Tautan-tautan Akses

Setahun Setelah Tragedi, Warga Desa Ukraina Mengingat Horor Jatuhnya MH17

  • Associated Press

Seorang petugas perairan setempat memeriksa sebuah kepingan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang masih tergeletak di lokasi jatuhnya pesawat dekat desa Hrabove, Ukraina timur (14/7).

Seorang petugas perairan setempat memeriksa sebuah kepingan pesawat Malaysia Airlines MH17 yang masih tergeletak di lokasi jatuhnya pesawat dekat desa Hrabove, Ukraina timur (14/7).

Lahan di membentang di dekat desa Hrabove kini semarak dengan aroma bunga liar.

Tapi bayangan jenazah yang tersebar di lahan ini dengan bau yang menusuk hidung, masih menghantui warga, yang tidak akan pernah melupakan saat mayat-mayat berjatuhan dari langit di atas desa yang biasanya sunyi senyap ini di bagian timur Ukraina.

"Warga keluar dari rumah-rumah mereka dan melihat seorang anak laki-laki tanpa kepala, tergeletak di sana" ujar Nadezhda Tsyb, seorang warga desa. "Lalu saya lihat seorang anak perempuan: ia terjun dari langit, berputar-putar di utara, lalu jatuh di kebun sayur tetangga saya."

Ke-298 orang yang berada dalam penerbangan MH17 tewas saat pesawat ditembak jatuh 17 Juli 2014, di atas wilayah yang dikontrol oleh pemberontak separatis pro Rusia ini. Pejabat Ukraina dan negara-negara Barat mengatakan pesawat ditembak jatuh oleh rudal pemberontak, kemungkinan besar karena dikira pesawat militer Ukraina, dan bahwa Rusia menyediakan senjata tersebut dan melatih pemberontak untuk menggunakannya. Baik kelompok separatis maupun Moskow telah menolak tuduhan ini.

Sebuah laporan pendahuluan yang dirilis Belanda tahun lalu mengungkap pesawat MH17 tidak mengalami masalah teknis dalam detik-detik menjelang ledakan di langit setelah dihantam oleh sejumlah "obyek berkekuatan besar dari luar pesawat," yang diduga sebagai misil.

Setahun setelah tragedi, keluarga korban masih menanti hasil akhir penyelidikan, sementara warga Hrabove terus menemukan barang-barang milik penumpang dan potongan-potongan pesawat di desa mereka. Seorang warga lokal menunjuk sebuah keping badan pesawat, yang berukuran sebesar kap mobil. Terlihat logo biru Malaysia Airlines di sampingnya.

Jenazah seorang anak laki-laki yang jatuh dekat rumah Tsyb terbaring selama berhari-hari di tengah teriknya matahari musim panas. Warga setempat meminta tentara pemberontak yang menguasai daerah ini untuk mengangkut jenazah itu, kata Tsyb.

Negara-negara Barat menuduh kelompok separatis menghalang-halangi penyelidikan dengan memblokir akses memasuki lokasi dan merusak barang bukti. Pakar penerbangan mengatakan lokasi sudah tercemar karena penyelidik tidak memiliki akses pada beberapa hari pertama setelah jatuhnya pesawat. Awalnya, para komandan pemberontak memblokir pengamat dari Organisasi Keamanan dan Kerjasama Eropa (OSCE) mencapai area ini, lalu memulai pertikaian sepanjang rute menuju lokasi yang menjadikannya tidak aman untuk dilalui. Tim penyelidik pertama dengan jumlah personil yang cukup besar baru berhasil mencapai lokasi dua minggu setelah jatuhnya pesawat.

Ditanya mengenai tuduhan pemberontak memindahkan atau bahkan merusak sejumlah jenazah, Alexander Borodai, yang mengepalai pemerintahan separatis saat itu, mengatakan kepada kantor berita AP mereka harus mengangkut jenazah yang membusuk dengan cepat di bawah panas yang terik.

"Ada aspek moral, kemanusiaan di sini: Anda tidak dapat meninggalkan jenazah-jenazah itu begitu saja untuk waktu yang lama, dan banyak dari jenazah itu sudah membusuk," katanya. "Kita tidak bisa hanya berdiam diri."

Beberapa jam sebelum jatuhnya MH17, wartawan AP menyaksikan sebuah peluncur Buk M-1 membawa misil-misil berukuran 5,5 meter di kota Snizhne yang dikuasai pemberontak. Tiga jam kemudian, 10 kilometer ke arah barat, pesawat Malaysia Airlines MH17 jatuh tertembak.

Penyangkalan pemberontak bertentangan dengan kesaksian dari warga dan pengamatan wartawan di lokasi. Pemerintah Ukraina juga menyatakan telah mengintersepsi komunikasi yang mengindikasikan kelompok pemberontak terlihat dalam penembakan MH17.

Borodai, berbicara dengan AP dalam wawancara pertamanya dengan organisasi media Barat sejak kembali ke Moskow di bulan Oktober, menepis pernyataan dari saksi mata dan bukti-bukti foto yang menunjukkan keterlibatan kelompok pemberontak. Tapi ia tampak tidak lagi menyangkal bahwa kelompok separatis tidak tahu-menahu bahwa pesawat penerbangan sipil diperbolehkan terbang di atas wilayah konflik.

Para tentara pemberontak menembak jatuh sejumlah pesawat militer Ukraina sebelum jatuhnya MH17, termasuk sebuah pesawat II-76 tanggal 14 Juni, menewaskan 49 di dalamnya.

Borodai mengatakan ia tidak terlalu mempedulikan hasil penyelidikan resmi.

"Apakah akan ada peradilan atau hasil resmi penyelidikan, saya harus mengakui saya sudah tidak lagi peduli dengan cerita ini," katanya, saat ditemui di sebuah restoran mewah di Moskow. "Saya hanya tahu ini bukan salah kita pesawat Boeing itu jatuh. Jelas bagi saya ini hasil perbuatan Ukraina."

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG