Tautan-tautan Akses

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Stroke

  • Jessica Berman

Model jantung manusia (foto: Dok). Aterosklerosis, atau pengerasan arteri, adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia.

Model jantung manusia (foto: Dok). Aterosklerosis, atau pengerasan arteri, adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia.

Hasil penelitian mendapati penduduk kota yang terpapar partikel polusi udara tinggi mengalami risiko terkena stroke lebih besar.

Peneliti AS mengatakan penduduk kota yang terpapar partikel polusi udara dalam kadar tertinggi mengalami pengerasan pembuluh darah lebih cepat, sehingga risiko mereka terkena stroke lebih tinggi dibanding penduduk kawasan kota yang polusinya lebih rendah.

Temuan ini menambah bukti bahwa tinggal di daerah perkotaan dengan udara tercemar merupakan faktor risiko untuk penyakit kardiovaskular.

Aterosklerosis, atau pengerasan arteri, adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia. Pengerasan itu dapat menyebabkan stroke atau kematian ketika darah menggumpal atau plak yang mengeras di dalam arteri koroner yang tersumbat pecah dan masuk ke otak, memotong aliran darah.

Untuk menyelidiki peran polusi udara dalam perkembangan aterosklerosis, peneliti mengikuti hampir 5.400 orang dewasa di enam daerah metropolitan. Tak satu pun dari peserta diketahui berpenyakit jantung. Mereka adalah bagian dari sebuah penelitian yang lebih besar di AS yang disebut Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis and Air Pollution, atau MESA Air.

Antara tahun 2000 dan 2005, peneliti melakukan dua pemeriksaan USG non-invasif pada masing-masing peserta, dengan selang waktu tiga tahun, untuk mengukur ketebalan dinding arteri karotid mereka. Arteri karotid adalah pembuluh yang mengalirkan darah ke kepala, leher dan otak. Penebalan dinding arteri adalah pertanda yang baik adanya aterosklerosis, bahkan pada pasien tanpa gejala penyakit jantung yang jelas.

Dengan menganalisa hasil USG, peneliti menemukan peningkatan penebalan dinding arteri karotid yang sedikit, tapi signifikan pada kelompok yang tinggal di daerah polusi tinggi dibanding mereka yang tinggal di pusat-pusat perkotaan yang kurang tercemar. Menurut pemimpin penelitian itu, Sara Adar, seorang ahli epidemiologi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Michigan, temuan mereka menguatkan studi-studi kelompok itu sebelumnya.

"Berdasarkan studi lain yang dilakukan pada kelompok yang sama, mereka mendapati bahwa jumlah perubahan yang kami lihat karena tinggal di permukiman berpolusi tinggi dibanding dengan permukiman yang berpolusi rendah dapat disamakan dengan kenaikan risiko stroke sebanyak 2 persen," urai Adar.

Partikel polusi udara yang halus, sejenis jelaga hitam dari asap rokok dan knalpot bus di daerah perkotaan di seluruh dunia, secara luas diyakini menyebabkan peradangan dan stres oksidatif yang dapat ikut menyebabkan penyakit jantung.

Adar mengatakan masyarakat sudah didorong untuk tinggal di dalam rumah pada hari-hari ketika polusi sangat tinggi. Tapi, katanya, dokter harus membahas bahaya polusi udara dengan pasien mereka:

Adar menambahkan, "Jadi, ketika mereka mungkin bertanya kepada seseorang 'Apakah Anda merokok?" atau ketika memikirkan jika seseorang gemuk, pertanyaan mengenai berapa lama seseorang tinggal di lingkungan yang sangat tercemar mungkin bisa menjadi faktor penilaian dokter apakah seseorang beresiko tinggi atau rendah untuk terkena penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung. "

Artikel yang menghubungkan polusi udara dengan cepatnya pengerasan pembuluh darah ini dimuat dalam jurnal PLoS Medicine.
XS
SM
MD
LG