Tautan-tautan Akses

AS

Presiden Obama Bertemu PM Pakistan di Gedung Putih


PM Pakistan Nawaz Sharif (tengah) saat tiba di Gedung Putih untuk bertemu Presiden AS Barack Obama hari Rabu (23/10).

PM Pakistan Nawaz Sharif (tengah) saat tiba di Gedung Putih untuk bertemu Presiden AS Barack Obama hari Rabu (23/10).

Presiden Amerika Barack Obama dan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif membahas isu terkait pesawat tak berawak dalam pertemuan di Gedung Putih, Rabu (23/10).

Presiden Barack Obama dan PM Pakistan Nawaz Sharif hari Rabu bertemu di Gedung Putih dengan Obama berusaha membuka lembaran baru dalam hubungan yang sering goyah antara Washington dan Islamabad.

Dalam satu tanda membaiknya hubungan, pemerintahan Obama telah mencairkan bantuan keamanan sebesar 300 juta dolar yang semula ditahan.

Hubungan mencapai titik terendah setelah pasukan khusus Amerika masuk ke wilayah Pakistan dan membunuh Osama bin Laden tahun 2010, dan serangan udara Amerika tahun lalu, yang salah sasaran dan menewaskan puluhan tentara Pakistan di perbatasan dengan Afghanistan.

PM Nawaz Sharif mengatakan, ia ingin menghapuskan rasa saling curiga antara kedua negara. Jurubicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan, Obama berharap menggunakan pertemuan dengan Sharif untuk memajukan Pakistan yang stabil, aman, dan makmur, yang menyumbang pada keamanan dan kemakmuran regional dan internasional.

Pernyataan Sharif dikemukakan sementara organisasi HAM Amnesty International yang berbasis di Inggris mengimbau Amerika agar mengakhiri kerahasiaan penggunaan pesawat tak berawak di Pakistan.

Dalam laporan yang dirilis hari Selasa (22/10), Amnesty mengatakan Amerika “tampaknya telah melakukan pelanggaran HAM yang sangat serius” yang bahkan sama artinya dengan kejahatan perang.

Laporan Amnesty itu menguraikan 45 serangan misil oleh pesawat-pesawat tanpa awak di wilayah kesukuan Waziristan Utara, Pakistan, dari bulan Januari 2012 sampai bulan Agustus 2013. Laporan itu mengatakan dalam satu serangan, seorang nenek berusia 68 tahun tewas oleh serangan pesawat tak berawak ketika ia berada di ladang memetik sayur-sayuran.

Dalam satu lagi serangan, kata laporan itu, 18 orang buruh tewas oleh serangan pesawat tak berawak ketika mereka bersiap-siap menyantap makan malam mereka.

Para pemimpin Pakistan mengatakan mereka sangat menentang serangan-serangan pesawat tak berawak tersebut, tetapi sebagian pengecam yakin operasi yang menarget para anggota al-Qaida dan Taliban itu adalah bagian dari perjanjian rahasia dimana Pakistan secara diam-diam menyetujui serangan Amerika itu.

Amnesty meminta Amerika Serikat dan Pakistan agar mengungkapkan secara terbuka semua informasi yang mungkin diungkapkan tentang serangan-serangan itu. Laporan itu mengatakan penduduk di daerah dimana pesawat-pesawat itu melakukan serangan, terus-menerus hidup dalam ketakutan akan kekerasan dari semua arah.

Pelapor Khusus PBB Ben Emmerson juga telah menghimbau Amerika Serikat agar lebih transparan. Dalam temuan awal pekan lalu, ia mengutip pejabat-pejabat Pakistan mengatakan serangan pesawat tak berawak telah menewaskan sedikitnya 400 warga sipil.

Pihak berwenang Amerika tidak banyak memberikan informasi kepada publik tentang serangan pesawat tak berawak tersebut, namun mengatakan serangan-serangan itu direncanakan secara berhati-hati untuk menghindari jatuhnya korban warga sipil. Serangan-serangan itu telah menewaskan tokoh-tokoh penting al-Qaida.
XS
SM
MD
LG