Tautan-tautan Akses

Polisi Perancis Tahan Enam Orang


Orang-orang kembali ke Place de la Republique di Paris, setelah kepanikan menyebar tentang kemungkinan adanya serangan susulan, 15 November 2015. (Photo: D. Schearf / VOA)

Orang-orang kembali ke Place de la Republique di Paris, setelah kepanikan menyebar tentang kemungkinan adanya serangan susulan, 15 November 2015. (Photo: D. Schearf / VOA)

Polisi Prancis telah menahan enam orang yang diduga dekat dengan salah seorang teroris yang menyerang Paris Jumat malam. Polisi mengatakan ayah, saudara kandung laki-laki dan saudara ipar perempuan Omar Ismail Mostefai termasuk diantara yang ditahan.

Mostefai adalah salah searang dari tujuh penyerang yang tewas dalam beberapa serangan yang terjadi hampir bersamaan itu. Jaksa penuntut Prancis Francois Molins mengatakan Mostefai dikenal oleh polisi sebagai penjahat kelas teri dan “belum pernah terlibat dalam penyelidikan atau terkait dengan kelompok teroris.”

Pihak berwenang Prancis mengatakan sebuah paspor Suriah ditemukan di samping mayat salah seorang penyerang, sehingga menimbulkan kecurigaan bahwa laki-laki itu mungkin telah memasuki Eropa dalam gelombang migran yang lari dari perang saudara di Suriah.

Menteri Yunani bagi perlindungan warga sipil, Nikos Toskas, mengatakan “kami memastikan bahwa pemegang paspor Suriah itu memasuki pulau Leros di Yunani tanggal 3 Oktober, dimana dia didaftar sesuai peraturan Uni Eropa.”

Senator Prancis Joelle Maylam hari Minggu (15/11) mengatakan masih banyak orang yang menolak adanya sisi negatif sehubungan kedatangan ribuan pengungsi ke benua Eropa. Dia mengatakan, “kita harus mempelajari penyebab orang-orang menjadi radikal. Radikalisasi sangat penting untuk memahami hal ini.”

Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker tidak sepakat dengan Maylam. Dia mengatakan hari Minggu pada KTT G-20 di Turki, “kita tidak perlu merevisi seluruh kebijakan pengungsi Uni Eropa. Mereka yang mengatur serangan-serangan ini, dan orang-orang yang melancarkannya, adalah justru orang-orang yang dihindari oleh para pengungsi.”

Polisi Perancis mengatakan hari Minggu sebuah mobil yang digunakan oleh beberapa laki-laki bersenjata yang menembaki orang-orang di restoran, ditemukan di Montreuil, kota pinggiran di sebelah timur Paris.

Presiden Hollande, yang mengatakan memburu para penyerang adalah prioritas utama, mengatakan “Prancis akan menang atas kebiadaban ini.” Dia menyerukan diadakannya pertemuan Kabinet darurat hari Sabtu dan memobilisasi pasukan keamanan pada “tingkat tertinggi” di negara itu.

Hollande, yang membatalkan kunjungannya ke KTT G-20 di Turki yang dimulai Minggu, meminta warga Paris untuk tidak keluar rumah hari Sabtu. Banyak diantara mereka yang keluar rumah, mendatangi pusat-pusat medis untuk menyumbangkan darah bagi para korban luka-luka.

Berbagai karangan bunga, lilin dan pesan-pesan singkat diletakkan di depan bar Le Carillon dan restoran Le Petit Cambodge dimana beberapa laki-laki bersenjata menewaskan sedikitnya belasan orang. Keduanya adalah tempat populer yang terletak di dekat kanal Saint Martin di Paris utara. Sabtu sore, sebuah acara peringatan untuk mengenang para korban diadakan di Place de la Republique.

Aksi solidaritas semacam itu berlangsung di seluruh Paris. Serangan hari Jumat tersebut membangkitkan kenangan buruk mengenai serangan bulan Januari lalu, ketika beberapa orang bersenjata menewaskan 17 orang, termasuk beberapa anggota staf koran satir mingguan Charlie Hebdo.

Presiden Hollande memerintahkan agar perbatasan Prancis ditutup, langkah yang belum pernah terjadi di Eropa pada abad ke-21 ini. Tetapi bandara utama di Paris tetap buka dan layanan kereta api juga masih beroperasi. [vm/ii]

XS
SM
MD
LG