Tautan-tautan Akses

Tak Setuju TPP, Lebih dari 100 Anggota DPR ASEAN Surati Presiden Obama


Dewan ASEAN Parliamentarians for Human Rights APHR dalam pertemuan di Bangkok, 3-4 Februari 2016.

Dewan ASEAN Parliamentarians for Human Rights APHR dalam pertemuan di Bangkok, 3-4 Februari 2016.

Seratus sebelas anggota parlemen dari delapan negara anggota ASEAN mengirim surat kepada Presiden Obama mengingatkan agar AS mempertimbangkan dahulu isu demokrasi dan hak asasi di ASEAN sebelum mendorong perjanjian Kemitraan Trans Pasifik TPP.

Menjelang KTT Amerika-ASEAN di Sunnylands, California mulai 15 Februari yang dihadiri langsung oleh Presiden Amerika Barack Obama dan 10 pemimpin negara ASEAN, sepucuk surat dilayangkan ke Gedung Putih. Surat itu ditandatangani oleh 111 anggota parlemen saat ini dan empat mantan anggota parlemen dari Indonesia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Singapura dan Thailand.

111 Anggota DPR ASEAN Sesalkan AS Tidak Pertimbangkan Masalah Demokrasi & HAM

Dihubungi VOA Minggu pagi (14/2), Wakil Ketua ASEAN Parliament for Human Rights APHR Eva K. Sundari menyesalkan sikap Amerika yang tidak mempertimbangkan penurunan masalah demokrasi dan HAM di negara-negara ASEAN ketika mendorong perjanjian Kemitraan Trans Pasifik TPP dalam pertemuan di California nanti.

Eva mengatakan, "Kita khawatir dengan fakta bahwa situasi demokrasi dan HAM di ASEAN kini sedang menurun. Ini tampak dari bagaimana pemerintah-pemerintah di ASEAN menekan politisi dan partai oposisi, terutama terjadi di Kamboja, Thailand dan Malaysia. Di Laos malah tidak ada oposisi sama sekali. Kita kaitkan ini dengan ambisi dan agresifnya Amerika pada perdagangan dan skema pengamanan perdagangan itu. Lha human rights-nya di mana? Masa berdagang dengan rejim pemerintah yang tidak menegakkan demokrasi dan HAM. Berdasarkan keprihatinan ini, kami menilai kok Obama gak peduli dengan kondisi yang ada dan mengabaikan hak-hak rakyat di negara-negara ASEAN serta membutakan diri terhadap situasi kemunduran atau ‘erosi demokrasi’ yang terjadi dan tiba-tiba mengajak mereka berdagang? Bahkan mengembangkan rencana kerjasama di bidang keamanan untuk mengamankan ide besar tentang perdagangan tersebut. Jadi kita mengingatkan, ayo kita buat surat bersama dan mobilisasi pendukung dari negara-negara masing-masing."

Surat untuk Obama Bukan Bentuk Antipati terhadap TPP

Lebih jauh anggota DPR dari fraksi PDI-Perjuangan ini menegaskan bahwa mereka yang mengirim surat kepada Presiden Obama ini tidak antipati terhadap perjanjian Kemitraan Trans Pasifik atau TPP tetapi ingin melakukan kajian mendalam terlebih dahulu tentang perjanjian perdagangan bebas yang sejauh ini sudah melibatkan 12 negara, termasuk empat negara angota ASEAN yaitu Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura dan Vietnam itu.

"Jadi kita risau ketika TPP dipaksakan pada seluruh dunia, bukan hanya ASEAN, tanpa melihat kondisi yang sedang berlangsung di negara-negara tersebut. Dalam perkembangannya kita juga dikontak oleh teman-teman yang aktif di kelompok sipil, minta bergabung. Kita putuskan untuk bergabung dan memberi penjelasan kepada mereka karena yang paling membuat kita prihatin adalah TPP itu barang apa? Itu barang asing yang belum dibicarakan secara rinci atau melakukan konsultasi publik. Ada satu event yang pernah diorganisir BAPPENAS, tetapi hasilnya rakyat juga tidak mau. Hanya Menteri Perdagangan Thomas Lembong yang sangat agresif menggolkan TPP tanpa konsultasi publik, tanpa research assessment impact, dan tidak pernah di-share kepada masyarakat tetapi bisa meyakinkan secara sepihak kepada Presiden Jokowi. Makanya kami surati Presiden Obama, memintanya mendengar suara rakyat," kata Eva.

Presiden Obama: Asia Pasifik Penting bagi Kemakmuran Ekonomi & Stabilitas Keamanan Dunia

Presiden Barack Obama dalam konferensi pers menjelang KTT Asia Timur November lalu di Kuala Lumpur mengatakan, Malaysia terang-terangan mengakui pentingnya pasar Asia Pasifik bagi kemajuan ekonomi dunia.

“Secara ekonomi, kawasan Asia Pasifik adalah kawasan yang paling padat penduduknya, dinamis dan paling cepat berkembang di dunia. Melihat pertimbangan strategi, kawasan ini juga sangat vital bagi kepentingan ekonomi dan keamanan nasional Amerika pada abad ke-21. Kita telah berupaya keras meningkatkan kehadiran Amerika dan memusatkan perhatian pada banyak hal. Kita telah melakukan begitu banyak bisnis di kawasan ini tetapi masih banyak potensi bisnis yang belum dikembangkan. Saya yakin kemakmuran ekonomi dan keamanan nasional tidak dapat dipisahkan. Jika kita ingin menjadi “pemain” yang serius di kawasan yang paling vital di dunia ini, kita harus membuat kebijakan ekonomi dan keamanan yang tepat," kata Obama.

Perdagangan Barang ASEAN-AS Capai US$226 Miliar

Sepuluh negara anggota ASEAN yang selama ini menjadi mitra penting Amerika, merupakan kawasan ekonomi ketiga terbesar di Asia dan ketujuh terbesar di dunia dengan total pendapatan kotor atau GDP mencapai 2,4 trilyun dolar. Dalam lima belas tahun terakhir ini negara-negara ASEAN adalah mitra dagang keempat terbesar bagi Amerika dengan pertumbuhan rata-rata GDP yang terus melampaui target. Perdagangan barang tahun 2015 melampaui 5% dan kini mencapai sekitar 226 milyar dolar. Lebih dari 500 ribu pekerjaan di Amerika kini didukung oleh perdagangan barang dan jasa dengan ASEAN. Perusahaan-perusahaan Amerika juga telah menjadi sumber investasi langsung di ASEAN.

Bahkan sebagai bagian dari kebijakan “pivot to Asia” atau pengalihan kebijakan Amerika ke Asia, sejak tahun 2010 pemerintah Obama juga telah memberikan bantuan pembangunan sebesar empat milyar dolar bagi ASEAN. [em/ii]

XS
SM
MD
LG