Tautan-tautan Akses

Studi: Radiasi Ponsel Tingkatkan Aktivitas Otak


Menurut sebuah temuan baru, ponsel menstimulasi otak tapi belum jelas apakah ini berdampak buruk.

Menurut sebuah temuan baru, ponsel menstimulasi otak tapi belum jelas apakah ini berdampak buruk.

Sebuah studi baru mengungkapkan berbicara terlalu lama lewat ponsel menyebabkan peningkatan aktivitas sel otak secara tajam. Tetapi, para ilmuwan mengatakan mereka masih belum dapat memastikan apakah peningkatan aktivitas itu buruk bagi kesehatan.

Sejak orang mulai menggunakan ponsel, ada kekhawatiran bahwa sinyal radio yang dikeluarkannya bisa menyebabkan kanker otak atau gangguan kesehatan lainnya. Tapi, setelah puluhan tahun riset oleh ilmuwan dari pemerintah, independen dan industri, sejauh ini belum ada bukti konklusif bahwa penggunaan ponsel berbahaya. Namun tak pelak lagi, kekhawatiran tersebut tetap ada.

Kini studi baru mendapati bahwa menggunakan ponsel terus menerus selama setidaknya 50 menit, menstimulasi aktivitas metabolisme sel-sel otak yang terdekat dengan ponsel. Tetapi para peneliti mengatakan mereka masih belum yakin apa arti temuan tersebut.

Tim periset mempelajari 47 orang yang sehat antara bulan Januari dan Desember 2009, memantau aktivitas sel otak mereka dengan teknik gambar canggih disebut Positron Emission Tomography (PET). Pemindaian otak menunjukkan kepada tim periset secara persis bagaimana neuron menggunakan atau memetabolisme glukosa atau gula untuk menghasilkan energi.

Selagi otak mereka dipindai, para relawan dalam studi itu menaruh ponsel di telinga kanan dan kiri mereka. Salah satu ponselnya diaktifkan tetapi suaranya dimatikan selama hampir satu jam, sementara ponsel yang lainnya dimatikan.

Dalam tahap kedua eksperimen, gambar PET otak para peserta studi diperoleh ketika mereka telah mematikan ponsel yang ditempatkan dekat kedua telinga mereka.

Studi ini menemukan bahwa metabolisme glukosa, sebuah penanda aktivitas sel otak, tujuh persen lebih tinggi di bagian otak yang terdekat dengan antena ponsel.

Nora Volkow, direktur Institut Nasional Amerika bagi Penyalahgunaan Obat dan ketua studi tersebut mengatakan peningkatan metabolisme glukosa sesuai dengan gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan oleh ponsel yang diaktifkan.

"Yang diriset dalam studi ini adalah perlunya mempelajari ada tidaknya konsekuensi jangka panjang akibat pemaparan ‘radiasi elektromagnetik’ berulang-kali selama bertahun-tahun,” ujar Volkow.

Volkow mengemukakan bahwa para dokter kini menggunakan terapi electroconvulsive atau kejut listrik, dan stimulasi magnetik transkranial, yang juga menciptakan medan elektromagnetik, untuk mengobati orang yang depresi yang tidak bisa sembuh dengan obat dan psikoterapi.

Volkow mengatakan kedua terapi menghasilkan medan elektromagnetik yang kekuatannya berlipat lipat dibanding dengan yang dihasilkan ponsel. "Maksud saya, saya akan sangat kaget dan saya tidak akan khawatir bahwa terpapar ponsel selama 50 menit bisa mencelakakan seseorang," kata Volkow.

Studi terbaru tentang dampak biologis penggunaan ponsel ini dimuat dalam Journal of the American Medical Association.

XS
SM
MD
LG