Tautan-tautan Akses

Persoalan Agraria, Penyebab Tingginya Harga Kebutuhan Pangan

  • Iris Gera

Pemerintah dinilai belum berpihak terhadap petani dalam hal kepemilikan tanah atau lahan (foto: dok).

Pemerintah dinilai belum berpihak terhadap petani dalam hal kepemilikan tanah atau lahan (foto: dok).

Menurut Rully Ardiansyah dari Serikat Petani Indonesia atau SPI, pemerintah terkesan mengabaikan bahwa persoalan agraria juga merupakan penyebab tingginya harga-harga kebutuhan pangan.

Dalam dua pekan terakhir harga kebutuhan pangan mulai naik dan menurut pemerintah disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya cuaca dan hari besar keagamaan.

Namun, kepada VoA di Jakarta, Rabu, Ketua Departemen Politik SPI, Rully Ardiansyah berpendapat, penjelasan pemerintah saat terjadi kenaikan harga selalu fokus pada persoalan cuaca dan hari-hari besar keagamaan merupakan pengalihan dari ketidakmampuan pemerintah menangani persoalan pertanian.

Menurut Ardiansyah, belum tertanganinya secara baik masalah agraria dengan tidak berpihaknya pemerintah terhadap kepemilikan tanah oleh petani menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian sehingga komoditas pangan sangat rentan dimainkan para spekulan. Ia menegaskan jika petani diberi hak kepemilikan lebih luas dibanding saat ini ia optimistis persoalan pangan dapat diatasi termasuk harga-harga akan stabil.

“Ketimpangan struktur pengusaan agraria di negeri ini yang sangat sudah semakin tajam ketimpangannya, kepemilikan lahan sekarang sudah hampir mendekati 0,3 hektar per KK, jadi artinya sudah sangat timpang sementara di sisi lain kelompok kecil bisa menguasai ratusan bahkan jutaan hektar untuk hak kuasa tambang, hak kuasa penguasaan hutan dan segala macam,” papar Ardiansyah.

Rully Ardiansyah mengingatkan, jika ingin persoalan pangan di tanah air tidak terus bergejolak, pemerintah harus berani untuk segera membatasi kepemilikan tanah oleh orang-orang tertentu dan berpihak kepada para petani.

Ia menambahkan, “Harus ada keinginan politik dari pemerintah-lah mengenai (bagaimana) merombak struktur penguasaan agraria yang timpang ini.”

Sebelumnya Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi berharap kenaikan harga kebutuhan pangan akhir-akhir ini dapat dimaklumi masyarakat. Ditegaskannya jika para pedagang tidak koperatif dengan terus menaikkan harga pangan maka pemerintah segera melakukan operasi pasar besar-besaran untuk membantu konsumen terutama masyarakat kurang mampu.

Bayu Krisnamurthi mengatakan, “Kalau kita lihat setiap kali seasonally hari raya, hari besar keagamaan semacam Natal, tahun baru itu memang terjadi dan selalu ada kenaikan harga, kita maish melaihat sampai dengan saat ini situasinya masih relatif wajar tentu terus kita cermati jangan sampai naik lebih lanjut meskipun kalau kita lihat balance-nya tahun 2011 kita mungkin akan kekurangan sedikit tapi saat ini stok itu cukup, tidak ada hal, (atau) alasan untuk menaikan harga secara di luar kewajaran.”

Kenaikan harga berbagai kebutuhan pangan saat ini mencapai sekitar 20 hingga 40 persen bahkan ada juga yang naik hingga 100 persen di antaranya cabai yang semula Rp 15 ribu, saat ini Rp 30 ribu per kilo gram.

Selain itu, bawang merah yang semula Rp 12 ribu saat ini Rp 20 ribu per kilo gram, tomat semula Rp 6 ribu saat ini Rp 11 ribu per kilo gram. Untuk harga beras mengalami kenaikan tipis yaitu untuk jenis yang semula sekitar Rp 10 ribu, saat ini sekitar Rp 13 ribu per kilo gram. Masyarakat khawatir dengan kemungkinan masih panjangnya musim penghujan maka harga berbagai kebutuhan akan semakin tinggi.

XS
SM
MD
LG