Tautan-tautan Akses

UNHCR Siap Bantu Damaikan Warga Budha dan Muslim di Burma


Minoritas muslim Burma mengungsi setelah terjadi bentrokan sektarian antara umat Budha dan Muslim di kota Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine (foto: dok).

Minoritas muslim Burma mengungsi setelah terjadi bentrokan sektarian antara umat Budha dan Muslim di kota Sittwe, ibukota negara bagian Rakhine (foto: dok).

Komisaris Tinggi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR), Antonio Guterres, menawarkan bantuan untuk mendamaikan kelompok Budha dan Muslim yang bertikai di Burma.

Badan pengungsi PBB (UNHCR) melaporkan suasana tenang kembali di negara bagian Rakhine, wilayah terpencil di Burma barat. Bulan Mei, kekerasan antara warga Budha dan Muslim di Rakhine pecah setelah tiga warga Muslim ditahan menyusul terjadinya perkosaan dan pembunuhan atas seorang perempuan Budha. Lebih dari 60 orang tewas dan ribuan rumah hancur dalam bentrokan-bentrokan sektarian yang terjadi sesudahnya.

Juru bicara badan pengungsi PBB, Melissa Fleming, mengatakan UNHCR terus memantau situasi yang tidak setabil di Rakhine dengan prihatin. Ia mengatakan Komisaris Tinggi PBB Antonio Guterres menyampaikan keprihatinannya kepada para pejabat Burma dan juga tawaran bantuan.

“Kami ingin menyatakan bahwa di Negara bagian Rakhine kami benar-benar berjanji untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada kedua komunitas, Rakhine dan Muslim tanpa diskriminasi. Kami yakin ini bisa menjadi unusr bagi rekonsiliasi – bantuan ini bagi kedua komunitas – dan kami berharap situasi damai bisa diciptakan di sana, dengan aturan hukum yang berlaku dan pendekatan berdasar HAM,” ujar Fleming.

Komisaris Tinggi UNHCR, Antonio Guterres, menawarkan bantuan mediasi warga Budha dan Muslim di Burma.

Komisaris Tinggi UNHCR, Antonio Guterres, menawarkan bantuan mediasi warga Budha dan Muslim di Burma.

Pada puncak bentrokan etnik itu, ratusan warga Rakhine beragama Islam menyelamatkan diri menyeberangi Sungai Naf ke Bangladesh. Upaya mereka untuk mencari perlindungan tidak berhasil ketika Bangladesh menutup perbatasannya. Pasukan keamanan dilaporkan mendorong balik kapal-kapal pengungsi ketika mereka tiba di wilayah Bangladesh, mengakibatkan ratusan orang terkatung-katung di Sungai Naf.

Juru bicara UNHCR Fleming mengatakan kepada VOA, kondisi orang yang menyelamatkan diri ke seberang perbatasan tidak lagi gawat.

“Kami tentu saja memantau ini dan berharap semuanya akan kembali normal dan hubungan di antara kedua komunitas bisa diperbaiki lagi. Namun, salah satu masalah terburuk, tentu saja adalah kondisi tanpa aturan hukum. Kewarganegaraan di negara itu didasarkan pada etnisitas dan tidak memasukan kelompok-kelompok tertentu, termasuk penduduk Rohingya yang beragama Islam,” ujarnya lagi.

Fleming mengatakan UNHCR yakin kewarganegaraan harus diberikan kepada anggota-anggota masyarakat Muslim yang berhak mendapatkannya menurut perundang-undangan yang sekarang. Dan, lainnya, katanya, harus menerima status hukum yang sah yang akan memberi mereka hak-hak yang diperlukan untuk hidup normal di negara itu.

Mengenai isu lain, ia mengatakan Komisaris Tinggi Guterres meminta para pejabat Burma agar menjelaskan mengapa 10 petugas bantuan PBB setempat dan non-pemerintah ditangkap bulan lalu katanya atas tuduhan melakukan tindak kriminal. Ia mengatakan komisaris tinggi juga meminta supaya boleh mengunjungi tiga staf UNHCR yang masih ditahan.

XS
SM
MD
LG