Tautan-tautan Akses

Pedang Politik Berayun Saat 'Brexit' Ubah Kawan Jadi Lawan


Pemimpin kampanya pilihan 'Leave' untuk keluar dari Uni Eropa, Boris Johnson, usai berpidato di London (30/6). (Reuters/Toby Melville)
Pemimpin kampanya pilihan 'Leave' untuk keluar dari Uni Eropa, Boris Johnson, usai berpidato di London (30/6). (Reuters/Toby Melville)

Perang politik untuk menggantikan Perdana Menteri David Cameron merupakan "pertumpahan darah yang paling biadab" sejak jatuhnya Margaret Thatcher.

"Tory Day of Treachery" menjadi kepala berita utama Jumat (1/7) di halaman muka Daily Mail, surat kabar berpengaruh di Inggris yang telah berkampanye dengan penuh semangat agar negara itu memutuskan hubungan dengan Uni Eropa.

Menandai pengumuman mengejutkan Kamis oleh mantan walikota London, Boris Johnson, untuk tidak menentang kepemimpinan Partai Konservatif yang berkuasa, surat kabar itu mengatakan perang politik untuk menggantikan Perdana Menteri David Cameron merupakan "pertumpahan darah yang paling biadab" sejak jatuhnya Margaret Thatcher.

Di tengah referendum Brexit, politisi konservatif Inggris menggodok rencana di majelis rendah, House of Commons. Sekutu berjatuhan sementara para politisi berebut untuk menopang ambisi pribadi mereka di tengah kecurangan politik yang semakin kotor bagaikan drama Shakespeare.

Johnson, salah satu pemimpin kampanye keluar dari Uni Eropa, terpaksa melepaskan ambisinya untuk menjadi perdana menteri setelah diserang oleh teman dan sekutu anti-Uni Eropa, Michael Gove, yang tiba-tiba mengumumkan pencalonannya sendiri untuk jabatan itu, walaupun dia sebenarnya ditunjuk untuk menjadi manajer kampanye Johnson.

Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair memperingatkan Jumat bahwa negosiasi Brexit akan menjadi "kompleksitas luar biasa di mana ada 1.000 tipu daya dalam setiap rinci." [as]

XS
SM
MD
LG