Tautan-tautan Akses

Defisit Anggaran Membengkak, Spanyol dan Portugis Mungkin Kena Sanksi UE


Warga di Pamplona, Spanyol memrotes langkah-langkah penghematan pemerintah (foto: ilustrasi). Defisit anggaran Spanyol membengkak di atas 3% dari PDB tahunan.

Warga di Pamplona, Spanyol memrotes langkah-langkah penghematan pemerintah (foto: ilustrasi). Defisit anggaran Spanyol membengkak di atas 3% dari PDB tahunan.

Spanyol dan Portugis bisa dikenai denda hingga 0,2% dari PDB mereka, jika gagal menerapkan langkah-langkah untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB tahunan.

Komisioner Uni Eropa di Jerman hari Senin (4/7) mendesak agar diambil tindakan yang lebih tegas terhadap Spanyol dan Portugis karena gagal memenuhi target anggaran mereka, dan mengatakan 'Brussels' (ibukota Belgia yang menjadi markas besar Uni Eropa) seharusnya mengambil tindakan untuk mempertahankan kredibilitasnya.

Mei lalu Komisioner Uni Eropa menahan diri untuk tidak mengenakan denda, dengan mengatakan akan mengkaji kembali situasi tersebut pada bulan Juli.

Uni Eropa ingin agar negara-negara tersebut menjaga defisit anggaran di bawah 3% dari PDB tahunan mereka.

Meskipun negara-negara itu bisa dikenai denda hingga 0,2% dari PDB mereka jika gagal menerapkan langkah-langkah untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3%, tetapi hingga saat ini belum ada satu negara pun yang dikenai denda.

“Jika Komisi Uni Eropa ingin mempertahankan kredibilitasnya menjaga aturan-aturan anggaran, kita harus menyetujui sanksi terhadap Spanyol dan Portugis”, ujar Komisioner Guenther Oettinger sebagaimana dikutip suratkabar Jerman “Bild”. Ditambahkannya, “jika kita punya aturan bersama, aturan itu harus dipatuhi.”

Perdana Menteri Portugis Antonio Costa – yang pemerintah sayap kanan tengahnya mengubah langkah penghematan karena mendapat dukungan dari Partai Komunis dan blok kiri yang radikal – berupaya keras supaya tidak dikenai denda. Costa hari Senin (4/7) mengatakan defisit anggaran tahun 2015 hanya mencapai 3,2% atau sedikit di atas batas yang diharuskan Uni Eropa.

“Tidak beralasan untuk mengenakan sanksi terhadap Portugal”, ujar Costa kepada para wartawan di Lisbon. Costa mengingatkan bahwa sanksi-sanksi itu akan menghancurkan upaya pemulihan ekonomi di Portugis yang tahun ini berupaya menurunkan defisit anggarannya.

Sementara itu, pasar-pasar saham Asia menguat pada penutupan hari Senin (4/7) seiring membaiknya Wall Street, setelah bank sentral mengisyaratkan akan memberi kemudahan kebijakan pasca keputusan keluarnya Inggris dari Uni Eropa atau “Brexit”.

Indeks Komposit Shanghai menguat 1,9% menjadi 2.986, Hang Seng Hong Kong menguat 1,5% menjadi 21.098, Nikkei menguat 0,4% menjadi 15.747, Kospi Seoul menguat 0,7% menjadi 27.345, demikian pula di Taiwan Singapura, Selandia Baru dan Australia.

Pasar-pasar saham Amerika tutup hari Senin ini karena libur nasional Hari Kemerdekaan 4 Juli. Tetapi dalam penutupan pasar Jumat lalu, terjadi penguatan signifikan setelah sebelumnya mengalami gejolak sebanyak 3%. Dow Jones menguat 19,38 menjadi 17.949, Standard & Poor 500 menguat 4,09 menjadi 2.102, sementara indeks komposit Nasdaq menguat 19,89 menjadi 4.862.

Sentimen para investor tampaknya didorong oleh adanya harapan bahwa Bank of England dan Bank Sentral Eropa mungkin akan mengeluarkan kebijakan ekonomi yang memberi lebih banyak kemudahan pasca “Brexit”. Bank Sentral Amerika juga dikabarkan akan menunda kenaikan suku bunga.

Meskipun demikian di pasar energi New York Mercantile Exchange, harga minyak mentah Amerika turun 3 sen menjadi 48,96 dolar per barel. Yang menarik harga minyak jenis Brent – yang menjadi ukuran harga minyak internasional – justru naik 3% di pasar London menjadi 50,38. Ini berarti terjadi kenaikan 64 sen dari sesi sebelumnya. [em/jm]

XS
SM
MD
LG