Tautan-tautan Akses

AS

Studi: Penyakit Jiwa Bukan Faktor dalam Mayoritas Kasus Penembakan di AS

  • Carol Pearson

Senjata yang disita polisi dipamerkan dalam sebuah konferensi pers di New York.

Senjata yang disita polisi dipamerkan dalam sebuah konferensi pers di New York.

Para ahli sepakat bahwa penyebab kekerasan dengan senjata belum banyak dipelajari dan bahwa hal itu harus diselidiki sebagai ancaman kesehatan publik.

Para pemimpin AS mengaitkan penyakit jiwa dengan kematian akibat penembakan. Presiden Barack Obama mengusulkan dana US$500 juta untuk memperluas perawatan kesehatan mental dalam upaya mengekang penembakan massal dan kekerasan bersenjata.

"Kita melihat secara konsisten bahwa sebab yang mendasar dari serangan-serangan ini adalah penyakit jiwa," ujar Ketua DPR Paul Ryan, "dan kita harus mencari cara menanggulangi masalah ini."

Namun penelitian menunjukkan bahwa orang-orang dengan kesehatan jiwa, termasuk skizofrenia, kelainan bipolar dan depresi akut, tidak memiliki kemungkinan lebih besar untuk membawa senjata dan membunuh orang lain dibandingkan dengan orang biasa.

Beth McGinty, asisten profesor di Johns Hopkins University School of Public Health, baru saja menyelesaikan studi yang menunjukkan bahwa sebagian besar orang dengan penyakit jiwa di AS tidak kasar kepada orang lain, dan bahwa penyakit jiwa bukanlah faktor dalam kebanyakan kekerasan bersenjata di Amerika Serikat.

"Bahkan jika kita memiliki sistem kesehatan mental yang sempurna yang merawat setiap orang ketika mereka memerlukannya, dan memberi mereka perawatan yang efektif, kita mungkin hanya akan mencegah antara 3 dan 5 persen kekerasan bersenjata, dan 95 sampai 97 persen kekerasan bersenjata tetap tidak tersentuh," ujar McGinty dalam wawancara dengan VOA.

"Kita memiliki penelitian-penelitian bagus yang menunjukkan bahwa liputan media mengenai penyakit jiwa betul-betul fokus pada aksi kekerasan yang langka, seringkali aksi high profile seperti penembakan massal yang dilakukan oleh orang dengan penyakit jiwa serius," tambahnya.

Presiden AS Barack Obama menandatangani perintah eksekutif mengenai kekerasan bersenjata di Gedung Putih, Washington, 2013.

Presiden AS Barack Obama menandatangani perintah eksekutif mengenai kekerasan bersenjata di Gedung Putih, Washington, 2013.

Ia mengatakan situasinya sudah sampai pada titik di mana pada setiap peristiwa yang melibatkan senjata, hal pertama yang dipikirkan mengenai penembak, baik oleh pihak berwenang maupun wartawan, adalah apakah ada bukti penembaknya memiliki penyakit jiwa.

"Kekerasan membantu menjual surat kabar sehingga seringkali hal itu yang dijadikan fokus," ujar McGinty.

Kegagalan Melihat Sebab Lain

Salah satu masalah dengan pemikiran seperti itu adalah, jika penembak memiliki penyakit jiwa, orang-orang tidak memikirkan sebab lain.

Paul Gionfriddo, presiden kelompok advokasi Mental Health America, mengatakan reaksi spontan seperti ini tidak membantu siapa pun.

"Jika kita tidak secara otomatis berpikir 'penyakit jiwa,' kita akan berkesempatan melihat hal-hal lain," ujarnya.

Gionfriddo dan McGinty sepakat bahwa keyakinan yang mengaitkan penyakit jiwa dengan kekerasan bersenjata hanya akan meningkatkan stigma orang-orang dengan penyakit seperti itu dan membuat mereka semakin sulit mendapatkan perawatan.

Para ahli sepakat bahwa penyebab-penyebab kekerasan bersenjata masih kurang dipelajari dan bahwa hal itu harus diselidiki sebagai sebuah ancaman terhadap kesehatan publik sehingga kematian akibat senjata dapat dicegah atau setidaknya dikurangi. [hd/dw]

XS
SM
MD
LG