Tautan-tautan Akses

Layanan Panggilan Kendaraan di Pakistan Rekrut Pengemudi Perempuan


Zar Aslam, presiden lembaga nirlaba Dana Perlindungan Lingkungan, berfoto di samping bajaj merah muda yang dikendarai dan diperuntukkan untuk perempuan. (Foto: Ilustrasi)

Sudah ada tujuh pengemudi perempuan yang berkualifikasi yang bergabung dengan armada namun pendaftaran masih terbuka.

Layanan panggilan kendaraan Careem memperkenalkan para pengemudi perempuan di Pakistan, Rabu (7/12), inisiatif langka di negara Muslim yang sangat konservatif itu, di mana perempuan hanya mencakup 22 persen dari angkatan kerja.

Careem memiliki pangsa pasar lebih besar dibandingkan pesaingnya, Uber, di sebagian besar dari 32 kota di Timur Tengah, Afrika Utara dan Pakistan di mana perusahaan itu beroperasi.

Sekarang mereka memiliki ide baru untuk Pakistan: taksi-taksi yang dikemudikan perempuan, yang akan menjemput pelanggan laki-laki maupun perempuan.

Perusahaan itu beroperasi di kota-kota Lahore, Islamabad dan Karachi di Pakistan.

“Kami ingin memberikan perempuan peluang yang sama dan kesempatan yang dimiliki laki-laki dalam memanfaatkan sarana kami untuk mendapatkan penghasilan,” ujar Manajer Umum Careem di Pakistan, Ahmed Usman.

Usman mengatakan sudah ada tujuh pengemudi perempuan yang berkualifikasi yang bergabung dengan armada namun pendaftaran masih terbuka dan perusahaan itu berharap akan lebih banyak yang bergabung.

Zahra Ali, 30, mendengar tentang Careem dari seorang teman dan merasa pekerjaan itu “terhormat” untuk membiayai dua anaknya, yang dibesarkannya seorang diri sejak kematian suaminya dua tahun lalu.

Ia punya cukup uang hanya untuk membeli mobil dan mendapatkan surat izin mengemudi tahun ini.

Ketika ia mendaftar sebagai pengemudi Careem beberapa bulan lalu, ia diberitahu bahwa tidak ada posisi untuk sopir perempuan.

Kemudian Careem menghubunginya lagi dengan kabar gembira.

“Keahlian yang saya miliki hanyalah mengemudi,” ujar Ali kepada Reuters di rumahnya di Lahore. “Sekarang saya bisa membesarkan anak-anak saya secara terhormat, memberi mereka pendidikan yang baik.”

Aasia Abdul Aziz, 46, mengatakan ia memilih bekerja untuk Careem karena adanya jaminan keamanan. Ketika ditanya tantangan menjadi pengemudi perempuan di Pakistan, Aziz mengatakan, “ketika orang-orang mulai menerima sesuatu, ketika public menyadari bahwa perempuan bisa melakukan pekerjaan tertentu dan dengan baik, saya kira tidak akan terlalu sulit.”

Kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan lain dan diskriminasi ekonomi membuat Pakistan negara paling berbahaya ketiga untuk perempuan, menurut jajak pendapat terhadap para ahli oleh Thomson Reuters Foundation tahun 2011.

Sekitar 500 perempuan dibunuh di Pakistan setiap tahun di tangan kerabat sendiri atas tuduhan merusak “kehormatan” keluarga karena kawin lari, bersekutu dengan laki-laki atau tuduhan lain yang melanggar norma-norma konservatif.

“Masalah-masalah harus dihadapi dengan berani,” ujar Ali di Lahore. “Perempuan tidak lemah. Masyarakatlah yang menggambarkannya sebagai lemah. Kita tidak boleh melangkah maju dengan ketakutan.” [hd]

XS
SM
MD
LG