Tautan-tautan Akses

Krisis Diplomatik Iran-Arab Saudi Makin Tingkatkan Perang Regional

  • Heather Murdock

Militan Houthi membawa komponen komputer keluar dari kantor pusat Kamar Dagang dan Industri setelah dihantam serangan udara yang dipimpin oleh Saudi di ibukota Yaman, Sana'a, 5 Januari 2016.

Militan Houthi membawa komponen komputer keluar dari kantor pusat Kamar Dagang dan Industri setelah dihantam serangan udara yang dipimpin oleh Saudi di ibukota Yaman, Sana'a, 5 Januari 2016.

Selagi sejumlah negara dan milisi berada di belakang Iran atau Arab Saudi, dua negara penting pemegang kekuasaan kawasan, para analis mengatakan krisis diplomatik itu sudah berdampak pada kawasan itu.

Kuwait yang didominasi Sunni adalah negara yang paling akhir menarik duta besarnya dari Iran setelah Bahrain, Sudan dan Uni Emirat Arab, memutuskan hubungan diplomatiknya atau menurunkan status hubungannya dengan Iran setelah terjadi perselisihan internasional mengenai eksekusi Arab Saudi terhadap ulama Shiah, Nimr al-Nimr.

Setelah eksekusi hari Sabtu itu (2/1), kedutaan Arab Saudi di Teheran diserang dan Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik.

Mark Fitzpatrick, Direktur Eksekutif International Institute for Strategic Studies di Amerika mengatakan ketegangan regional itu lebih mendalam sifatnya dari perselisihan sekarang ini.

"Kuwait, Uni Emirat Arab dan Bahrain semuanya sejalan dengan Arab Saudi mengenai persepsi ancaman dari Iran, sebuah ancaman yang diperparah oleh kesepakatan nuklir," ujarnya.

Jika perjanjian nuklir antara Iran dan negara-negara besar dunia dilaksanakan sesuai rencana, Iran diperkirakan akan mendapat keringanan sanksi, dan akan memperluas kekuatan ekonomi dan kemampuannya untuk mendanai milisi di kawasan itu, seperti Hezbollah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Tapi tidak hanya persaingan ekonomi, kata Fitzpatrick.

"Konflik ini lebih terkait dengan perpecahan Sunni-Shiah dan juga perselisihan selama berabad-abad antara Persia dan negara-negara Arab. Perselisihan itu bagian dari sejarah dan bagian dari memburuknya hubungan di kawasan itu," tambahnya.

Giorgio Cafiero, salah seorang pendiri lembaga kajian Gulf State Analytics mengatakan perang regional kecil kemungkinannya selesai lewat perundingan damai jika pemain-pemain utama di kawasan itu, dan di medan pertempuran tidak berunding.

"Krisis diplomatik ini telah memupus kemungkinan perdamaian di Suriah dan hal yang sama bisa terjadi dengan Yaman," ujar Cafiero.

Para analis mengatakan militan ISIS paling diuntungkan akibat krisis diplomatik itu, meningkatnya kekacauan menyuburkan kelompok itu dan memecah kawasan tersebut.

Perang langsung antara negara-negara kuat itu kecil kemungkinannya kata Cafiero tapi baik Arab Saudi maupun Iran mungkin meningkatkan keterlibatan mereka dalam konflik di Suriah dan Yaman, yang seringkali dipandang sebagai perang dimana Arab Saudi dan Iran berperan dibelakang layar. [my/jm]

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG