Tautan-tautan Akses

Tiongkok Hadiahi Afrika Kompleks Perkantoran Uni Afrika

  • Peter Heinlein

Presiden Tiongkok Hu Jintao diberitakan akan berada di Addis Ababa tanggal 28 Januari untuk membuka apa yang disebut “hadiah Tiongkok untuk Afrika,” yaitu markas besar Uni Afrika yang didanai Tiongkok dan sebagian besar dibangun oleh buruh Tiongkok.

Presiden Tiongkok Hu Jintao diberitakan akan berada di Addis Ababa tanggal 28 Januari untuk membuka apa yang disebut “hadiah Tiongkok untuk Afrika,” yaitu markas besar Uni Afrika yang didanai Tiongkok dan sebagian besar dibangun oleh buruh Tiongkok.

Presiden Tiongkok Hu Jintao diperkirakan akan mengunjungi Addis Ababa bulan ini untuk meresmikan apa yang disebut “hadiah Tiongkok untuk Afrika,” yaitu markas besar Uni Afrika yang didanai Tiongkok dan sebagian besar dibangun oleh buruh Tiongkok.

Pejabat Uni Afrika dan sumber-sumber di Ethiopia menegaskan Presiden Hu Jintao akan berada di Addis Ababa tanggal 28 Januari untuk membuka apa yang disebut “hadiah Tiongkok untuk Afrika.” Upacara peresmian itu akan diadakan sehari sebelum para kepala negara Afrika mengadakan pertemuan bulan Januari di markas besar Uni Afrika untuk pertama kali.

Menurut kebiasaan, para kepala negara Afrika bertemu setiap bulan Januari di Addis Ababa. Tetapi, KTT sebelumnya diadakan di kantor konferensi PPB di kota itu, karena markas besar Uni Afrika terlampau kecil.

Pembangunan fasilitas baru dimulai Juni 2009, ketika posisi Addis Ababa sebagai pusat diplomasi Afrika diragukan. Kota itu telah menjadi masrkas besar Uni Afrika sejak pembentukannya, terutama karena pengaruh mendiang Kaisar Haile Selassie, yang dulunya adalah salah satu kekuatan penggerak di balik pembentukan Organisasi Persatuan Afrika (OAU) tahun 1963.

Tetapi tahun 2009 mendiang pemimpin Libya Moammar Khadafi menjadi ketua Uni Afrika, dan ia membeberkan keinginannya untuk membangun markas besar yang baru di kota kelahirannya Sirte. Namun, rencana itu gagal ketika Tiongkok berjanji mendanai 200 juta dolar fasilitas di addis Ababa. Gedung itu dibangun oleh Perusahaan Konstruksi Pemerintah Tiongkok, kebanyakan menggunakan buruh Tiongkok.

Perdana Menteri Ethiopia Meles Zenawi berkeliling fasilitas baru itu minggu lalu dan menyambut baik kerjasama erat dengan Tiongkok. Ia mengungkapkan, melobi para pejabat Tiongkok agar membangun markas besar baru, memberi tanah dekat dengan markas besar Uni Afrika yang lama, dan membebaskan pajak atas semua bahan bangunan yang diimpor. Pernyataannya itu dilaporkan oleh media pemerintah Tiongkok dan Ethiopia, yang diundang untuk meliput acara itu.

Direktur Proyek Uni Afrika Fantahun Hailemikael mengatakan fasilitas baru itu akan sangat memperbaiki kemampuan kelembagaan Uni Afrika.

“Hampir 48 tahun sejak pembentukan OAU, Uni Afrika sekarang bisa punya fasilitas besar yang bisa memenuhi kebutuhannya dalam hal perkantoran dan konferensi. Pemerintah Tiongkok dengan murah hati telah memberikan fasilitas ini sebagai hadiah untuk Afrika dan Uni Afrika,” ujar Hailemikael.

Komplek bangunan itu memiliki amphitheater berkapasitas 2.500 kursi dan tempat pendaratan helikopter, sehingga para petinggi bisa diterbangkan dari bandara, menghilangkan perlunya iring-iringan mobil pengawal yang membuat kemacetan lalu lintas. Gedung perkantoran itu akan menjadi tempat kerja bari 700 dari 1.300 pegawai Uni Afrika. Enam ratus pegawai lainnya akan tetap berkantor di gedung lama.

Fasilitas baru itu melambangkan keterlibatan Tiongkok yang semakin meningkat di Afrika, dan dengan hampir semua dari 54 negara anggota Uni Afrika.

XS
SM
MD
LG