melalui situs internet FIFA.

Akhirnya, FIFA menjual tiket-tiket itu di loket di beberapa kota di Afrika Selatan dan pembelian tiket kemudian membludak. Sayangnya, bagi sebagian orang, itu sudah sangat terlambat.

XS
SM
MD
LG