Tautan-tautan Akses

Tiongkok, Filipina Larang Penangkapan Ikan di Laut Cina Selatan


Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok yang saling berhadapan bulan lalu karena penangkapan ikan oleh warga Tiongkok di Dangkalan Scarborough mengakibatkan protes dari kedua pihak agar saling menghormati wilayah kedaulatan masing-masing.( foto, 11/5/2012).

Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok yang saling berhadapan bulan lalu karena penangkapan ikan oleh warga Tiongkok di Dangkalan Scarborough mengakibatkan protes dari kedua pihak agar saling menghormati wilayah kedaulatan masing-masing.( foto, 11/5/2012).

Tiongkok dan Filipina mengumumkan larangan sementara penangkapan ikan di wilayah Laut Cina Selatan yang diklaim mereka sebagai wilayah mereka.

Tiongkok setiap tahun memberlakukan larangan penangkapan ikan selama beberapa minggu di bagian utara Laut Cina Selatan.

Tiongkok mengatakan larangan itu, yang telah dikeluarkan sejak lebih dari satu dekade, memungkinkan persediaan ikan bertambah lagi.

Sementara, Filipina dan Vietnam mengeluh larangan sementara itu merupakan cara lain bagi Tiongkok untuk menyatakan klaimnya atas wilayah maritim yang juga diklaim kedua negara itu.

Ian Storey, yang bekerja untuk Lembaga Kajian Asia Tenggara di Singapura, mengatakan walaupun larangan tahunan penangkapan ikan yang diberlakukan Tiongkok nampaknya merupakan pemikiran baik untuk menjaga persediaan ikan, ia setuju larangan itu mungkin punya motif tersembunyi.

“Saya rasa alasan utama pelarangan penangkapan ikan ini adalah agar Tiongkok bisa menunjukkan klaim kedaulatannya di Laut Cina Selatan,” ungkap Storey.

Storey mengatakan apabila perselisihan itu dibawa ke mahkamah internasional, Tiongkok bisa menyebut larangan itu sebagai contoh pelaksanaan yurisdiksi yang efektif dan berlanjut dalam mendukung klaim teritorialnya.

Kim Bergmann, redaktur jurnal Asia-Pacific Defense Reporter and Defense Review Asia, mengatakan kepada VOA larangan sepihak itu membuat Tiongkok dan Filipina berkonfrontasi.

“Sekarang karena Filipina juga memberlakukan larangannya, saya rasa itu merupakan cara untuk mendorong proses perundingan, dan mungkin, menurut saya, bisa mengurangi ketegangan dalam jangka pendek daripada mempertinggi ketegangan itu,” papar Bergman.

Kapal-kapal Filipina dan Tiongkok saling berhadapan bulan lalu karena penangkapan ikan oleh warga Tiongkok di Dangkalan Scarborough, disebut sebagai Pulau Huangyan di Tiongkok.

Ketegangan itu mengakibatkan protes dari kedua pihak agar saling menghormati wilayah kedaulatan masing-masing.

Tiongkok mengklaim wilayah besar Laut Cina Selatan, sehingga konflik dengan klaim-klaim yang diajukan Brunei, Filipina, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam.

Salah satu penyebab utama perselisihan Laut Cina Selatan adalah perebutan mengenai wilayah-wilayah yang kaya mineral dan ikan.

Bergmann mengatakan para pakar geologi yakin Laut Cina Selatan mengandung cadangan besar minyak dan gas alam, kebanyakan terdapat di wilayah-wilayah sengketa.

“Secara keseluruhan cadangan minyak di Laut Cina Selatan mungkin mencapai 80 persen cadangan minyak Saudi Arabia. Jadi, kita bicara tentang miliaran barel minyak dan triliunan kubik gas alam,” papar Bergman lagi.

Ketegangan yang terus berlangsung mencegah dilakukannya survei medalam tentang cadangan minyak dan gas itu.

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG