Tautan-tautan Akses

Sikap Politik Afrika Cenderung Berkiblat ke Timur

  • Peter Heinlein

Para pemimpin Afrika bergambar bersama dalam KTT Uni Afrika di Addis Ababa, Ethiopia (Minggu 29/1).

Para pemimpin Afrika bergambar bersama dalam KTT Uni Afrika di Addis Ababa, Ethiopia (Minggu 29/1).

Pidato-pidato pembukaan KTT Uni Afrika mencerminkan perubahan sikap politik Afrika yang semakin cenderung berkiblat ke Timur.

Tiongkok merupakan tamu kehormatan pada KTT ini, dan sidang pembukaan diisi dengan pernyataan-pernyataan terima kasih atas hadiah Tiongkok berupa markas besar Uni Afrika senilai 200 juta dolar.

Para pembicara merujuk peningkatan pengaruh Tiongkok di Afrika, dan semakin besarnya kegusaran Afrika atas apa yang dirasakan sebagai campur tangan Barat dalam masalah-masalah Afrika.

Ketua Komisi Uni Afrika Jean Ping menyebut tahun 2011 sebagai tahun penuh cobaan dan kesulitan, karena lembaga-lembaga Barat memberlakukan cara pemecahan mereka atas krisis di Libya dan Pantai Gading, menampik atau mengabaikan usul-usul Afrika. Berbicara dalam bahasa Prancis melalui seorang penerjemah, ia mengatakan, “Kejadian-kejadian 2011 sangat menyulitkan sebagian upaya kita, sehingga berdampak pada kemampuan kita untuk melakukan antisipasi. Seringkali mereka menguji kekuatan persatuan dan kemampuan kita untuk memberlakukan pandangan kita dalam sebagian masalah yang merupakan kepentingan utama Afrika.”

Ketua Uni Afrika sekarang yang akan segera menyelesaikan masa jabatannya, Presiden Guinea Ekuatorial Teodoro Obiang Nguema, menuduh lembaga-lembaga Barat seperti Mahkamah Internasional bersikap anti-Afrika. Berbicara dalam bahasa Spanyol melalui seorang penerjemah, Presiden Obiang mengatakan para pemimpin Afrika tidak boleh berdiam diri terhadap apa yang disebutnya campur tangan pihak luar.

“Uni Afrika harus mengkaji pembentukan mahkamah kejahatan Afrika sendiri untuk mengakhiri semua ketidakadilan dan tindakan diskriminasi ini yang kita saksikan dalam pengadilan internasional. Afrika membutuhkan solidaritas dan koordinasi untuk mencegah pihak lain melemahkan kita dan melakukan apa saja terhadap negara-negara kita,” ujar Presiden Obiang.

Pembicara utama, pakar strategi politik Tiongkok Jia Qinglin, menunjukkan perbedaan politik luar negeri Tiongkok dengan politik luar negeri Barat. Berbicara dalam bahasa Mandarin melalui seorang penerjemah, ia mengatakan Tiongkok tidak pernah mengaitkan tawaran-tawaran bantuannya dengan kepentingan politiknya.

“Tiongkok akan mendukung tegas negara-negara Afrika dalam upaya mereka menjunjung kedaulatan dan kemerdekaan, dan menyelesaikan isu-isu Afrika sendiri. Kami memperlakukan semua negara besar atau kecil secara setara, dan kami menentang pihak besar, kuat dan kaya memperdaya yang lemah, kecil, dan miskin,” papar Jia.

Sidang dibuka dengan terpilihnya Presiden Benin Thomas Boni Yayi sebagai ketua Uni Afrika untuk jabatan satu tahun. Jabatan itu dirotasi berdasarkan kawasan, dan Presiden Boni Yayi adalah pilihan blok regional Afrika Barat atau ECOWAS. Ia seorang ekonom yang telah memimpin negara Afrika Barat itu selama enam tahun.

Sebagai ketua, Presiden Boni Yayi akan mengawasi perebutan kursi kepemimpinan Komisi Uni Afrika. Persaingan antara Ketua Komisi Uni Afrika saat ini, Jean Ping dari Gabon, dan penantangnya Nkosazana-Zuma dari Afrika Selatan akan diselesaikan hari Senin dalam pengambilan suara rahasia oleh kepala-kepala negara.

XS
SM
MD
LG