Tautan-tautan Akses

AS

Tersangka Penembakan Mati 3 Polisi Louisiana Bertindak Sendirian


Polisi menjaga pintu masuk IGD Rumah Sakit Our Lady Of The Lake, tempat para korban terluka dirawat, di Baton Rouge, Louisiana (17/7). (AP/Gerald Herbert)

Polisi menjaga pintu masuk IGD Rumah Sakit Our Lady Of The Lake, tempat para korban terluka dirawat, di Baton Rouge, Louisiana (17/7). (AP/Gerald Herbert)

Kematian orang-orang kulit hitam di tangan polisi Amerika di beberapa kota baru-baru ini telah memicu protes di seantero negeri dan tuntutan bagi reformasi kepolisian.

Polisi di negara bagian Louisiana menyatakan yakin bahwa orang yang menewaskan tiga polisi di Baton Rouge dan melukai tiga lainnya beraksi sendirian.

Minggu pagi (17/7), seorang lelaki bertopeng melepaskan tembakan terhadap polisi di sebuah toko di Baton Rouge dan menembak mati tiga polisi sebelum ia dibunuh.

Serangan tersebut berlangsung beberapa waktu setelah seorang polisi kulit putih menewaskan seorang lelaki kulit hitam, Alton Sterling, di kota itu juga. Kematian orang-orang kulit hitam di tangan polisi Amerika di beberapa kota baru-baru ini telah memicu protes di seantero negeri dan tuntutan bagi reformasi kepolisian.

Para pejabat setempat hari Minggu mengecam serangan terhadap polisi dan menyerukan dilakukannya dialog.

Sid Gautreaux, sherif East Baton Rouge, mengatakan: “Sampai kita bersatu sebagai bangsa dan rakyat - untuk pulih, sebagai satu bangsa - jika kita tidak melakukan itu dan kegilaan ini berlanjut, kita sudah pasti akan binasa sebagai bangsa.”

Rakyat Amerika telah memprotes apa yang mereka anggap sebagai diskriminasi rasial yang kian berkembang dan kebrutalan polisi yang menarget kelompok minoritas. Para aktivis hak asasi manusia terkemuka yang menghadiri upacara pemakaman Sterling di Baton Rouge Jumat lalu menuntut keadilan.

Pendeta Al Sharpton, seorang aktivis HAM, mengemukakan: “Kekeliruan harus diperbaiki dan mereka yang bersalah harus dituntut pertanggungjawabannya.”

Tetapi para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat menyatakan pembunuhan polisi yang memelihara hukum dan ketertiban tidak menyelesaikan masalah apapun.

Gubernur Louisiana John Bel Edwards mengatakan: “Sama sekali tak ada tempat untuk kekerasan lainnya. Ini tidak akan membantu siapapun, tidak akan memajukan dialog, tidak akan menyelesaikan ketidakadilan yang dirasakan atau yang dialami. Dan kami tidak akan membiarkan lebih banyak kebencian dan kekerasan mengacaukan masyarakat dan keluarga di Louisiana.”

Presiden Barack Obama dengan segera mengutuk serangan terbaru terhadap petugas penegak hukum itu.

“Apapun motifnya, kematian tiga perwira yang berani ini menegaskan tentang bahaya yang dihadapi polisi di seantero negeri ini setiap hari. Dan kita sebagai bangsa harus bersikap jelas bahwa tak ada sesuatupun yang menjustifikasi kekerasan terhadap petugas penegak hukum. Serangan-serangan terhadap polisi merupakan serangan terhadap kita semua dan supremasi hukum yang memungkinkan terwujudnya masyarakat," ujarnya.

Obama menjanjikan dukungan federal dalam penyelidikan kasus penembakan di Louisiana dan meminta rakyat Amerika agar mendoakan seorang polisi lainnya yang luka parah dalam serangan tersebut.

Presiden pekan lalu bertemu dengan para anggota penegak hukum, tokoh-tokoh kelompok minoritas dan para aktivis untuk mendiskusikan cara meredakan ketegangan dan membangun kembali rasa saling percaya antara polisi dan masyarakat yang mereka layani. [uh/as]

XS
SM
MD
LG