Tautan-tautan Akses

Bangun Masjid, Komunitas Transgender Pakistan Harap Diterima Masyarakat


Masjid yang dibangun transgender di Pakistan

Komunitas transgender Pakistan sudah lama menjadi sasaran diskriminasi dan cemoohan. Namun, di ibu kota negara itu, sebagian anggota komunitas tersebut mengambil langkah-langkah untuk menyebarkan pesan kesetaraan dan solidaritas di kalangan orang-orang yang menjauhi mereka.

Di pinggiran kota Islamabad, tempat tinggal masyarakat berpenghasilan rendah, Nadeem Kashish mulai membangun masjid. Ia sudah lama menjadi aktivis hak-hak orang transgender.

Ia ingin menyebarkan pesan kesetaraan melalui masjid itu.

Ia mengatakan, "Semua orang sama. Tidak ada orang yang, hitam maupun putih, lebih unggul dari yang lainnya. Pesan itulah yang hendak kami sampaikan supaya tidak ada kategori ketiga, dan tidak ada orang yang mengolok-olok kami dan membuat masjid yang terpisah bagi kami. Ini adalah rumah Allah. Saya akan meminta semua orang, silakan, menyebut tempat ini rumah Allah."

Ia mengatakan, komunitas transgender harus membuat ruang sendiri dalam masyarakat. Tetapi ia percaya, masyarakat juga harus mengubah sikap.

"Saya adalah panutan bagi yang lain dan menunjukkan bahwa kami juga bisa memiliki tempat yang terhormat. Saya telah mengajar tiga atau empat perempuan transgender untuk menjadi penata rias. Saya merasa sedih kalau mereka keluar rumah untuk mengemis. Mereka sarjana tetapi mengemis dan juga dicemooh. Mungkin setelah datang ke masjid ini, pikiran dan sikap orang-orang akan berubah," tambahnya.

Nadeem Kashish, seorang transgender yang membangun masjid di Pakistan.

Nadeem Kashish, seorang transgender yang membangun masjid di Pakistan.

Ia memulai inisiatif tersebut dengan bantuan komunitas transgender. Tetapi kini orang-orang di lingkungan itu juga memberi sumbangan.

Seorang warga setempat, Mohammad Yousaf, mengatakan "Belum ada kecenderungan untuk pendidikan di sini, baik dulu maupun sekarang. Tempat ini menjadi sorotan karena masjid ini. Mungkin mereka akan mendapat semacam dukungan. Mereka pasti akan mendapat dukungan kami, dari warga, dan kami akan sebisa mungkin bekerja sama dengan mereka."

Adnan Nazo berasal dari kota di Punjab tengah. Ia baru-baru ini pindah ke Islamabad. Setelah mengalami diskriminasi sepanjang hidup, ia berharap, setelah masjid itu selesai, orang akan menganggap mereka bagian dari komunitas.

"Bukankah kami juga memiliki Tuhan? Kami juga Muslim. Saya tahu cara shalat. Saya belum membaca Al-Quran, tetapi saya akan baca Quran di sini In Shaa Allah. Mungkin orang akan mulai melihat kami secara positif jika kami melakukan ini. Mungkin orang akan menganggap kami bagian daria komunitas mereka," katanya.

Mereka menyatakan, masjid itu tidak akan menjadi milik sekte tertentu. Semua Muslim boleh shalat di situ. Mereka berharap diperlakukan serupa, berdasar kesetaraan. [ka/ds]

XS
SM
MD
LG