Tautan-tautan Akses

Rusia Tawarkan Diri Jadi Penengah Antara Iran dan Saudi


Pendukung ulama Syiah Muqtada al-Sadr membakar boneka Raja Salman, Arab Saudi sambil membawa poster Sheik Nimr al-Nimr dan ulama Syiah Muqtada al-Sadr dalam sebuah unjukrasa di Baghdad, Irak, Senin, 4 Januari 2016.

Pendukung ulama Syiah Muqtada al-Sadr membakar boneka Raja Salman, Arab Saudi sambil membawa poster Sheik Nimr al-Nimr dan ulama Syiah Muqtada al-Sadr dalam sebuah unjukrasa di Baghdad, Irak, Senin, 4 Januari 2016.

Rusia menawarkan diri sebagai penengah antara Iran dan Arab Saudi menyusul eksekusi yang dilakukan Riyadh terhadap ulama terkemuka Syiah Nimr al-Nimr.

Sumber-sumber diplomatik Rusia dikutip mengatakan bahwa Moskow siap mengundang menteri luar negeri Saudi dan menteri luar negeri Iran ke Rusia untuk melakukan perbincangan.

Sebuah media yang didanai Rusia melaporkan, Rusia bisa memainkan peran penting dalam menyelesaikan pertikaian karena Rusia adalah satu-satunya pemain internasional di kawasan itu yang dinilai tidak berpihak oleh Teheran.

Namun Nikolay Kozhanov, seorang cendekiawan dari lembaga think tank Chatham House mengatakan, hubungan dekat Rusia dengan Iran masih merupakan masalah bagi Arab Saudi dan sekutu-sekutunya di kawasan itu.

Ia mengatakan, untuk menjadi penengah, Rusia harus menjadi pihak ketiga dalam konflik. Namun, katanya, Saudi menganggap Rusia sekutu atau mitra Iran, sehingga tidak akan sepenuhnya mempercayai Rusia.

Penjualan senjata Rusia ke Iran, termasuk sistem misil canggih, telah menimbulkan keprihatinan internasional. Namun, Moskow juga memainkan peran konstruktif dalam merundingkan kesepakatan yang membatasi kemampuan nuklir Iran. [ab]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG